BERITA UTAMA

Gelar Teknologi Penas XVI KTNA Bawa Berkah, Sumbar Mendapat Bantuan Pabrik Mini Minyak Goreng dari Kementan

0
×

Gelar Teknologi Penas XVI KTNA Bawa Berkah, Sumbar Mendapat Bantuan Pabrik Mini Minyak Goreng dari Kementan

Sebarkan artikel ini
MENINJAU Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah melalui Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Holtikultura, Febrina Tri Susila Putri didampingi Plt Kepala Biro Adpim Setdaprov Sumbar, Marwansyah meninjau Pamigo di Gelaran Teknologi di Penas XVI KTNA di Lanud Sutan Sjahrir Padang, Senin (12/6).

PADANG, METRO–Gelar tekhnologi yang hadir pada Pekan Nasional (Penas) XVI Kontak Tani dan Melayan Andalan (KTNA) membawa berkah bagi petani di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar men­dapat bantuan Pabrik Mini Minyak Goreng (Pamigo) dari Pemerintah Pusat me­lalui Direktorat Pengolahan dan pemasaran Hasil Per­kebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan).
Gubernur Sumbar, Mah­yeldi Ansharullah melalui Kepala Dinas Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Holtikultura, Febrina Tri Susila Putri didampingi Plt Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setdap­rov Sumbar, Marwansyah berkesempatan meninjau Pamigo yang hadir pada Gelaran Teknologi di Penas XVI KTNA di Lanud Sutan Sjahrir Padang.
Febrina mengungkapkan, teknologi yang digunakan Pamigo ini akan dimanfaatkan oleh petani di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). “Teknologi Pamigo ini harganya Rp4 miliar. Bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian untuk Sumbar,” ungkap Febrina didampingi Marwansyah saat meninjau Pamigo di Penas XVI KTNA di Lanud Sutan Sjahrir Padang, Senin (12/6).
Pamigo ini menurutnya bisa dimanfaatkan untuk skala petani di Sumbar. “Jika biasanya sawit ini yang menang dikelola oleh perusahaan besar-besar. Petani menjual sawit ditentukan oleh perusahaan besar. Kalau sudah punya pabrik kecil-kecil seperti ini bisa mengelola sendiri,” ungkap Febrina.
Hasil olahan dari Pamigo ini nantinya berupa crude palm oil (CPO). Nan­tinya setelah menjadi CPO lalu diolah sekali lagi dalam satu tempat yang sama di pabrik untuk menjadi minyak goreng. “Jadi dilakukan pengolahan sekali lagi da­lam satu tempat dan hasilnya berupa minyak go­reng,” ungkapnya.
Febrina mengungkapkan, dari 6 sampai 7 ton tandan buah segar sawit yang masuk ke Pamigo nanti, bisa menghasilkan 1 ton minyak goreng yang sudah bisa dipacking.
Untuk operator Pamigo ini dilaksanakan secara kelompok. Karena teknologi Pamigo ini masih baru, maka kelompok ini akan dilatih terlebih dahulu oleh Kementan.
“Setiap bantuan pemerintah diterima oleh kelompok. Nantinya kelompok inin ada kriterianya, misalnya luas lahan sawitnya ditentukan sesuai luas minimal. Selain itu, kelompok tersebut juga dekat dengan kawasan sawit. Termasuk juga keaktifan, terdaftar atau terigisternya. Untuk Pamigo di Pessel ini Calon Penerima Calon Lokasi (CPCL)-nya sudah ada. Yakni, kelompok di Pessel,” ungkapnya.
Hadirkan Smart
Green House
Selain mendapatkan bantuan Pamigo, di Provinsi Sumbar juga nanti akan hadir Smart Green House. Yakni pembibitan dalam skala besar yang juga berada di dekat Pamigo di Kabupaten Pessel.
Smart Green House ini menyediakan pembibitan organik. Sehingga dengan menggunakan bibit organik tidak ada serangan hama penyakit terhadap komoditi pertanian nantinya.
Dengan adanya bibit organik ini, maka hasil tanaman produksi pertanian tidak menggunakan pestisida lagi. Sehingga kualitasnya dapat diterima oleh pasar luar negeri.
Untuk Smart Green Hou­se kelompoknya berada di Kota Padang. “Kelompok yang di Padang ini telah memproduksi berma­cam bibit, buah dan bunga dan sudah CPCL. Setelah CPCL siap untuk menerima pelatihan dari Kementan,” terangnya.
Smart Geen House ini sangat menarik. Di mana produksi pertanian di Sumbar selama ini sudah cukup tinggi. Namun, secara kualitas masih menggu­nakan pestisida yang banyak. Terutama produk Holtikultura.
Di mana Sumbar masuk produsen nomor 4 terbesar di Indonesia untuk produk bawang merah, cabai sayuran. Seperti bawang merah, jika gagal panen saja, maka berdampak Sumatera tidak dapat bawang merah. “Makanya gagal panen bawang merah berdampak inflasi cukup tinggi,” terangnya.
Saat kualitas komoditi holtikultura dicek, ternyata komoditi asal Sumbar peptisidanya terlalu tinggi. Kelebihan produksi ini yang seharusnya bisa ekspor, tidak bisa dilakukan karena terkendala quality control. Meski demikian produksi holtikultura masih terserap oleh provinsi tetangga. Seperti Riau, Kepri, Bengkulu Jambi pasokan pertanian dari Sumbar.
Febrina menyambut baik hadirnya Smart Geen House di Kabupaten Pessel ini. Karena memang Pemprov Sumbar saat ini konsen dengan organik.
“Karena selama ini organik ini penting, karena sehat bagi pelaku pertanian bukan bagi kita yang konsumsi. Banyak masyarakat petani yang menderita kanker karena mengkonsumsi sayuran yang mengandung pestisida. Kita harus menyediakan produk pertanian yang sehat,” terangnya.
Febrina juga menambahkan pentingnya penerapan organik, karena di dalam pertanian, dikenal dengan tiga PKS. Yakni, pengetahuan keterampilan dan sikap.
“Namun, yang paling berat itu merubah sikap, dia tahu paham dan ahli tapi tidak mau melakukan. Tugas penyuluh merubah sikap ini. Karena pupuk organik ini proses lamanya dibandingkan menggu­na­kan pestisida,” terangnya. (AD.ADPSB)