SOLOK, METRO–Taruna Latsitardanus diperkenalkan berbagai macam budaya dan tradisi masyarakat Kota Solok. Setidaknya masyarakat Kelurahan IX Korong Kota Solok mengenalkan tradisi Malamang kepada Taruna Latsitardanus XLIII.
Kegiatan yang digagas bersama oleh masyarakat Kelurahan IX Korong dengan diikuti Taruna Latsitardanus dari Kompi B sebanyak 46 orang. 39 orang taruna yang mempunyai orang tua asuh di Kelurahan IX Korong, dan 7 orang yang menginap di Kelurahan Sinapa.
Ketua panitia penyelenggara kegiatan IX Korong Malamang, sekaligus Ketua LPMK Kelurahan IX Korong Mezi Okluza mengungkapkan kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi kepada peserta Latsitardanus XLIII.
“ Sekaligus ini sebagai bentuk apresiasi kepada taruna Latsitardanus, semoga tradisi ini selalu diingat oleh peserta Latsitardanus saat mereka kembali ke tempat bertugas nantinya,” tambah Mezi.
Kegiatan malamang ini lanjutnya terselenggara dari keinginan masyarakat Kelurahan IX Korong, termasuk dari segi pendanaan yang berasal dari swadaya Masyarakat. Acara pengenalan tradisi ini tumbuh dari masyarakat.
Rusli selaku tokoh masyarakat mengatakan, dalam kegiatan malamang ini banyak filosofi yang bisa didapatkan. Filosofi, pertama, badiang mangkonya masak artinya butuh usaha dan upaya dalam mendapatkan hasil yang diinginkan. Selanjutnya dalam kegiatan malamang ini menumbuhkan kekompakan dan kebersamaan, sehingga “saciok bak ayam sadanciang bak basi” dapat diwujudkan dalam kehidupan.
“Lamang semakin disangai semakin baminyak ini menunjukkan karakter orang Minang semakin berumur maka bertambah pula lah ilmu dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Malamang bagi masyarakat Minang bukan hanya kegiatan memasak semata, lebih dari itu ada nilai kebersamaan dalam kegiatan malamang ini.
Sebab dari itu tradisi malamang tidak bisa dikerjakan satu orang saja dari menyiapkan bahan hingga lamang siap disajikan. Kegiatan malamang ini mempunyai tahapan tahapan dalam pelaksanaan. Diantaranya, tahapan manalang, yaitu proses mencari talang (bambu) sebagai wadah adonan ketan yang nantinya akan dimasak. selanjutnya tahapan mancari kayu, yaitu kegiatan mencari kayu bakar untuk memasak lamang.
Tahapan ketiga managakan gaduang gaduang, kegiatan ini dilaksanakan dengen menyiapkan tempat memasak lamang, sehingga ibu-ibu yang berugas memasak tidak merasa kepanasan, pada tahapan ini juga didirikan tiang penyangga yang nantinya digunakan untuk sandaran bambu tempat lamang dimasak. Tiga tahapan ini pelakasanaanya dilakukan oleh kaum-laki laki, selanjutnya ada tahapan mempersiapkan adonan dan tahapan akhir, maapi yang dilakukan oleh kaum ibu atau bundo kanduang. (vko)





