SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Kasus Stunting Hanya 6,1 Persen di Sawahlunto, ”Jangan Abaikan Upaya Penanganan”

0
×

Kasus Stunting Hanya 6,1 Persen di Sawahlunto, ”Jangan Abaikan Upaya Penanganan”

Sebarkan artikel ini
PENDAMPING KELUARGA— Sekdako Sawahlunto Ambun Kadri Pimpin Apel Siaga Tim Pendamping Keluarga (TPK) Tingkat Kota Sawahlunto.

SAWAHLUNTO, METRO–Pimpin Apel Siaga Tim Pendamping Keluarga (TPK) Ting­kat Kota Sawahlunto Sekreta­ris Daerah (Sekda) Ambun Kadri secara daring di aula Dinkesdalduk-KB, Rabu (13/5).  Tim Pendamping Keluarga (TPK) mendapat fungsi salah satunya untuk memprioritaskan pencegahan dan pena­nganan stunting (gangguan tumbuh kembang anak karena masalah gizi).

Sekda Ambun Kadri me­nyebut, meski pun angka stunting Sawahlunto hanya di kisaran 6,1 persen pada 2021 kemarin, namun tidak boleh membuat pencegahan dan penanganannya menjadi lalai dan lemah. “Kita tentu bersyukur angka stunting kita termasuk rendah. Namun tentu tidak berarti kita bisa lengah,” kata Ambun.

Untuk itu Ambun Kadri,  menyampaikan program yang dilaksanakan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) saat ini yaitu dengan melakukan pendampingan pada keluarga beresiko stunting.

“Target sasaran untuk pendampingan keluarga beresiko stunting ini adalah ; calon pe­ngantin, pasangan usia subur, ibu hamil dan menyusui serta anak usia 0-59 bulan,” ujar Ambun.

Dikatakan, penanganan kaus stunting jangan diabaikan, karena dampak lain stun­ting pada anak di antaranya adalah menjadi lebih mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang. Kemudian, postur tubuh tak maksimal saat de­wasa, fungsi tubuh tidak seimbang dan ketika tua berisiko terserang penyakit kronis se­perti diabetes, hipertensi hingga obesitas.

Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki tinggi ba­dan di bawah rata-rata. Hal ini diakibatkan asupan gizi yang diberikan, dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Stunting berpotensi memperlambat perkemba­ngan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas.

Stunting dan permasalahan kekurangan gizi lain yang terjadi pada balita erat kaitannya dengan kemiskinan. Stun­ting umumnya terjadi akibat balita kekurangan asupan pen­ting seperti protein hewani dan nabati dan juga zat besi. Pada daerah-daerah dengan kemiskinan tinggi, seringkali ditemukan balita kekurangan gizi akibat ketidakmampuan orang tua memenuhi kebutuhan pri­mer rumah tangga. (pin)