METRO BISNIS

Budidaya Lele Jadikan Rawa Lebih Produktif

0
×

Budidaya Lele Jadikan Rawa Lebih Produktif

Sebarkan artikel ini
budidaya lele--Masyarakat Kelurahan Sri Mulya, Sematang Borang, Palembang memanfaatkan lahan rawa untuk budidaya lele dimana setiap kolam mampu menghasilkan lele siap panen berkisar 200-400kg.

PALEMBANG, METRO–Budidaya lele merupakan pilihan tepat menjadikan rawa lebih produktif. Dikenal memiliki ketahanan tubuh yang kuat, ikan ini mampu berkembang di lahan dengan tingkat keasaman cukup tinggi. Bahkan dengan pengelolaan yang tepat, panen bisa dilakukan 10 hari sekali.

Seperti dilakukan ma­syarakat Kelurahan Sri Mulya, Sematang Borang, Palembang yang banyak membudidayakan lele. “Sa­ngat potensial, kebanyakan lahannya juga rawa jadi banyak memanfaatkan kolam rawa, kebutuhan lele Palembang kan masih ku­rang,” ujar Rachman Cho­rib Penyuluh Perikanan.

Rachman menambahkan, lele dipilih pula karena cara budidayanya yang mudah dan siklus panen yang singkat. “Pembudidaya 10 hari pasti sortir, ada yg sudah bisa dipanen ada yang belum, nah nanti 10 hari lagi sortir langsung panen lagi,” imbuhnya.

Cara budidayanya adalah dalam satu kolam rawa yang luas dibagi men­jadi beberapa petakan kolam waring. Waring ter­sebut diikat menggunakan kayu gelam dan dibiarkan mengambang di air. De­ngan kata lain, tidak sampai menyentuh dasar ta­nah.

Baca Juga  Terbukti Andal, Efisien dan Layanan Terjamin, 563 Industri dan Bisnis Beralih Jadi Pelanggan Listrik PLN

Kemudian penebaran benih dilakukan pada ko­lam waring pertama terlebih dahulu. Untuk ukuran 3x5m, benih yang ditebar berukuran 3-5cm seba­ny­ak 3-5 ribu ekor. Setelah 1 bulan dibesarkan, benih dibagi ke 3 kolam waring sesuai pengelompokan ukurannya. Waring 1 untuk benih yang masih berukuran 3-5cm (kecil), waring 2 untuk benih 4-6cm (sedang), dan waring 3 untuk benih 5-7cm (besar).

Setelah 2,5 bulan, lele disortir dan yang memenuhi ukuran akan dipanen. Sementara yang masih kecil dibesarkan kembali. Umumnya pembeli mencari lele isi 7-8 ekor per kilogram, namun ada juga yang meminta 10 ekor. Dalam 1 kali masa panen untuk 1 lokasi kolam rawa yang terdiri dari beberapa waring perolehannya ber­kisar 200-400kg.

 “Per kilo harga di pembudidaya Rp 19.000, luma­yan bisa dibilang tinggi,” terang Rochman.

Baca Juga  Pertani Pasok Benih Padi untuk 3 Juta Ton Beras

Dengan adanya sistim tersebut panen dapat dilakukan secara kontinu. Pendapatanpun diperoleh secara berkelanjutan. Begitu pula ketersediaan lele akan selalu ada. Dalam satu tahun, total produksi di Sri Mulya mencapai 180-250 ton dengan nilai Rp3,­240-4,5 miliyar.

Capaian produksi lele tersebut sebenarnya bisa ditingkatkan lagi. Luasan kolam rawa masih tersedia dan belum semua termanfaatkan. Namun sayang­nya biaya untuk merapikannya termasuk ongkos tenaga tidaklah sedikit. Bukan hanya itu, ketika kolam sudah jadi, modal tambahan juga diperlukan me­ngadakan benih lele.

Guna memenuhi permodalan para pembudidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyediakan fasilitas da­na bergulir melalui satuan kerjanya, yakni Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) sehingga berbagai kebutuhan usaha dapat dipenuhi. (jpg)