BERITA UTAMA

Zhilan Zhalila Sutradara Terbaik Pertemuan Teater Jilid II di FIB Unand

0
×

Zhilan Zhalila Sutradara Terbaik Pertemuan Teater Jilid II di FIB Unand

Sebarkan artikel ini
TEATER— Drama berjudul “Tempat Pelepasan Suara” yang disutradarai Zhilan Zhalila ditampilkan dalam Pertemuan Teater se-Kota Padang Jilid II, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand.

PADANG, METRO–Pertemuan Teater se-Kota Padang Jilid II, di Medan Nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand, memberikan darah segar untuk dunia teater di Sumbar.

Kegiatan ini, mulanya ujian praktek mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand, dalam mata kuliah Kajian Drama. Pada ke­sempatan tersebut diun­dang penampilan komuni­tas teater mahasiswa se-Kota Padang lainnya yang berlang­sung, Sabtu-Rabu (1-5/7).

Menurut Ketua Teater Langkah Muhammad Fad­li, Teater Langkah merupa­kan UKM Teater di FIB, terus berupaya menye­suai­kan diri dengan kea­daan lingkungan tempat berproses dari hari ke hari, agar tidak lapuk dimakan zaman.

“Pertemuan Teater se-Kota Padang Jilid II ber­langsung sukses. Kesuk­sesan itu tentunya tidak terlepas dari dukungan pihak-pihak yang terlibat dalam acara ini,” katanya.

Rangkaian kegiatan dia­wali dengan seminar teater, diselenggarakan di ruang seminar Fakultas Ilmu Bu­daya Universitas Andalas. Menghadirkan narasumber dosen pengampu mata k­u­liah kajian drama Dr Syafril MSi, Rizky Amelia Furqan SS, MA dan Andina Meutia Ha­wa MHum.

Malamnya pemetasan teater, “Nurani dan Legiti­masi”.  Hari kedua, seminar dan pementasan. Begi­tu seterusnya. Pemen­tasan “Bak”, disutradarai Angke Wafaiqoh menjadi penutup Pertemuan Teater Se-Kota Padang Jilid II.

Dari sejumlah drama yang ditampilkan, garapan berjudul “Tempat Pelepa­san  Suara” yang disutra­darai Zhilan Zhalila, diang­kat dari naskah teater Prel T, memboyong tiga dari em­pat gelar yang dise­diakan.

Ketiga gelar tersebut,  sutradara terbaik Zhilan Zhalila, aktor terbaik Mu­hammad Joedhy Al Shad­diq dan grup terbaik. Artis terbaik, Maharani Ramona dalam  garapan “Nurani” yang disutradarai Bunga Angelia.

“Sejujurnya, di Sastra Indonesia sendiri dari Hi­ma cukup sering menga­dakan penampilan ber­main peran gini. Tapi buat aku, membawakan naskah karya penulis besar seba­gai aktor atau bisa aku bilang naskah serius itu baru pertama kali. Kalau ditanya soal deg-degan, jelas ada. Perasaan takut lupa dan salah dialog pas tampil, takut nggak bisa fokus sama karakter sen­diri karena terpengaruh karakter aktor lain. Aduh, banyak pokoknya. Ditam­bah lagi misal pas tampil nggak sesuai harapan, ke­ce­wa banget mengingat latihan persiapan buat aca­ra PTMSP ini pun hampir lima bulan lamanya,”  ucap Bunga yang tampil sebagai Ibusuri dalam “Roh” karya Wisran Hadi. (*)