AGAM/BUKITTINGGI

Bunga Nagari Paninjauan Serap Aspirasi Pembangunan

0
×

Bunga Nagari Paninjauan Serap Aspirasi Pembangunan

Sebarkan artikel ini
SERAP ASPIRASI— Bupati Agam Andri Warman menyapa sekaligus menyerap aspirasi masyarakat Kecamatan Tanjung Raya yang dipusatkan di Nagari Paninjauan.

AGAM, METRO–Program Bupati Ngantor di nagari (Bunga Nagari) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam terus bergulir. Kekinian, Bupati Agam Andri Warman  menyapa sekaligus menyerap aspirasi masyarakat Kecamatan Tanjung Raya yang dipusatkan di Nagari Paninjauan.

Pada aksi menampung segala persoalan ma­sya­rakat di sembilan nagari Salingka Danau Maninjau itu, bupati memboyong hampir seluruh kepala OPD di lingkup pemerintah daerah. Dalam hantarannya bupati Agam menyebutkan, Bunga Nagari me­rupakan upaya untuk menghindari keputusan sepihak terkait pembangunan di nagari-nagari.

Menurutnya setiap nagari di Kabupaten Agam memiliki persoalan ter­sendiri. “Oleh sebab itu, pemerintah daerah perlu hadir ke nagari untuk me­rangkum persoalan-perso­alan tersebut. Program yang akan dijalankan di na­gari pada 2023 nanti hara­pan­nya benar-benar sesuai de­ngan kebutuhan ma­sya­rakat di nagari,” ujar An­dri Warman, Kamis (23/6).

Selain menampung aspirasi, kehadiran bupati di tengah-tengah masya­ra­kat nagari itu juga dalam rangka mengkampanyekan program revitalisasi Danau Maninjau. Persoa­lan revitalisasi Danau Ma­ninjau sambungnya, sudah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Untuk itu, pihaknya menilai perlu adanya input dari ma­sya­rakat setempat terkait hal tersebut.

“Problem utama Maninjau saat ini adalah persoalan revitalisasi, mari kita rembukan hal ini dan te­mukan bagaimana pe­nye­lesaiannya,” ucap bupati.

Sementara itu Walinagari Paninjauan, Tomi Candra Putra mengaku tersanjung mendapat kesempatan jadi tuan rumah Bunga Nagari kali ini. Dikatakan, kehadiran bupati di tengah-tengah masyarakat membuktikan adanya perhatian pemerintah daerah terhadap laju pembangunan di nagari.

Lebih lanjut disampaikan, saat ini warganya hampir sebagian besar bermata pencaharian sebagai pembudidaya bibit ikan nila. Bahkan, baru-baru ini kementerian terkait me­nobatkan daerah itu sebagai kampung budidaya nila.“Kendala yang kami hadapi terkait ini adalah harga jual bibit yang masih rendah, kemudian juga soal pakan ikan nila,” sebut Andri.

Khusus untuk pakan ikan imbuhnya, warga setempat telah memulai budidaya magot. Menurutnya, selain baik untuk pakan ikan, magot juga upaya mengurangi volume sampah di daerah itu. “Kami juga memiliki potensi lain untuk dikembangkan, baik di bidang seni, agama, adat dan budaya serta potensi kepariwisataan,” ujar bupati. (pry)