PASAR RAYA, METRO–Harga sejumlah komoditas pangan di awal Juli ini belum juga mengalami penurunan signifikan, termasuk cabai merah dan bawang merah. Hal itu membuat para emak-emak pusing dengan harga dapur yang terus melonjak.
Mulyadi, salah seorang pedagang di Pasar Raya Padang mengatakan, harga cabai merah dijual mencapai Rp120 ribu per kilogram. Sudah hampir satu bulan ini, cabai merah tak kunjung turun. Meski terjadi penurunan hanya di angka Rp90 ribu per kilogram.
“Kondisi seperti ini sudah sebulan lebih terjadi. Penyebabnya, pupuk mahal dan petani enggan bercocok tanam di ladang,” ungkap Mulyadi, pedagang sembako ini, Senin (4/7).
Menurut dia, pemerintah tidak mau melakukan subsidi pupuk. Yang disubsidi hanya minyak goreng. “Minyak goreng senyo. Ma talok petani ka sawah lai,” tukasnya.
Ia mengatakan, jika pun pupuk didapat, tidak merata juga serta harganya mahal dan tidak terjangkau oleh petani.
“Kita berharap pemerintah mau subsidi. Supaya petani tidak menjerit dan pedagang murah menjual,” sebut Mulyadi.
Di sisi lain, harga dapur yang terus melonjak dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan membuat emak-emak pusing. Apalagi sepekan lagi Hari Raya Idul Adha.
“Ke pasar bawa duit Rp100 ribu tak berarti lagi. Cabai merah minta ampun harganya, belum lagi bawang merah. Kalau tak makan cabai, tak enak pula,” kata Novi (43), ibu rumah tangga.
Warga Parupuak Tabing ini mengaku, dengan harga dapur yang tidak bersahabat saat ini, ia harus berpandai-pandai dalam mengelola uang belanja dapur. Jika bisanya beli cabai merah giling merah ½ kilogram, sekarang terpaksa hanya 1 ons saja.
“1 ons saja cabai merah giling sudah Rp12 ribu. Ketika harganya masih normal, 1 ons itu hanya 5 ribuan. Itu baru masalah cabai. Untuk daging atau ikan tentu harus dibeli juga untuk makan anak-anak,” sebut Novi, berharap pemerintah ikut memikirkan kondisi masyarakat saat ini.
Terpisah, Kadis Pertanian Padang Syahrial Kamat mengatakan, upaya pemko menyikapi masalah kenaikan cabai ini adalah mengajak warga cocok tanam di polybag. Ini agar hasilnya bisa dinikmati dan bila banyak dapat dijual.
“Kita rangkul kelompok tani bertanam dan memberikan edukasi,” paparnya.
Soal naiknya harga lanjutnya, itu tidak bisa dipungkiri dan benar terjadi. Meski sudah ada Operasi Pasar yang dilakukan Pemko melalui Dinas Perdagangan, hal itu belum membuat harga turun.
Sementara, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Padang, Zulhardi Z Latief mengimbau pada warga kurang kurangi makan cabe dan konsumsi sesuai kebutuhan. “Cabai kalau banyak dimakan bisa sakit perut,” tukasnya.
Soal naiknya harga, itu biasa dan tak seimbang dengan biaya cocok tanam keseharian. (ade)





