PAYAKUMBUH, METRO–Kekhawatiran Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi, terhadap mulai hilangnya jati diri orang minang yaitu pandai basilek, tidak hanya sekedar pepesan kosong. Buktinya kini minat generasi muda minangkabau untuk belajar Silek tradisi, sudah tak tampak lagi. Bahkan Silek tradisi sudah seperti barang kuno. Ditambah, prestasi cabang olahraga pencak Silat pada helat Pekan Olahraga Nasional XX tahun 2021 lalu di Papua, dikatakan Supardi, hasilnya mengecewakan dan belum mampu membuat ranah minangkabau bangga. Padahal bumi ranah minang merupakan rumah para guru-guru Silek di Indonesia bahkan sampai keluar negeri. “Pasca PON di Papua, hasilnya mengecewakan. Karena asbabun nuzul Silek itu ada di ranah minang, pesilat di luar negeri dan di tanah rantau mengakui belajar Silek di ranah minang,” sebut Ketua DPRD Sumbar, Supardi, Jumat (3/6), kepada wartawan di Kafe Agam Jua, menjelang kegiatan musyawarah tuo Silek dengan tema ‘Upaya Meletakkan Kembali Silek Sebagai The Way Of Life” di kampung adat Balai Kaliki, Kenagarian Koto Gadang, Kota Payakumbuh, selama Dua hari 4-6 Juni 2022.
Supardi, yang juga putra Payakumbuh ini mengharapkan dengan pertemuan tuo-tuo Silek selama Dua hari, akan lahir rekomendasi, solusi yang dapat membuat generasi muda minangkabau kembali berminat untuk belajar dan pandai basilek. Untuk itu, dirinya mengajak para guru-guru Silek tradisional untuk mau turun gunung. “Harapan kita dengan adanya musyawarah tuo Silek, dapat melahirkan rekomendasi mengajak guru-guru Silek tradisi turun gunung. Karena Silek tradisi sudah tak diminati lagi,” sebut Supardi, didampingi Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, Hendri Fauzan, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Payakumbuh, Desmon Corina, dihadapan awak media.
Supardi yang juga Ketua IPSI Sumbar, mengakui kesulitan karena tidak punya datang yang valid terdahap tuo-tuo Silek yang ada di ranah minang. Meski demikian, minimal dengan adanya 60 orang tuo-tuo Silek yang punya komitmen terus menerus untuk mengajarkan Silek kepada generasi muda, dan memiliki surau tempat belajar, dan punya perguruan, dapat melahirkan sesuatu yang baru sehingga Silek bisa menduni. “Kita berharap melalui musyawarah tuo-tuo Silek ini, Silek kembali menjadi pembentuk karakter bagi masyarakat minang. Ini penting karena sejauh ini masyarakat minang telah terlalu terbuai oleh model-model hidup dan pembentukan karekter yang datang dari luar. Harusnya, dunia luar yang diperkenalkan dengan Silek yang merupakan produk masyarakat minang. Semoga bisa menghasilkan program yang pas,” harapnya.
Heru Joni Putra, yang merupakan fasilitator musyawarah tuo Silek mengatakan, dalam musyawarah tuo Silek nanti, akan dirumuskan juga beberapa program untuk mendukung upaya menduniakan Silek. Disana akan dirembukkan cara agar pengetahuan mengenai Silek dapat dikemas dalam berbagai bentuk, seperti koreografi, film, seni pertunjukan, serta publikasi ilmiah linstas disiplin. “Lewat medium-medium tersebut, Silek akan dipromosikan ke-khalayak luas,” harapnya. Sementara Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, Hendri Fauzan menyebut, selain musyawarah tuo Silek, juga akan menggelar Galanggang Silek tradisi di Agam Juo Caffe, Payakumbuh pada 11-13 Juni 2022. “Ivent ini akan diisi oleh beberapa sasaran Silek tradisi dengan aliran masing-masing, serta berbagai seni pertunjukan yang berhubungan dengan Silek,” sebutnya. (uus)





