METRO SUMBAR

Skuter Listrik Yamaha E01 Siap Diuji Coba

0
×

Skuter Listrik Yamaha E01 Siap Diuji Coba

Sebarkan artikel ini
YAMAHA E01-Skuter listrik Yamaha E01 yang dihadirkan pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2022.

PADANG, METRO–Pabrikan besar otomotif roda dua kini mulai serius melakukan pengemba­ngan kendaraan listrik. Misalnya seperti yang dilakukan Yamaha dengan proyek skuter listrik E01 yang siap diuji coba di sejumlah negara Asia dan kawasan Eropa.

Menurut Yamaha Motor, riset dan pengembangan kendaraan listrik memiliki tantangan serius, terkait performa daya tempuh baterai, serta ketersediaan fasilitas stasiun pengisian baterai kendaraan listrik.

Seperti dikatakan oleh Proof of Concept (PoC) Planner Yamaha Motor, Nomura Yasushi. Pihak produsen saat ini dihadapkan pada tantangan ba­gaimana membuat kombinasi optimal, antara kemampuan jarak tempuh baterai dengan metode pengisian daya yang sesuai kebutuhan pelanggan.

Baca Juga  Gubernur Mahyeldi Sambut Kunjungan Kakanwil Kemenkum HAM Sumbar yang Baru, Berharap Sinergitas Terus Meningkat

“Jika konsumen membutuhkan motor listrik yang bisa menempuh jarak le­bih jauh, konsumen harus menggunakan metode swap (atau mengganti baterai yang kosong dengan baterai yang penuh),” ujar Nomura dalam acara Yamaha Motor E01 Product Briefing secara virtual.

Menurut Nomura, se­kalipun metode swap lebih mudah dilakukan dan praktis, tentunya pemilik kendaraan listrik tetap butuh infrastruktur pendukung lain seperti charging station (stasiun pengisian). Sebab, tidak semua kendaraan listrik menggu­nakan baterai yang mendukung metode swap.

“Ketika (motor listrik) Anda hanya mengandalkan unit power supply, sayangnya kami tidak memiliki infrastruktur itu, sehingga siapa pun dapat dengan bebas menggunakan fasi­litas ini di mana saja di kota-kota yang disinggahi,” sam­bung Nomura.

Baca Juga  Luak Nan Tuo jadi Sasaran Studi Banding

Terlebih, dikatakan Nomura, akan banyak pelanggan motor listrik yang menggunakan kendaraan ramah lingkungannya untuk berpergian tidak hanya dalam satu kota, tetapi juga singgah ke beberapa kota lainnya.

“Tentu saja (swap battery) mungkin (diterapkan) jika kita memiliki infrastruktur untuk mengakomodasi pertukaran baterai, tetapi ini belum terjadi. Oleh ka­rena itu (alternatifnya) kita harus membuat baterai lebih besar dari yang terbesar, tapi dengan catatan itu bakal sulit menggu­nakan metode swap. Selain itu, karena baterai ini sangat besar, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diisi ulang da­yanya,” terang Nomura. (rgr)