JAKARTA, MERO–Polda Metro Jaya memastikan kegiatan ASEAN Queer Advocacy Week (AAW) yang diselenggarakan oleh Komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN tidak digelar di Jakarta. Hasil penelusuran aparat ke hotel-hotel tidak ada kegiatan tersebut.
“Enggak ada (tanda-tanda). Bahkan kan sudah diklaim enggak jadi kan di Jakarta. Pada waktu informasi itu muncul kita cek enggak ada,” kata Direktur Intelijen dan Keamanan (Dirintilkam) Polda Metro Jaya Kombes Pol Hirbak Wahyu Setiawan, saat dikonfirmasi, Kamis (13/7).
Selain itu, Polda Metro Jaya juga belum menerima surat permohonan izin keramaian dari penyelenggara AAW. Oleh karena itu, sejauh ini dipastikan acara tersebut tidak ada di Jakarta.
Akun media sosial yang mengumumkan acara tersebut pun sudah tidak aktif lagi. “Yang membuat undangan itu dari akun itu, sedangkan sekarang akun itu ditutup enggak bisa masuk ditutup gara-gara gaduh,” jelas Hirbak.
Sebagaimana diketahui, beredar informasi komunitas LGBT se-ASEAN akan menggelar kumpul bareng di Jakarta pada 17-21 Juli 2023 di Jakarta. Acara itu sempat diunggah akun Instagram @aseansogiecaucus.
Namun belakangan, unggahan dari akun @aseansogiecaucus telah dihapus baik pada story maupun thread-nya. Dari sederet konten yang telah diunggah sudah tidak ada informasi terkait acara tersebut.
Hirbak mengatakan, informasi masuk yang diterima akan diproses. Pengecekan pun dilakukan ke lokasi-lokasi yang berpotesi digunakan untuk kegiatan massa sesuai dengan pamflet yang beredar.
“Iya sedang kita cari tahu benar atau nggak. Kita cek di hotel juga nggak Ada, semua acara di hotel juga nggak ada di tempat lain nggak ada,” kata Hirban saat dihubungi, Rabu (12/7).
MUI Beberkan Bahwa LGBT
Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Siti Marifah, mengingatkan lima dampak berbahaya dari perilaku LGBT.
Pertama, dampak kesehatan. Penelitian mengungkapkan bahwa pelaku LGBT yang melakukan hubungan sejenis, berisiko terkena penyakit kelamin menular.
Lebih dari 70 persen pasangan homoseksual sangat rentan terkena penyakit kelamin menular.
Karenanya perilaku LGBT dari sisi kesehatan tidak dapat dibenarkan, perilaku ini akan memicu meningkatnya angka penyakit di tengah-tengah masyarakat.
Kedua, dampak sosial. Kiranya dampak sosial sebagai akibat perilaku LGBT cukup mengerikan. Terungkap bahwa seorang gay memiliki pasangan antara 20-106 orang per tahun.
Bandingkan dengan seseorang yang mempunyai pasangan zina yang “hanya” 8 orang seumur hidup.
Lebih jauh, 43 persen dari kelompok gay yang berhasil didata dan diteliti menyatakan bahwa selama hidupnya, mereka melakukan hubungan sesama jenis dengan lebih dari 500 orang.
Bahkan 28 persen melakukannya dengan 1000 orang. Hal ini tentu akan mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat.
Ketiga, dampak pendidikan. Akibat mudahnya akses informasi dari luar, paham kebebasan tanpa aturan atau norma semakin mudah menjangkiti generasi penerus bangsa. (jpg)






