PADANG, METRO–Sekolah Tinggi Management Ilmu Komputer (STMIK) Indonesia, kini berubah status menjadi universitas dengan nama Universitas Metamedia. Dengan perubahan status tersebut, perguruan tinggi swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Amal Bakti Mukmin Padang itu melantik Masyhuri Hamidi, S.E., M.Si., Ph.D., CFP sebagai rektor pertamanya, Jumat (30/9) di Aula Kampus Universitas Metamedia. Pelantikan Rektor Universitas Metamedia dilaksanakan oleh Ketua Senat Universitas Metamedia M Husni. Hadir pada pelantikan tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Amal Bakti Mukmin Padang, Irman Gusman, Ketua Yayasan, Ismail Gusman, Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah X, Afdalisma, SH., M.Pd. Juga hadir Civitas Akademika Universitas Metamedia, Rektor dan Perwakilan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, BUMN dan BUMD serta mahasiswa baik secara langsung maupun melalui daring.
Usai dilantik, Rektor Universitas Metamedia, Masyhuri Hamidi S.E., M.Si., Ph.D., CFP mengatakan, keberhasilan STMIK Indonesia berubah status menjadi Universitas Metamedia karena adanya campur tangan orang lain. Semuanya perubahan terwujud begitu cepat berkat dukungan banyak pihak. Dengan berubahnya menjadi universitas, maka Universitas Metamedia, menjadi universitas ke-17 yang hadir di Sumbar. “Mudah-mudahan dengan angka cantik 17 ini, Univeritas Metamedia bisa berkembang lebih pesat ke depan,” harapnya.
Diakuinya, proses perubahan status dan nama ini tidak gampang. Karena cukup banyak syarat yang harus dipenuhi. Kampus ini berubah menjadi universitas disaat usianya sudah berumur 36 tahun. “Usia 36 ini sudah dianggap telah dewasa. Kedewasaan untuk tinggal landas menuju kemandirian,” harapnya.
Dalam sejarahnya, STMIK Indonesia awalnya hanya satu program studi (prodi), yakni Prodi Sistem Informasi. Sementara untuk berubah menjadi universitas, syaratnya harus ada lima prodi.
Untuk memenuhi persyaratan itu, lalu dibukalah prodi baru. Awalnya dibuat dua prodi, yakni Prodi Bisnis Digital dan Prodi Informatika. Kemudian dibuka lagi dua prodi lainnya, Prodi Desain Komunikasi Visual dengan Prodi Management Retail. “Untuk penambahan dua prodi ini langsung bersamaan kita ajukan perubahan status STMIK Indonesia menjadi universitas. Akhirnya keduanya lulus. Hanya butuh waktu dua bulan divisitisasi oleh Kementerian Pendidikan Riset dan Tekhnologi. Akhirnya prodi diterima,” terangnya. “Semua kelengkapan persyaratan yang belum lengkap dilengkapi dipenuhi. Pada 15 September cita-cita terwujud, akhirnya keluar SK penetapan Universitas Metamedia,” ungkapnya.
Masyhuri mengungkapkan, Universitas Metamedia akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Karena kondisi ke depan tidak bisa diprediksi. Dibutuhkan penguatan akademik dan SDM untuk jadi unggul. Bidang akademik yang menjadi roh perguruan tinggi harus dtingkatkan. Didukung dosen yang unggul dan berkualitas. SDM mahasiswa juga harus banyak dipoles agar bisa bersaing dengan mahasiswa kampus lain yang perkembangannya begitu pesat. Tantanga lain globalisasi. Suka atau tidak suka harus dihadapi. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut bersaing lokal tapi nasional dan internasional.
Sebagai lembaga perguruan tinggi, menyongsong era digitalisasi. Semua harus berbasis tekhnologi. Dengan basis pendidikan fokus IT, Universitas Metamedia sangat diungtungkan di era digital saat.
Tantangan lain mengupgrade semua tentang sarana dan prasarana. “Karena kita sudah berubah. Semua sarana dan prasarana harus disesuaikan. Termasuk juga perubahan dalam tata kelola, yang harus sesuai aturan dan ketentuan. Karena kita ini jadi milik publik. Semua harus transparan. Semua harus berubah. Jangan hanya berubah baju saja,” tegasnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Amal Bakti Mukmin, Irman Gusman mengatakan, untuk merubah STMIK menjadi universitas butuh 36 tahun. “Alhamdulillah dengan waktu 36 tahun, Rektor Universitas Metamedia mampu membawa STMIK jadi universitas. Namanya pun satu-satunya yang ada di Sumbar, yakni Universitas Metamedia,” terangnya.
Nama Metamedia terinspirasi dari metaverse, yang dipopulerkan oleh pendiri Facebook (FB). Dengan nama ini diharapkan perubahan universitas ini ke depan luar biasa di bidang teknologi.
Metaverse merupakan platform berdasarkan ekosistem. Di mana dibangun masyarakat ekosistem berdasarkan Artificial Intelligence, atau yang dikenal dengan kecerdasan buatan. Di era digital saat ini apapun yang dicari bisa didapat melalui teknologi dengan cepat. Selama 20 tahun terakhir kemajuan teknologi luar biasa. “Tidak terbayang semua kemajuan ini oleh orang-orang dulu. Yayasan dan kita semua melihat lembaga perguruan tinggi ini merespon apa yang terjadi ke depan,” terangnya.
Dengan metaverse, diharapkan mahasiswa universitas ini nantinya tidak hanya dari Sumbar saja. Tapi bisa juga dari daerah lain seperti dari Papua. Karena era digital akan merubah semuanya. “Dengan metaverse kita ciptakan avatar dan bisa berselancar di dunia digital. Perusahaan top dunia sekarang bukan lagi perusahaan perbankan, pertambangan dan lainnya. Tetapi perusahaan di bidang tekhnologi informasi , seperti google, facebook, amazone dan lainnya,” ungkapnya. Era sekarang bukan lagi era kerjasama tapi kolaborasi. Bukan era kompetisi lagi. Universitas Metamedia terwujud berkat kolaborasi. Kualitas SDM dapat meningkat hanya dengan berkolaborasi dan bersinergi dengan perguruan tinggi lainnya.
Ketua LL Dikti Wilayah X, Afdalisma, SH., M.Pd mengucapkan selamat atas perubahan status STMIK Indonesia menjadi universitas. Perubahan ini merupakan gerakan cepat. Universitas Metamedia menjadi universitas ke-17 di Sumbar dan ke-36 di LL Dikti Wilayah X. Di mana di bawah naungan LL Dikti Wilayah X total ada 242 perguruan tinggi swasta 9.400 dosen, 256 ribu mahasiswa dan 1.117 program studi.
Universitas Metamedia ke depan menurutnya, harus dapat merespon perkembangan dunia digital dengan langkah strategis. Harus melakukan inovasi dan menjadikan kampus lebih baik dan dipercaya masyarakat. “Hal ini dapat dilakukan dengan kolaborasi. Saling mendukung dan sinergi serta optimalkan jalinan kemitraan,” harapnya.(fan)






