METRO BISNIS

Ancaman Resesi Bakal Berlanjut hingga 2024

0
×

Ancaman Resesi Bakal Berlanjut hingga 2024

Sebarkan artikel ini
Sri Mulyani Menteri Keuangan

JAKARTA, METRO–Kondisi perekonomian saat ini sangat dipengaruhi oleh gejolak ekonomi global yang sangat kompleks. Bukan lagi karena pandemi Covid-19, melainkan disebabkan disrupsi sisi suplai dan persoalan geopolitik yang makin me­ningkat hingga menyebabkan harga-harga komoditas pangan dan energi me­lonjak.

Menurut Menteri Ke­uangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, gejolak harga pangan dan energi kemudian mendorong terjadinya inflasi tinggi. Bahkan, sifatnya akan lebih permanen hingga 2024. Sebab sejumlah negara di dunia terancam resesi hing­ga stagflasi pada 2022-2023.

“Ini adalah konteks yang sedang dan akan te­rus kita kelola hari ini dan 2023. Dan, bahkan kemarin pembahasan persoalan Kompleks ini akan berlanjut ke 2024,” kata Sri Mul­yani dalam seminar nasional di Gedung DPR RI, Rabu (19/10).

Baca Juga  Penghujung Tahun 2025, PLN UID Sumatera Barat Sambut Tahun Baru 2026 dengan Penyalaan Listrik PT Padang Raya Cakrawala

Sebagaimana telah di­bahas pada pertemuan G20 mengenai global financial safety net di Washington D.C, Amerika Serikat beberapa waktu lalu, ia mengatakan kondisi yang rumit ini perlu diantisipasi oleh para policy maker. Sebab bisa berdampak pada kenaikan biaya dana (cost of fund) dan gagal bayar (default) di banyak negara yang sudah dalam posisi exposure utangnya cukup besar.

Sementara space kebijakan fiskal moneter menjadi makin terbatas karena sudah digunakan sejak ta­hun 2008-2009 sesudah Glo­bal Financial Crisis dan kemudian dipakai lagi secara luar biasa pada saat pandemi.

Belum lagi, dengan situasi ini outlook ekonomi global kemudian direvisi ke bawah. Bahkan jika dilihat revisinya cukup tajam di hampir semua negara.

Baca Juga  Fitur ListriQu di PLN Mobile, Layanan Resmi PLN untuk Perbaikan Instalasi Listrik Rumah Pelanggan

 “Di Amerika Serikat menurun tajam pada 2022 dan 2023, bahkan sekarang kata-kata resesi bukannya tidak mungkin di AS,” ujar­nya.

Kemudian, Eropa yang terbentur oleh kenaikan harga tinggi serta kenaikan suku bunga yang agresif. Pada tahun 2022-2023, lanjutnya, Eropa dimungkinkan akan terjadi resesi.

Tiongkok yang se­ka­rang sedang di dalam pembahasan soal kepemimpinan nasionalnya, saat ini sudah mengalami perle­mahan perekonomian. Mu­lai karena lockdown, maupun karena kondisi di du­nia serta perlemahan sektor properti yang sudah me­nimbulkan dampak yang luar biasa.

 “Angka kuartal ke III (pertumbuhan ekonomi Tiongkok) belum keluar, namun dimungkinkan akan cukup tajam lemah,” pung­kasnya. (jpc)