SOLOK, METRO–Warga diminta mewaspadai penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), terlebih dalam kondisi cuaca yang saat ini tak menentu. Kelapa Dinas Kesehatan Kota Solok Elvi Rosanti mengatakan, sepanjang tahun 2022, kasus DBD yang terjadi di Kota Solok tercatat ada 43 kasus. Kasus itu menyebar di 2 kecamatan yang ada di Kota Solok
“Kita sudah melakukan beberapa langkah antisipasi diantaranya adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara berkala, dengan fogging atau pengasapan di sejumlah wilayah kerja Puskesmas,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok, Elvi Rosanti, kemarin.
Dijelaskannya, selain PSN dan fogging, pihaknya juga melakukan survei jentik dan memastikan keadaan pasien yang terjangkit DBD. “Kita tidak ingin ada korban lagi, dan kegiatan fogging dilakukan dengan harapan tidak ada lagi korban dan antisipasi penyebaran ke wilayah lain,” jelasnya.
Adapun, Pemko Solok telah melakukan fogging di berbagai lokasi di kelurahan Kampungjawa, Tanahgaram, Simpang Rumbio, dan beberapa kelurahan lainnya. Dijelaskannya, selain itu, pihaknya juga melakukan survei jentik dan memastikan keadaan pasien yang terjangkit DBD.
“Kami melakukan imbauan dengan menggunakan mobil dengan alat pengeras suara. Mendatangi rumah warga untuk survei jentik, lalu mendatangi rumah sakit dimana pasien dirawat untuk memastikan keadaannya,” tuturnya.
Peningkatan kasus DBD biasanya terjadi terutama saat musim hujan. Kementerian Kesehatan mencatat di tahun 2022, jumlah kumulatif kasus Dengue di Indonesia sampai dengan Minggu ke-22 dilaporkan 45.387 kasus. Sementara jumlah kematian akibat DBD mencapai 432 kasus.
Kasus DBD disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dikenal membawa penyakit demam berdarah dengue. Center for Disease Control (CDC) melaporkan bahwa demam berdarah kini menjadi epidemi di berbagai Negara baik Negara maju maupun berkembang.
Lalu, ia meminta semua masyarakat untuk bersama-sama membasmi perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Ia juga meminta seluruh ASN dapat ikut serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat bagaimana melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
Untuk menekan angka tersebut, Dinkes pihak terkait terus berupaya mencegah pembiakan nyamuk jenis Aedes Aegipty, yakni melalui fogging.
Lalu, salah satu faktor penting yang harus dilakukan masyarakat adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat dilaksanakan dalam menghindari penyakit DBD, diantaranya adalah dengan memastikan bahwa selalu menkonsumsi makanan dan minuman yang higienis.
Ia menyebut pihaknya fokus pada pemberantasan sarang nyamuk, melalui gotongroyong kebersihan lingkungan. Selain itu, bubuk Abate juga diberikan kepada masyarakat. Untuk pengawasan lingkungan, beberapa Sanitarian di Puskesmas ditugaskan untuk survey jentik berkala di daerah fokus DBD dan sepanjang aliran sungai. “Kita harap masyarakat mematuhi segala petunjuk kesehatan, jika ada yang sakit jangan segan-segan menghubungi petugas kesehatan ataupun fasilitas kesehatan terdekat,” tukasnya. (vko)






