GN.PANGILUN, METRO–Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) menggelar wisuda ke-3 (66) Tahun Akademik 2022/2023, di gedung Gedung STKIP Convention Center (SCC), Sabtu (13/5). Ada 330 orang wisudawan dari 12 prodi yang diwisuda.
“Atas nama pimpinan dan seluruh civitas akademika Universitas PGRI Sumatera Barat, saya dengan bangga mengucapkan selamat atas keberhasilan saudara dalam menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana,” ucap Rektor UPGRISBA, Prof. Dr. H. Ansofino, M.Si.
Diketahui, sejak berdirinya, UPGRISBA telah mewisuda sebanyak 24.474 orang. Di tahun 2023, Upgrisba kembali menggelar wisuda, dari 330 orang itu, wisudawan prodi terbanyak yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan jumlah 60 orang, selanjutnya diikuti oleh prodi Pendidikan Bahasa Inggris sebanyak 45 orang.
Kemudian, dari prodi Pendidikan Biologi sebanyak 33 wisudawan, Pendidikan Matematika 35 wisudawan, Pendidikan Informatika ada 31 wisudawan. Selanjutnya, Pendidikan Sejarah 13 orang, Pendidikan Geografi 15 orang, Bimbingan & konseling 30 orang.
Dari prodi Pendidikan Sosiologi ada 23 wisudawan, prodi Pendidikan Ekonomi 39 wisudawan. Sementara prodi dengan jumlah wisudawan paling sedikit diisi Pendidikan Akuntansi dan Pendidikan Fisika dengan masing-masing jumlahnya adalah 4 dan 2 orang.
Menurut rektor, alumni UPGRISBA memiliki cukup daya saing di dunia kerja. Sebelum dilantik, alumni UPGRISBA sudah dibekali dengan soft skill yang diberikan melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggakan oleh kampus, agar dapat menjadi modal bagi lulusan UPGRISBA dalam meniti karir di lapangan kerja.
“Dengan ketatnya persaingan di lapangan kerja, kami sudah membekali para wisudawan. Terakhir, kampus mengadakan pembekalan alumni yang bertujuan untuk meningkatkan taraf. Setelah akademiknya bagus, itu juga belum menjamin keberhasilannya di dunia kerja, untuk itu kami membekali mereka dengan soft skill,” kata Ketua Pengurus Badan Pelaksana Harian (BPH) Dr. H. Dasrizal, MP.
Sementara Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd berpendapat, bahwa kecerdasan buatan dengan peran guru tidak bisa di gantikan. Saat ini, teknologi dengan segala macam kecanggihannya membuat pola belajar yang yang di alami masa lalu yang di selenggarakan secara konvensional sudah jauh berubah.
“Sekarang ini peran guru lebih ke motivator, inspirator. Guru akan lebih sukses jika mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, dan kebaikan-kebaikan. Karena itu tidak mungkin diajarkan oleh mesin,” ucapnya.
Guru tidak mungkin akan bersaing dengan mesin dalam hal hafalan dan hitungan. Mesin jauh lebih cerdas, cepat dan efektif, karena sudah di program untuk itu. (cr2)






