PAYAKUMBUH/50 KOTA

Lawan PMK di Kota Payakumbuh Perketat Bioskuriti, Lapor ke Tim Kalau Ada Sapi Bergejala

1
×

Lawan PMK di Kota Payakumbuh Perketat Bioskuriti, Lapor ke Tim Kalau Ada Sapi Bergejala

Sebarkan artikel ini
Ketua DPD PKS Kota Payakumbuh Hamdi Agus,ST

POLIKO, METRO–Pemerintah Kota Pa­yakumbuh mengambil lang­kah strategis dan serius dalam menghadapi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak khususnya sapi yang saat ini tengah melanda beberapa daerah di Indonesia.  “Kita berge­rak cepat dengan memberlakukan biosekuriti se­gera, karena di Kota Pa­yakumbuh sudah ditemukan 4 ekor sapi yang terinfeksi virus PMK, 2 dian­taranya adalah sapi yang dibeli peternak dari Pasar Ternak Palangki Sijunjung, kemungkinan sapi-sapi itu terpapar dari sana dan menular ke sapi lain di kandang,” kata Riza saat rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi PMK yang digelar di Aula Ngalau Indah Lantai III Kantor Wali Kota Payakumbuh, pekan kemarin.

Kegiatan itu turut ha­dir Ketua DPRD Hamdi Agus, Kapolres AKBP Alex Prawira, Kepala Kantor Kemenag Ramza Husmen, Ketua MUI Erman Ali, Sekda Rida Ananda, Asisten Setdako, Kepala Dinas Pertanian Depi Sa­stra, dan pejabat di ling­kungan Pemko Payakumbuh sementara itu, narasumber dalam kegiatan ini adalah Drh. Erinaldi, MM sebagai Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumbar dan Drh. Raden Katamtama Anindita dari Balai Verteriner Bukittinggi. Dalam pemaparannya, Drh. Raden Kamtama A­nindita menyampaikan senada dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang optimis penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK) dapat dikendalikan secara cepat, asalkan agar semua pihak turun langsung dan terlibat aktif dalam menekan jumlah penularan.

Kementerian Pertanian mengajak untuk menerapkan strategi intelektual sebagai langkah percepatan, menerapkan stra­tegi manajemen sebagai langkah penguatan, dan strategi perilaku sebagai langkah bersama dalam menghilangkan P­MK.  “Jadi sebenarnya PMK ini dapat disembukan dan tidak menular ke ma­nusia, tetapi kita harus waspada dan terus bekerja. Yang terpenting tidak boleh membangun kepa­nikan karena itu sangat berbahaya,” ujar Raden Ramtama.

Ditambahkannya, berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran selama ini, penyakit PMK masuk dalam kategori penyakit hewan yang tidak berbahaya bagi kesehatan ma­nusia. Sebab kata dia, seluruh bagian daging pada hewan yang positif PMK dapat dimakan melalui prosedur yang telah di­tetapkan. “Sekali lagi PMK dapat disembuhkan dan tidak berbahaya dikonsumsi manusia,” tegas­nya.

Raden Ramtama juga memaparkan Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) atau dikenal juga dengan se­butan Foot and Mouth Di­sease adalah penyakit yang menyerang hewan ternak seperti sapi, domba, kambing, dan hewan ruminansia berkuku belah lainnya. Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengonfirmasi wabah itu merebak di sejumlah wila­yah di Indonesia, misal­nya di sejumlah daerah, awalnya ada di Aceh dan Jawa Timur. PMK menular melalui embusan angin dan memiliki kecepatan transmisi yang sangat cepat. Oleh karena itu, keberadaannya menjadi per­hatian khusus dan ha­rus segera dilakukan pe­nanganan. Sapi atau he­wan ternak yang terinfeksi PMK akan menunjukkan ciri-ciri yang spesifik. “Ci­ri-ciri khasnya di ternak adalah di mana ternak ada demam. Kemudian yang khas ada leleran dari hidung, kemudian ada le­puh atau sariawan di mulut dan di lidah. Ada juga luka-luka di kaki atau di kuku. Sesekali napasnya terengah-engah, terus sapi karena kakinya sakit dia juga tidak bisa berdiri,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Prov Sumbar Erinaldi mengatakan Pemprov Sumbar telah mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Suma­tera Barat Nomor 559/EDIGSB 2022, Tanggal 12 Mei 2022 tentang Pengendalian dan Penanggula­ngan terhadap Ancaman Masuk dan Menyebarnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ke dalam Wilayah Sumatera Barat.

Terkait teknis pelaksanaan pencegahan kepada PMK di Kota Randang, Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh Depi Sastra saat dihubungi media, Sabtu (21/5), mengatakan bersama Unit Respon Cepat (URC) akan memperketat tindakan biosekuriti, dimana serangkaian tindakan yang meliputi perlindungan pada zona bebas dengan membatasi gerakan hewan, pengawasan lalu lintas dan pelaksanaan survei­lans, menganjurkan tidak mengambil ternak dari daerah lain, kalaupun ha­rus maka ternaknya telah punya SKKH dan surat ke­terangan darimana daerah asal hewan, melakukan tindakan karantina d­e­ngan ketat, menjaga kondisi ternak dengan manajemen pemeliharaan yang baik, serta meningkatkan sanitasi dan mendesinfeksi kandang dan sekitar­nya secara berkala. “Tindakan biosekuriti tersebut harus diterapkan secara bersama-sama dan kompak o­leh seluruh masyarakat baik dari unsur Pemerintah maupun petani, peternak dan pengusaha khu­susnya pengusaha yang terkait dengan bidang pertanian, peternakan. Salahsatu upaya kita adalah menutup pasar ternak untuk sementara,” kata Depi didampingi Kabid Peternakan Sujarmen.

Depi juga menjelaskan, hingga saat ini di­prediksi ada banyak suspect sapi yang terpapar PMK, menunggu hasil pemeriksaan uji labor keluar untuk memastikan apakah sapi di sejumlah peternakan sudah terpapar PMK atau belum. “Yang telah ditemukan terkena PMK ada 4 ekor sapi di Kecamatan Payakumbuh Ti­mur, namun yang ada gejala sudah banyak, sekitar lebih dari 5 sapi. Untuk itu tim akan bergerak ke lokasi yang dianggap rawan karena sudah ada suspect,” jelasnya.

Depi menghimbau kepada peternak agar rajin berkoordinasi dengan Tim URC, supaya dapat menginformasikan kalau ada sapi di kandang dengan gejala terpapar PMK se­gera melapor. Nanti akan dilakukan tindakan pemeriksaan, penyemprotan disifektan, dan pemberian vitamin. “Di awal pemberian vitamin ini gratis, karena keterbatasan sumber daya, maka kami menghimbau peternak ikut berperan aktif berpartisipasi. Untuk disinfektan akan di­tinggalkan di peternak, dan mereka melakukan penyemprotan secara ma­nual,” tambahnya. Terkait aktifitas di rumah potong hewan, kata Depi, pengolahan daging sapi tetap berjalan, namun lebih diperketat terkait de­ngan pemeriksaan SKKH dan asal ternaknya. (uus)