METRO PADANG

Dipersiapkan Jadi Warisan Dunia, Ahli Teknin Mesin Jerman Kunjungi Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo

1
×

Dipersiapkan Jadi Warisan Dunia, Ahli Teknin Mesin Jerman Kunjungi Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo

Sebarkan artikel ini
KUNJUNGI PABRIK INDARUNG I Direktur Operasi PT Semen Padang Indrieffouny Indra (kanan) mendampingi ahli teknik mesin dari Jerman, Albert Gieseler (kiri) ke Pabrik Indarung I, Jumat (8/7).

INDARUNG, METRO–Untuk mempersiapkan Pabrik Indarung I PT Semen Padang untuk diusulkan menjadi salah satu  Warisan Dunia yang diakui The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO),  seorang ahli teknik mesin dari Jerman, Albert Gieseler, melakukan kunjungan ke Pabrik Indarung I, Jumat (8/7).

Dalam kunjungannya, Albert didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Syaifullah, Kabid Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Sa­wah­lunto Rahmat Gino Sea Gamas, Sekretaris Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan  Permuseuman Sa­wah­lunto Adrial dan lainnya.

Dari PT Semen Padang menyambut rombongan, Direktur Operasi, Indrieffouny Indra, Komisaris, Khairul Jasmi, Kadept Tambang & Pengelolaan Bahan Baku, Sumarsono, Kepala Unit Humas & Kesekretariatan, Nur Anita Rahmawati, Kepala Unit WHRPG & Utilitas, Erick Reza Alandri.

Direktur Operasi PT Semen Padang Indrieffouny Indra menjelaskan, Pabrik Indarung I merupakan pabrik semen pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, berdiri sejak 18 Maret 1910.

“Pabrik berusia 112 tahun itu tidak lagi dioperasikan sejak 1999 karena menggunakan teknologi lama, yakni proses basah, dalam pengolahan bahan baku,” kata Indrieffouny.

Baca Juga  Antisipasi Gempa Megathrust, RSUP M. Djamil Siapkan Simulasi Bencana

Selain Indarung I PT Semen Padang juga memiliki PLTA Rasak Bungo yang dibangun pada 1908. Sumber tenaga listrik ini digunakan untuk mengoperasikan pabrik Indarung I, dengan memanfaatkan air Sungai Lubuk Paraku. Bahan bakar pabrik menggunakan batu bara Ombilin yang didatangkan dengan kereta api dari Sawahlunto ke Bukit Putus.

Komisaris PT SP Khairul Jasmi mengatakan, ada empat pelopor modernisasi dan industrialisasi di Minangkabau, yakni jalur kereta api, tambang batu bara Ombilin-Sawahlunto (1892), Pa­brik Indarung I (1910), dan Pe­labuhan Teluk Bayur (Em­ma­haven, dibangun 1888-1893). “Jalur KA dan tambang tua batu bara Ombilin-Sawahlunto  telah dikukuhkan sebagai World Heritage pada 6 Juli 2019. Sementara Pabrik Indarung I belum,” kata Khairul.

Ahli teknik mesin Albert Gieseler, terkesan setelah mengunjungi Pabrik Indarung I dan PLTA Rasak Bungo. Ia berjanji membantu pengusulan menjadi warisan dunia.  Untuk tujuan itu, ia meminta TACB Sumbar mempercepat proses pengusulan Indarung I menjadi Cagar Budaya. “Berapa lama bisa diusulkan? Saya perlu informasi soal waktunya?” tanya  Albert.

Baca Juga  Belum Pulih, Tanggap Darurat Diperpanjang Sampai 22 Desember, Pemko-DPRD Sepakat Percepat Rehabilitasi, Rekonstruksi

Pertanyaan Albert itu dijawab Khairul Jasmi, “Enam bulan.”

Seperti diketahui, PT SP sejak lama menyiapkan Pabrik Indarung I menjadi heritage factory. Untuk itu, telah ada kegiatan yang dilakukan. Di antaranya, kerjasama denganpara arsitek dari Asian Architecture Network (MAAN) yang melakukan Workshop di Indarung I pada Juni 2022.

PT Semen Padang juga telah mengirim pakar sejarah Alm.Dr.Mestika Zed  ke Eropa  untuk mengumpulkan bahan-yang diperlukan.

Pada tahun 2015,  PT SP memancangkan tekad untuk mempersiapkan Pabrik Indarung I yang kini berusia 112 tahun untuk menjadi kawasan cagar budaya nasional.

Dalam kaitan  itu, pada 19-20 Oktober 2015  di  Pabrik Indarung I  dilaksanakan Workshop Creativecity dengan menghadirkan sejumlah ahli/konsultan heritage dunia seperti Evert Verhagen asal Belanda,  Dra. Hasti Tarekat, MSI (Belanda), dan   Alm.DR. Ir. Eko Alvares Z, MSA, IAI (dari Universitas Bung Hatta), dan para ahli lainnya. (ren/rel)