METRO SUMBAR

Rapat Terbatas Tim Pengendali Inflasi, Mahyeldi: Inflasi Sumbar Turun 7,1 Persen

0
×

Rapat Terbatas Tim Pengendali Inflasi, Mahyeldi: Inflasi Sumbar Turun 7,1 Persen

Sebarkan artikel ini
Rapat Terbatas Tim Pengendali Inflasi
HADIRI RAKOR TPIP— Gubernur Sumbar Mahyeldi bersama para gebenur lain di Indonesia saat menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Jakarta.

PADANG, METRO–Guna menekan laju inflasi, Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi ha­dir dalam Rapat Koordinasi Terbatas Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Rapat khusus ini digelar di Ruang Rapat Loka Kretagama Lantai 3 Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Jakarta, Kamis (1/9). Rapat ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pere­konomian RI Airlangga Hartarto. Hadir dalam ra­pat terbatas tersebut Menteri Keuangan RI Sri Mul­yani, Gubernur Bank Indonesia, Kepala Badan Pa­ngan Nasional, Sesmenko Bidang Perekonomian, De­puti I Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kepala BKF Kementrian Ke­uangan, Tim Asistensi, Staf Ahli, Staf Khusus, Kementrian Dalam Negeri, kementrian keuangan, Ba­dan Pangan Nasional, Menteri Koordinator Bidang Pere­konomian.

Turut hadir pula bersama Buya Mahyeldi, Kepala Daerah dari beberapa pro­vinsi, yaitu Jambi, Riau, Aceh, Bangka Belitung, Papua,  Sumatera Selatan dan  Kalimantan tengah. Juga kepala daerah lainnya secara daring/zoom meeting. Dalam Rapat terbatas ini Buya Mahyeldi Gubernur Sumatera Barat me­nyampaikan pemerintah sumbar telah berupaya menekan lajunya inflasi. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya telah  terjadi deflasi. Angka inflasi di Sumatera barat turun di 7,1 persen. Hal ini akan terus diupayakan hingga angka  inflasi berada dibawah  5 persen.

Sementara itu, Airlangga Hartarto mengumumkan inflasi bulan Agustus 2022 secara Nasional tercatat sebesar 4,69 persen.

Dibandingkan dengan bulan sebelumnya terjadi deflasi 0,21 persen,” ujar Airlangga pada saat press conference setelah rapat koordinasi terbatas (rakortas) dilaksanakan.

Baca Juga  Fajaruddin Dilantik jadi Pj Bupati Pasbar

Airlangga mengklaim capaian ini terjadi karena upaya ekstra yang dilakukan pemerintah. Hal ini sesuai arahan presiden untuk menjaga stabilitas harga dan capaian inflasi 2022. Tim Pengendalian Inflasi Pusat pun telah mengirim surat kepada seluruh gubernur untuk memperkuat TPID.

“TPID ini tercermin dari inflasi volatile food yang sudah mengalami deflasi 2,9 persen,” kata Airlangga.

Angka tersebut, lanjut Airlangga, perlu diturunkan lagi. “Kemarin angka­nya di 11,7 persen. Ini terbantu panen merata dan penurunan harga komoditas bawang merah,” kata dia.

Adapun secara spasial, 66 kabupaten/kota menga­lami inflasi di atas nasio­nal. Angka ini turun dari sebe­lumnya yang mencapai 69 kabupten/kota. Sementara itu dalam tingkat provinsi tercatat 27 provinsi yang inflasinya masih di atas nasional.

Airlangga menyebut Provinsi Jambi sudah me­ngalami deflasi, tetapi ang­ka inflasinya masih 7,7 persen. Kemudian Sumatera Barat, angka inflasinya 7,1 persen; Riau inflasi 5,8 persen; Bangka Belitung inflasi 6,37 persen, dan Aceh mengalami inflasi sebesar 6,33 persen. Sedangkan inflasi di Sumatera Selatan tercatat 5,04 persen dan Kalimantan Tengah sebesar 6,94 persen.

“Gubernur yang angka inflasinya di atas nasional diminta menurunkan inflasi pada bulan-bulan depan. Dengan angka di bawah 5 persen,” kata Airlangga.

Pada kesempatan ter­sebut Menko Airlangga menjelaskan berbagai rekomendasi aksi TPIP-TPID dalam rangka extra effort stabilisasi harga dan ketahanan pangan. Rekomendasi tersebut yakni perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD) terutama untuk da­erah surplus/defisit dalam menjaga ketersediaan sup­ply komoditas, pelaksanaan Operasi Pasar da­lam memastikan keter­jang­kauan harga dengan melibatkan berbagai stakeholders, pemberian subsidi ongkos angkut bersumber dari APBN sebagai dukungan memperlancar distribusi.

Baca Juga  Polemik di Tubuh Baznas Pessel Menuai Titik Terang, Semua Sudah Sesuai SOP

Selanjutnya juga dire­komendasikan percepatan implementasi program ta­nam pangan pekarangan untuk mengantisipasi tingginya permintaan di akhir tahun, serta penyusunan Neraca Komoditas Pangan Strategis untuk sepuluh komoditas strategis di wi­layah masing-masing.

“Dibantu oleh Badan Pangan Nasional, direkomendasikan juga penguatan sarana-prasarana untuk produk hasil pertanian, antara lain penyimpanan dengan cold storage, terutama di daerah sentra pro­duksi. Kemudian, penggunaan belanja tidak terduga pada APBD masing-masing untuk pengenda­lian inflasi sesuai dengan edaran Menteri Dalam Negeri, serta mengoptimalkan Dana Alokasi Khu­sus (DAK) Fisik untuk tematik ketahanan pangan dan Dana Transfer Umum (DTU),” jelas Menko Airlangga.

Rekomendasi selanjutnya yakni terkait upaya meredam harga pangan dan penguatan sinergi TPIP-TPID melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk mempercepat stabilisasi harga. “Bapak dan Ibu Gubernur, Bupati, Walikota yang angka inflasinya di atas nasional, diminta untuk dapat menurunkan inflasi dalam bulan-bulan ke depan hingga di bawah 5%,” tegas Menko Airlangga. (fan)