SUDIRMAN, METRO–Kebijakan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikeluarkan pemerintah, diharapkan dapat juga diikuti dengan penyesuaian tarif angkutan barang.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Divisi Angkutan Organda Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Syafrizal, Selasa (6/9). Pengusaha truk ini mengatakan, dirinya mendukung kebijakan pemerintah menaikan harga BBM ini. Menaikan harga BBM ini tentu dengan pertimbangan yang sangat matang demi menjaga stabilitas APBN.
Namun, Syafrizal berharap, pemerintah juga mendukung kenaikan tarif angkutan barang. “Jika tarif ini sesuai, kami akan berjalan kembali. Dari kebijakan pemerintah, ada kenaikan BBM sebesar 32 persen. Kami juga juga naikkan pula tarifnya. Tidak hanya masalah BBM yang naik, tapi juga berdampak naiknya harga sparepart dan harga barang kebutuhan rumah tangga. Termasuk juga biaya hidup untuk sopir,” ungkap Syafrizal.
Syafrizal menyebutkan sebenarnya dari pihak pengusaha seperti dirinya dan juga pengusaha lainnya di bidang angkutan barang sudah siap saja menerima tarif dampak dari kenaikan BBM ini. Namun, tentunya harus ada regulasi dari pemerintah.
“Pengusaha ini hanya mendengar kata pemerintah saja. Kalau pemerintah tidak menyatakan naik, kita tidak naik. Tapi kalau ada dukungan pemerintah untuk naik, maka kita juga naikkan tarif,” tambah Syafrizal.
Saat ini, menurut Syafrizal, Organda sedang melakukan proses pembahasan dan negosiasi dengan pemerintah pusat untuk menaikkan tarif angkutan. Namun diakui Syafrizal, jika tarif angkutan tidak dinaikkan atau disesuaikan dengan kenaikan harga BBM, maka bisa berdampak cukup parah juga terhadap usaha angkutan barang.
Pasalnya, dengan kontrak yang baru dan yang sudah berjalan dengan mitra saat ini pihaknya akan menderita, karena menjalankannya masih menggunakan tarif lama. Sementara, biaya operasional dampak dari kenaikan BBM ini meningkat.
“Kalau dapat pemerintah segera secepatnya mengeluarkan kebijakan kenaikkan dan penyesuaian tarif ini. Kalau tidak kami tidak bisa jalan lagi. Kini kami masih jalan. Tapi sangat memprihatinkan. Harusnya kondisi sekarang pemerintah juga secepatnya mensubsidi biaya kami,” harapnya.
Syafrizal mencontohkan, kalau truk barang miliknya berangkat dari dan ke Dumai, biaya operasional keseluruhan BBM dan sopir mencapai Rp4,5 juta. Dari biaya itu untuk BBM saja mencapai Rp3 juta.
“Belum lagi biaya sopir dan upah habis di jalan. Sebelum kenaikkan BBM, dengan biaya demikian masih ada juga yang bisa dibawa pulang. Tapi dengan kenaikan BBM sekarang biaya demikian hanya habis untuk di jalan saja,” keluhnya.
Syafrizal kembali berharap pemerintah segera secepatnya melakukan penyesuaian kenaikkan tarif angkutan. Termasuk juga kebijakan mensubsidi biaya operasional angkutan barang. Karena jika tidak akan berdampak angkutan barang tidak bisa lagi beroperasi.
Pasalnya, dengan kondisi kenaikan BBM saat ini jika tidak diiringi dengan kebijakan menaikan tarif angkutan barang, Syafrizal memperkirakan pihaknya dan pengusaha angkutan barang lainnya hanya bisa bertahan 15 hari ke depan,” ujarnya.
Selain itu, kenaikan BBM jika tidak diikuti dengan kenaikan tarif akan menimbulkan inflasi yang cukup tinggi. Kenaikan BBM akan berdampak terhadap seluruh sektor. Selain kenaikan harga sparepart juga berdampak kenaikan barang kebutuhan pokok rumah tangga dan lainnya.
“Pemerintah saat ini sedang berjuang menurunkan angka inflasi di sejumlah daerah. Namun, dengan kenaikan harga BBM ini justru inflasi akan naik lagi. Ini yang harus jadi pertimbangan pemerintah dalam mengatasi masalah yang ditimbulkan dari kenaikan BBM ini,” harapnya. (fan)






