JAKARTA, METRO–Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis survei elektabilitas calon presiden (capres) pada Pemilu 2024. Dalam simulasi tiga nama, elektabilitas Menhan Prabowo Subianto mencapai 38%, disusul Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan eks Gubernur DKI Anies Baswedan.
Survei ini digelar pada 26-30 Mei 2023 terhadap 1.230 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening. Survei dilakukan melalui panggilan telepon oleh pewawancara yang dilatih.
Pemilihan sampel dilakukan dengan metode random digit dialing (RDD). RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Adapun margin of error survei +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%.
Responden diberi pertanyaan ‘Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, siapa yang akan Ibu/Bapak pilih sebagai presiden di antara nama-nama berikut?’. Hasilnya, Prabowo menempati posisi tertinggi dengan angka 38%.
Di urutan kedua, ada bakal capres Ganjar Pranowo dengan 34,2 persen. Sedangkan bakal capres Anies baswedan tertinggal jauh di angka 18,9 persen.
“Jadi trennya tidak berubah, Mas Anies tren penurunannya belum berhenti sejak awal 2023, sementara Pak Prabowo keunggulannya sedikit lebih tinggi tetapi masih kisaran margin of error dengan Ganjar Pranowo,” kata peneliti utama Indikator Burhanuddin Muhtadi dalam konferensi pers secara virtual, Minggu, (4/6/).
Kemudian, survei Indikator menyodorkan simulasi 3 nama semi terbuka dengan mengganti Anies Baswedan menjadi Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Hasilnya, Prabowo tetap unggul 47,6% dan Airlangga berada di urutan ketiga dengan persentase 3,5%.
Burhanuddin menyebut berdasarkan hasil survei, bila Anies tidak mendapat tiket Pilpres 2024, pendukungnya akan lari ke Prabowo. Hal itu, kata Burhanuddin menjadi kabar baik untuk Prabowo.
“Kalau Anies tidak dapat kendaraan untuk maju 2024 itu pendukungnya lebih banyak lari ke Pak Prabowo, Pak Prabowo langsung nambah segini, jadi kalau Anies tidak maju kabar baik banget buat Pak Prabowo,” kata Burhanuddin.
Berdasarkan demografi dan wilayah pemilih, Prabowo unggul di basis pemilih pemula dan usia produktif, Sunda, Madura, Bugis, Melayu, Muslim, petani/nelayan, dan ibu rumah tangga.
Sementara Ganjar Pranowo unggul di kalangan pemilih 22-25 tahun dan tua, Jawa, Batak, dan non-Muslim. Sedangkan Anies Baswedan unggul di kalangan pemilih Betawai dan Minang.
Dalam hal basis partai, Prabowo unggul pada basis Gerindra (75,3 persen), PKB (57,2 persen), Golkar (51,0 persen), dan Perindo (49,6 persen). Sedangkan Ganjar Pranowo unggul pada basis PDIP (65 persen), NasDen (52 persen), dan PPP (50,0 persen).
Hal ini cukup unik, lantaran Anies Baswedan merupakan partai yang diusung oleh NasDem. Di NasDem sendiri, Anies Baswedan mendapat 34,5 persen, cukup jauh dari Ganjar Pranowo.
Anies Baswedan unggul pada basis PKS (51,9 persen), PAN (50,4 persen), dan Demokrat (40,6 persen). Meski tidak unggul, Prabowo Subianto rupanya mendapat angka basis partai cukup tinggi di sejumlah partai lainnya.
Seperti di PDIP Prabowo mendapat 24,6 persen, PKs 27,3 persen, PAN 31,0 persen, Demokrat 31,9 persen, dan PPP 42,5 persen. Adapun survei ini menyasar WNI berusia 17 ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon, sekitar 83 persen dari populasi nasional. (jpg)






