PADANG, METRO–Universitas Perintis Indonesia (Upertis) menggelar Dies Natalis ke-3 serta pengukuhan guru besar Prof. Dr. Hj. Suryani, M. Si, sebagai guru besar Bidang Ilmu Biokmia Program Study DIV Teknologi Laboratorium Medis Universitas Perintis Indonesia, Kamis (3/8).
“Penggabungan semua akademi-akademi yang ada di lingkungan Yayasan Perintis Padang ke dalam Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dan di tahun 2013 didirikan provinsi dinas, sehingga Yayasan Perintis Padang memiliki dua sekolah tinggi yaitu, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia Perintis Padang dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang pada tahun 2019 dan 2020,” ungkap Rektor Upertis, Yendrizal Jafri, di Convention Hall Gedung E Universitas Perintis Indonesia, Kamis (3/8).
Rektor juga menjelaskan, dilakukan penggabungan dua Sekolah Tinggi menjadi universitas dengan penambahan dua program studi yaitu, sarjana Ilmu Komunikasi dan sarjana Bisnis Digital Universitas Perintis Indonesia yang disingkat dengan Pupertis. Ini merupakan penggabungan dua Sekolah Tinggi sesuai dengan SK Kemendikbud tahun 2020 nomor 605 tanggal 30 Juni tahun 2020.”
“Hari jadi Upertis yaitu tanggal 30 Juni 2020, serta launching Upertis adalah 3 Agustus 2020 yang diresmikan oleh Gubernur Sumbar, Wali Kota Padang dan Yayasan Perintis Padang. Badan Penyelenggara Upertis adalah Yayasan Perintis Padang yang berdiri dari tahun 1988 dan terdaftar Menkum Ham No.No.AHU-0000442.AH.01.05.Tahun 2018,” ungkap Rektor Upertis, Yendrizal Jafri.
Menurut rektor, saat ini jumlah mahasiswa Upertis sekitar 2.630 orang, dan berasal dari 18 provinsi di Indonesia. Sampai sekarang Upertis sudah meluluskan sebanyak 12.060 orang lulusan.
Dimana, Fakultas Farmasi meluluskan sebanyak 2.814 orang dan Fakultas Ilmu Kesehatan sebanyak 9.202 orang lulusan.
“Saat ini, Upertis memiliki 109 dosen, 80 tenaga kependidikan serta Doktor 9 orang dan profesor 2 orang dosen, dan sertifikasi dosen sebanyak 61 orang. Sebanyak 50 dosen pendidikan lanjut doktoral diberbagai perguruan tinggi dalam rangka percepatan pengembangan SDM dosen. Yayasan berencana melakukan studi lanjut sebanyak 50% dari dosen yang ada sekarang ke berbagai perguruan tinggi,” pungkasnya. (cr1)






