METRO PADANG

Andre Rosiade: Program Revitalisasi Cegah Pasar Rakyat Ditinggal Pembeli

0
×

Andre Rosiade: Program Revitalisasi Cegah Pasar Rakyat Ditinggal Pembeli

Sebarkan artikel ini
Andre Rosiade Program Revitalisasi Cegah Pasar Rakyat Ditinggal Pembeli
SOSIALISASI— Anggota DPR RI Sumbar Andre Rosiade membuka secara virtual Sosialisasi Kebijakan Sarana Perdagangan dan Logistik di Hotel Mercure Padang, Senin (19/6).

PADANG, METRO–Anggota DPR RI asal Sumbar Andre Rosiade membuka secara virtual So­sialisasi Kebijakan Sarana Perda­gangan dan Logistik di Hotel Mercure Padang, Senin (19/6). Sosialisasi ter­sebut menghadirkan dua orang nara­sumber yakni Kepala Dinas Per­daga­ngan dan Perindustrian Provinsi Sum­bar Novrial dan seorang pelaku usaha Elyzawati pemilik Reffans House.

Dalam sosialisasi yang dise­leng­garakan Direktorat Sarana Per­da­ga­ngan dan Logistik Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Ne­geri Kementerian Perda­gangan (Kemendag) itu, Andre Rosiade menga­takan, Kemendag saat ini melakukan pembangunan dan revitalisasi pasar rak­yat dalam upaya mening­katkan kelancaran distri­busi dan ketersediaan ba­rang kebutuhan pokok dan barang penting.

Program ini kata Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar ini, termaktub dalam Undang-Undang No.7 Ta­hun 2014 tentang Perdaga­ngan.

Revitalisasi pasar rak­yat kata Andre, bertujuan untuk meningkatkan citra pasar rakyat. Pembangunan atau revitalisasi ini mencegah pasar rakyat ditinggalkan pembelinya karena kalah saing dengan pasar modern yang tertata baik.

“Alhamdulillah. Aspirasi kami terkait revitalisasi pasar di Kota Padang telah berjalan, antara lain Pasar Belimbing Kuranji dan ta­hun ini Insya Allah Pasar Ulak Karang,” tutur Ketua Harian DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) di hadapan peserta sosialisasi dan ketua panitia yang juga Wakil Ketua DPD Gerindra Sumbar Nurhaida, dan Wa­kil Bendahara DPD Gerindra Sumbar Joni Rusjan.

Andre yang merupakan anggota Komisi VI DPR RI ini juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perdagangan yang telah memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada konstituennya untuk hadir dalam kegiatan sosialisasi program-program kementerian perdagangan.

“Dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim saya membuka Kegiatan Sosialisasi Kebijakan Sarana Perdagangan dan Logistik Kementerian Perdagangan di Padang, Su­ma­tera Barat,” sebut Andre.

Sementara itu dalam pemaparannya, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Sumbar Novrial menjelaskan, pemerintah provinsi Sumbar tengah berupaya untuk mengembalikan kejayaan Sumbar sebagai daerah yang dulunya menjadi pusat perdagangan di wila­yah Sumatera khususnya Sumatera Bagian Tengah.

Baca Juga  PDI-P Padang Rayakan HUT ke 51 Bersama Wong Cilik

Menurutnya, ada enam indikator atau syarat yang mes­ti dipenuhi un­tuk dapat me­wujudkan kem­bali Sumbar menjadi pu­sat perdaga­ngan di wilayah Su­matera itu.

Pertama, ka­ta Novrial, ada­lah komoditi perdagangan. Untuk men­­­jadi pusat per­­dagangan, Sumbar ha­rus memiliki komo­diti perdagangan yang lebih banyak dan le­bih baik diban­dingkan dengan provinsi tetangga lainnya.

Indikator kedua adalah pelaku perdagangan. Sumbar harus mempunyai ba­nyak pelaku perdagangan dibanding daerah lain.

“Se­­berapa banyak pelaku perdagangan yang kita miliki dibandingkan dengan Riau, Jambi, Bengkulu dan Sumut. Kemudian seberapa banyak eksportir kita diban­ding daerah lain. Kalau kita punya pelaku perdagangan yang lebih banyak dari daerah tetangga lain, maka kita bisa menjadi pusat perdagangan di wilayah Sumatera,” katanya.

Kemudian, indikator ketiga berhubungan dengan dukungan sarana dan prasarana. Apakah jumlah pasar dan perusahaan angkutan kita lebih banyak dari daerah lain. Kemudian apakah Pelabuhan Teluk bayur kita lebih banyak mengeluarkan barang untuk diekspor. Termasuk dengan BIM, apakah banyak aktifitas ekspor antar pulau yang dilakukan lewat bandara. “Ini menjadi catatan kita, kalau memang Sumbar ingin jadi pusat perdagangan terkemuka di wilayah Sumatera, semua hal ini harus terpenuhi du­lu,” tuturnya.

Lalu, indikator keempat adalah dukungan dari lembaga-lembaga di sektor perdagangan. Ada Kadin, Gapkindo, Apindo, dan lain sebagainya. “Termasuk dukungan serta keterlibatan perguruan tinggi, fasilitasi perbankan dan lembaga-lembaga yang bergerak di sektor perdagangan lainnya,” imbuhnya.

Kelima, adanya pengakuan lewat sertifikasi. Sumbar katanya, banyak mendapatkan pengakuan dalam sektor perdagangan baik di tingkat nasional maupun internasional. Sa­lah satu contoh produk yakni rendang. “Ini harus terus didorong, bagaimana komoditi dan produk dari sektor perdagangan ini lebih banyak mendapatkan pengakuan atau serfitikasi,” sebutnya.

Baca Juga  Momen Pergantian Tahun, Pandemi, Kondom tak Laris Lagi di Kota Padang

Indikator terakhir, kata Novrial adalah atensi program dan kegiatan. “Ini perlu kita kaji, apakah dinas perindang di provinsi, ka­bupaten dan kota mendapatkan atensi dari pemerintah lebih banyak. Baik itu dalam bentuk program, kegiatan maupun anggaran,” jelasnya.

Narasumber lain Elyzawati yang juga seorang pelaku usaha, dalam pemaparannya membagikan kiat-kiat menjadi entrepreneur atau pengusaha. Me­nurut pemilik Reffans Hou­se ini ada lima modal dasar yang perlu dimiliki oleh seseorang agar bisa menjadi seorang pengusaha.

Pertama kata perempuan yang akrab disapa Bunda Een Reffans itu, seseorang harus memiliki keyakinan. Seseorang ha­rus memiliki keyakinan bahwa Tuhan yang memberi rezki dan yakin dengan kemampuan diri sendiri. “Keyakinan terhadap diri sendiri akan menimbulkan kepercayaan diri,” ujar Ketua Harian Forum UKM Sumbar ini.

Kedua, sambung Elyzawati, seseorang harus memiliki semangat. “Semangat menjadi entrepreneur ini harus besar,” imbuh pensiunan Dinas Pendidikan Sumbar ini.

Lalu, modal ketiga yakni harus punya brand atau merek sendiri. Kalau ingin sukses, katanya kita harus beda dari orang lain. “Kita harus mampu bikin pasar sendiri. Produk kita harus beda dari produk orang,” sebutnya.

Kemudian, modal keempat adalah suguhkan yang orang butuhkan. “Bi­kin packaging (kemasan) yang menarik. Sesuatu yang mampu menarik orang lain untuk membeli,” ujarnya.

Modal terakhir kata Elyzawati adalah hilangkan semua ketakutan. “Ta­kut merugi, takut tidak terjual dan ketakutan lainnya. Yang tidak boleh itu, takut kaya,” katanya sembari tertawa. (*)