METRO SUMBAR

Langgai yang Selalu Diguyur Hujan saat Tamu Datang

0
×

Langgai yang Selalu Diguyur Hujan saat Tamu Datang

Sebarkan artikel ini
IMG 20230702 WA0003
JALAN TANAH—Kondisi jalan tanah menuju Jorong Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pessel.

Oleh: Swari Arfan

Cuaca cerah Kamis sore (29/6) mendadak be­rubah berwarna gelap di Jorong Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Langit yang terlihat mendung mulai menitikkan air membasahi bumi. Seketika Langgai pun langsung diguyur hujan. Bagi ma­syarakat Langgai, turunnya hujan hari itu tidak terasa asing. Hujan selalu turun setiap ada tamu yang datang ke jorong tersebut. Wali Nagari Gantiang Mudiak Utara Surantiah, Zulhadi mengatakan, masyarakat sudah terbiasa dengan hujan, saat ada tamu dari luar datang. Konon, menurut mitos yang masih hidup di tengah masyarakat Langgai, saat ada tamu dari luar (orang asing) yang masuk ke kampung itu, akan selalu di­iringi oleh hujan. Sore itu, hujan turun bertepatan dengan kedatangan Rombongan Gubernur Suma­tera Barat (Sumbar), Mah­yeldi Ansharullah ke jorong tersebut.

Untuk menuju Jorong Langgai di Nagari Ganting Mudiak Utara itu bukanlah hal mudah. Sebelumnya harus melewati Nagari Ampalu Gantiang Mudiak Selatan Surantih. Dari Ampalu, melewati jembatan gantung berwarna kuning yang panjangnya 140 me­ter. Jembatan itu terpanjang nomor dua di Sumbar setelah Jembatan Sungai Dareh. Di bawah jembatan itu ada aliran sungai yang cukup lebar.

Jembatan itu hanya bisa dilalui mobil satu jalur. Jadi kalau mau melewati jembatan itu, harus antri mobil satu per satu. Rasa was-was juga akan terasa melewati jembatan tersebut, karena terasa bergo­yang terasa mau jatuh ke bawah.

Setelah melewati jembatan itu, kemudian melalui tantangan medan jalan yang cukup berat sepanjang puluhan kilometer. Kondisi jalan tanah berlumpur, dengan tanjakan dan penurunan terjal di daerah perbukitan mengancam pengendara nyawa lewat. Apalagi di pinggir jalan ada jurang yang di bawahnya terdapat aliran sungai deras dan perbukitan rawan longsor.

Di beberapa bagian jalan, juga terdapat beberapa badan jalan yang su­dah dibeton, kondisinya terputus-putus. Karena sudah berumur puluhan tahun, beton jalan sudah hancur, menyisakan batu-batu kerikil-kerikil tajam. Menjelang menuju Jorong Langgai, harus melewati Jorong Batu Bala dengan kondisi jalan berdebu dan dipenuhi kerikil tajam. Melewati  jorong ini ditemukan rumah penduduk cukup padat. Beberapa rumah terlihat sudah permanen dan juga terlihat ada yang masih berdindingkan papan beralaskan tanah. Di Jorong Batu Bala ini, dapat  menyaksikan puluhan ternak sapi di tengah jalan yang dilepas peternak. Bahkan kehadiran ternak sapi itu membuat pengendara harus ekstra bersabar, menunggu pemiliknya menggiring sapi-sapi itu ke pinggir jalan. Jorong ini salah satu penghasil sapi terbesar di Sumbar. Selain itu juga terdapat gambir yang dijemur warga di pinggir jalan. Setelah melewati jorong ini, barulah melewati Jorong Langgai di Nagari Gantiang Mudiak U­tara. Jalan di sepanjang jorong ini kondisinya sama, berlumpur dan kerikil ta­jam akibat beton jalan su­dah rusak.

Baca Juga  Jalan Lingkar Duku Menuju Sicincin, Mahyeldi masih Berjanji Pelajari dan Lihat Ketersedian Dana

Tokoh Masyarakat Lang­gai, Dalisman mengatakan, jika hujan turun, badan jalan menuju Langgai ini menjadi berlumpur. Ini makin mempersulit untuk diakses warga. Lantas kondisi ini membuat jarak temput dari Langgai ke Pasar Surantih bisa dicapai dengan waktu 3 jam.

Dikatakannya, jalan mu­lus impian masyarakat yang belum terwujud. Jika saja akses jalan sudah lancar, maka pendapatan ma­syarakat Langgai me­ning­kat. Apalagi hingga kini, daerah tersebut juga tidak ada akses internet. Kondisi itu menyulitkan masya­rakat mendapatkan informasi dari luar. Saat berada di jorong ini akan dapat menyaksikan perbukitan hijau yang asri di kiri dan kanan jalan. Juga terdapat pemandangan hijau hamparan sawah di kiri dan kanan sepanjang jalan. Di jorong ini juga ditemukan aliran sungai yang jernih yang diapit batu-batu besar di pinggirnya. Di kaki gunung ditemukan ladang gambir, kebun durian, ka­ret dan sawit warga. Inilah sumber penghidupan warga. Sungai juga menjadi sumber penghidupan warga dengan adanya ikan garing, mungkuih dan lainnya.

Penduduk di Langgai hanya sekitar 3.069 jiwa, atau sekitar 678 kepala keluarga (KK). Semua punya usaha berladang. Mereka bertahan di sana juga karena hasil ladang itu.

Jali Annur, salah seo­rang Warga Langgai me­ngatakan, penghasilan uta­ma warga di Langgai berladang gambir. Saat ini harga gambir lagi bagus-bagusnya. Untuk gambir yang kering dengan kualitas bagus harganya mencapai Rp100 ribu per kilogram. Yang paling rendah harganya Rp45 ribu per kilogram. “Selain gambir juga ada durian, padi, nilam dan banyak lagi hasil ladang lainnya. Hasil la­dang ini dijual ke Pasar Surantih yang hari balai­nya setiap hari Minggu. Di sini juga ada ikan garing dan mungkuih yang bisa diambil bebas kapan saja,” ungkapnya.

Baca Juga  Setelah Dievaluasi, Sistem Satu Arah Diberlakukan 24 Jam

Rombongan Gubernur Sumbar Datang

Rombongan Gubernur Sumbar telah sampai di Jorong Langgai sore jelang Magrib. Kehadirannya rom­bongan ini disambut hujan. Meski demikian, ribuan warga yang berkumpul sepanjang jalan di depan Masjid Darul Ihsan di Langgai sore itu tetap bertahan. Mereka rela ber­­hujan-hujanan me­nyam­but kedatangan rombongan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah.  Diiringi suara raungan mobil patwal yang mengawal kedatangan rombongan nomor satu di Sumbar itu terdengar. Terlihat di belakang mobil patwal, Mahyeldi bersama rombongan datang dengan menaiki motor trabas.

Kemudian di belakangnya beriringan mobil dinas pejabat Pemprov Sumbar. Jalan yang sempit pun penuh sesak oleh warga dan mobil-mobil pelat merah yang parkir. Mereka menyambut dengan suka cita kedatangan Mahyeldi dan rombongan. Rombo­ngan Gubernur Sumbar kemudian menuju sebuah balai di samping masjid. Tidak ada meja dan bang­ku. Hanya lantai beralaskan karpet salat. Rombo­ngan Gubernur Sumbar yang disambut Ninik Mamak, Cadiak Pandi, Alim Ulama dan Tokoh Adat, Pemuda pun duduk bersila di balai yang tidak terlalu besar itu.

Sementara, di luar hujan semakin deras. Warga yang telah puas melihat kehadiran Gubernur Sumbar pun satu per satu mulai meninggalkan lokasi, mereka kembali pulang menuju rumah masing-masing. Sementara, Dinas Sosial Provinsi Sumbar melalui Relawan Tagana dan Petugas BPBD Sumbar pun sigap mengoperasikan dapur umum yang telah disiapkan di atas mobil operasional. Alhasil kopi hitam dan pisang dan ubi goreng yang dimasak langsung disajikan kepada rombongan Gubernur Sumbar. Setelah menikmati gore­ngan sambil menyeruput kopi panas, Rombongan Gubernur Sumbar istirahat dan mengganti pakaian yang kotor akibat lumpur jalan. Mereka bersiap-siap melaksanakan salat Mag­rib.

Kedatangan Rombo­ngan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah ke Langgai hari itu, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1444 H. Mahyeldi datang ke Langgai selain i­ngin menebar 2 ekor sapi dan tiga ekor kambing kurban, juga ingin melihat langsung kondisi masyarakat di da­erah yang termasuk  dae­rah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).(fan)