METRO PESISIR

Komisi IX DPR RI dari F Gerindra, Dorong Kemenkes Perkuat Keamanan Data Layanan   

0
×

Komisi IX DPR RI dari F Gerindra, Dorong Kemenkes Perkuat Keamanan Data Layanan   

Sebarkan artikel ini

PDG.PARIAMAN, METRO–Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Gerindra Ade Rezki Pratama mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat keamanan data pengguna layanan kesehatan digital agar ti­dak bisa dibobol oleh peretas. ”Pandemi COVID-19 banyak memunculkan permasalahan kesehatan, o­leh karena itu Kemenkes RI membuat layanan kesehatan berbasis digital agar masyarakat dapat terla­yani dengan baik,” kata Ade Rezki Pratama usai Sosialisasi Tata Kelola Pe­layanan Kesehatan ‘Pemanfaatan Layanan Susrate dan Telemedicine bagi Masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman, Senin (19/9).

Namun karena sifatnya digital maka akan ada peretas yang mencoba me­ngakses pusat data Kemenkes secara ilegal untuk kepentingan pribadi atau untuk kelompok tertentu yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. ”Permasalahan ini (peretas) harus diberantas sampai tuntas agar tidak ada lagi data rakyat Indonesia digunakan secara ilegal,” katanya.

Hal tersebut, lanjutnya karena saat ini sebuah negara kuat tidak saja dilihat dari devisanya namun juga dari bagaimana negara tersebut bisa mempertahankan negaranya dari serangan peretas.

Dikatakan,  layanan kesehatan berbasis digital dari Kemenkes yaitu elektronik health yang merupakan layanan yang tidak saja terkait administrasi namun juga tata cara administrasi secara kompu­terisasi dan digitalisasi. Terkait dengan Susrate, lanjutnya yaitu layanan yang diberikan Kemenkes agar masyarakat menda­patkan layanan kesehatan yang berjenjang dapat diakses secara mudah.

Sedangkan Telemedicine, kata dia yaitu layanan pemeriksaan kesehatan secara jarak jauh untuk penyakit ringan yang i­novasi ini juga muncul karena banyak masyarakat yang takut datang ke rumah sakit dan dokter pun takut melayani pasien karena adanya pandemi COVID-19.

Namun dalam perjalanannya masih banyak ma­syarakat yang tidak me­ngetahui layanan ke­sehatan tersebut serta tidak mengetahui cara penggunaannya sehingga ha­rus dilakukan sosia­lisasi.

Selain itu, permasalahan yang dihadapi lainnya yaitu terkait masih ba­nyaknya daerah di Indonesia yang belum terjangkau sinyal internet. ”Karena itu kami memberikan sosia­lisasi agar layanan ini da­pat diketahui masyarakat serta mendorong pemerintah menyelesaikan 12.500 blank spot di Indonesia,” tambahnya.(efa)