BERITA UTAMA

Penculikan Anak di Padang Ternyata “Prank”, Siswi SD Bikin Cerita Bohong karena Terlambat Sekolah, Tas dan Sepatu Dibuang agar Orang Percaya

0
×

Penculikan Anak di Padang Ternyata “Prank”, Siswi SD Bikin Cerita Bohong karena Terlambat Sekolah, Tas dan Sepatu Dibuang agar Orang Percaya

Sebarkan artikel ini
MINTA MAAF— Rina, orang tua Z yang membuat cerita bohong soal dirinya diculik saat berangkat ke sekolah menyampaikan permintaan maaf.

PADANG, METRO–Warga se-Kota Padang terkena prank oleh kasus penculikan yang dialami oleh siswi SD di Kecamatan Lubuk Begalung. Pasalnya, aksi penculikan yang menghebohkan masyarakat pada Senin (30/1) kemarin, ternyata hanya cerita yang direkayasa.

Awalnya, siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 14 Gurun Laweh, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang mengaku nyaris menjadi korban aksi penculikan saat hendak berangkat sekolah. Setelah ditelusuri Polisi, ternyata kejadian tersebut adalah bohong atau tidak benar.

Anak yang berinisial Z (12), yang merupakan warga Ampalu tersebut mere­kayasa kejadian penculikan yang dialaminya. Anak ter­sebut akhirnya mengakui nekat mengarang cerita penculikan lantaran takut masuk sekolah hari itu. Namun, tersebarnya informasi penculikan itu sudah keburu membuat masyarakat Kota Padang heboh.

Atas ulah anaknya itu, orang tua Z,  bernama Sabrina menyampaikan permintaan maaf atas apa yang dilakukan anaknya dan membuat Kota Pa­dang menjadi resah. Selain itu, ia mengaku dapat informasi dari Polisi bahwa anaknya sekarang berada di Polsek Lubeg perihal rekayasa penculikan tersebut.

“Saya minta maaf se­besar-besarnya kepada masyarakat atas apa yang dilakukan oleh anak saya. Apa yang dikatakan anak saya tentang penculikan tersebut adalah bohong,” ujarnya.

Rina mengaku anaknya mengarang cerita karena sang anak takut dihukum di sekolah karena terlambat.  Atas cerita tidak benar itu, keluarga Rina dan warga Kota Padang ikut panik.

“Saat ditanya di rumah, anak saya hanya mengaku karena takut terlambat makanya dia berbicara seperti itu. Sebetulnya anak­nya adalah pribadi yang pendiam. Sehingga, saya tidak menyangka cerita anak saya tidak benar,” ungkap Rina.

Sementara, Z yang juga hadir Polsek Lubuk Begalung mengakui perbuatannya yang membuat heboh itu. Alasannya, Senin (30/1) pukul 07.30 dirinya masih di angkot, sehingga dipastikan akan terlambat mengi­kuti upacara bendera dan akan dimarahi oleh guru.

 “Saya takut terlambat, saat berada di angkot saya merasa sudah terlambat akhirnya saya membuang tas dan sepatu ke sebuah tempat yang ada seng lalu baju saya tersangkut di sana sehingga robek,” ungkap Z.

Lalu, Z mengaku berlari ke rumah neneknya yang berada sedikit jauh dari simpang sekolahnya dan mengaku kepada nenek bahwa ada dua orang pemuda yang mencegatnya di jalan. “Setelah mendengar cerita itu nenek ke sekolah bersama saya dan mengatakan kepada guru-guru dan kepala sekolah,” kata Z.

Sementara itu, Kapol­sek Lubuk Begalung (Lu­beg) Kompol Harry Mariza Putra mengatakan, ketika dia mendalami kasus itu bersama Polda Sumbar, dia mendapat informasi bahwa apa yang terjadi dalam kasus penculikan tersebut adalah bohong.

“Anak tersebut mengakui bahwa apa yang dialaminya adalah bohong. Dia tidak pernah diculik, dia mengaku bahwa ia ta­kut sekolah pada hari itu, makanya dia merekayasa ke pihak sekolah kalau dia nyaris menjadi korban penculikan,” ujar Kompol Harry Mariza Putra, Selasa (31/1).

Patroli ke Sekolah

Terkait adanya isu-isu penculikan anak, Satpol PP Kota Padang pun melakukan patroli di sekolah-se­kolah. “Sesuai arahan wali kota dan sekda, kami menurunkan personil ke seko­lah,” kata Kepala Satpol PP Kota Padang Mursalim Na­fis, Selasa (31/1).

Ia menjelaskan, pihak­nya menurunkan sebanyak 150 personel untuk berpatroli ke sekolah-sekolah. Personil yang turun ke sekolah yakni personel yang di-BKO-kan di kecamatan serta dibantu personil yang bertugas di Ma­ko Pol PP.

“Personil kita melakukan patroli di sekolah-se­kolah. Patroli Satpol PP ini untuk mengantisipasi jika benar-benar terjadi penculikan. Personel yang berpatroli akan langsung melakukan tindakan represif, jika menemukan praktek de­mikian,” tegas Mursalim.

Sebelumnya, pesan berantai terkait aksi pecobaan penculikan anak beredar di grup WhatsApp hingga membuat heboh masya­rakat di Sumatra Barat (Sum­bar). Kabar pen­culikan tersebut disebutkan terjadi di Kota Padang dan menimpa salah seorang siswi SD, Senin (30/1).

“Mohon ijin melaporkan kejadian percobaan penculikan anak yang terjadi pagi tadi, Senin (30/1) sekira pukul 07.30 WIB, korban merupakan siswi kelas 5 SDN 14 Gurun Laweh, Kecamatan Lubuk Begalung,” begitu bunyi pesan tersebut.

Sementara, pesan lainnya menyampaikan agar para orang tua untuk berhati-hati dengan siapapun terutama orang yang tidak di kenal. Saat penjemputan pastikan dijemput orang tua. Jika yang menjemput adalah ojek, pastikan orang tua memberi informasi ke guru.

“Bagi yang pulang dengan kendaraan umum, agar berjalan atau me­nunggu di tempat keramaian, naik kendaraan bersama-sama teman yang sea­rah tempat tinggal. Tidak diperkenankan jalan sendirian. Anak-anak, dari seko­lah agar langsung ke rumah, tidak mampir kemanapun tanpa sepengeta­huan orang tua,” bunyi imbauan dalam pesan berantai. (rom)