METRO SUMBAR

Pandangan Politik Boleh Beda saat Pilkada, Ulama Dukung Penuh Kemajuan Daerah di Padangpariaman

0
×

Pandangan Politik Boleh Beda saat Pilkada, Ulama Dukung Penuh Kemajuan Daerah di Padangpariaman

Sebarkan artikel ini
FOTO BERSAMA— Bupati Padangapriaman Suhatri Bur bersama pimpinan Ponpes Nurul Yaqin foto bersama usai acara.

PDG.PARIAMAN, METRO–Bupati Padangpariaman Suhatri Bur, kemarin, menghadiri silaturrahim nasional Ponpes Nurul Yaqin, Korong Ringan Ringan, Kenagarian Pakan­dangan,­Kecamatan Enam Ling­kung, Padangpariaman. “Berbagai jenis pembangunan menuju Padangpariaman berjaya tidak akan terwujud tanpa dukungan ulama,” kata Bupati Padangpariaman Suhatri Bur, kemarin.

Saat itu Bupati Padangpariaman Suhatri Bur juga menghadiri pelantikan Pe­ngurus Besar (PB) Keluarga Alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Yaqin.

Acara yang bertajuk manjalang guru untuk keberkahan ilmu tersebut, dihadiri Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Padangpariaman H. Anwar,  Kadis Perhubungan , Kepala BKPSDM Mai­zar,  Direktur PDAM Padangpariaman Aminuddin serta undangan lainnya.

Bupati Padangpariaman Suhatri Bur menyampaikan ucapan terima kasih atas undangan pada pertemuan itu.  “Karena, saya berkesempatan untuk bersilaturrahim dengan ulama-ulama besar dan para Tuanku yang berpengaruh di Kabupaten Padangpariaman, yang semuanya adalah alumni dan pimpinan pesantren Nurul Yaqin,” ujarnya.

Di samping itu, Suhatri Bur juga mengucapkan selamat kepada Pengurus Besar Alumni, yang dilantik secara resmi pada hari ini.  Dia berharap, dengan semangat kebersamaan, keluarga besar ponpes Nurul Yaqin bisa berko­la­borasi dengan Pemerintah Daerah. Terutama dalam mewujudkan visi Padangpariaman berjaya, khususnya di bidang Religius.

“Atas nama Pemerintah Daerah, saya mengucapkan selamat kepada Pengurus Besar Alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin. Semoga kita bisa bersinergi dalam melaksanakan pembinaan ummat. Sehingga, Padangpariaman yang religius dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di Nagari QW7 Lo,” ungkap Suhatri Bur.

Bupati juga mengatakan, bahwa Dia masih ada hubungan kekerabatan de­ngan guru dari almarhum Syekh Ali Imran pendiri Ponpes Nurul Yaqin tersebut. Artinya, Dia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keluarga besar Ponpes Nurul Yaqin Ringan-ringan yang juga telah memiliki 24 cabang di penjuru Sumatera Barat bahkan sampai ke Provinsi Riau.

Sebelumnya, Ketua Umum Alumni Rahmat Tk. Sulaiman menyampaikan sekilas perjalanan Pondok Pe­santren Nurul Yaqin (PPNY) Ringan-Ringan Nagari Pakandangan yang didirikan oleh Syekh Ali Imran Hasan pada tahun 1960 lalu.

“Pondok Pesantren Nurul Yaqin yang didirikan pada 1960 oleh Buya Syekh Ali Imran Hasan ini, dilatarbelakangi oleh permin­taan dari masyarakat Pakandangan yang berhadapan dengan penyebaran ajaran Wujudiyah dan Muktazilah. Setelah memperoleh izin dari Syekh Zakaria Labai Sati dan Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Ali Imran yang ketika itu menjadi pengajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Malalo, kem­bali ke Pakandangan beserta beberapa pengajar di sana untuk mendirikan Pondok Pesantren,” jelas Rahmat Tk. Sulaiman.

Dikatakan, PPNY pada masa awal hanya menerima santri laki-laki sampai akhirnya pendaftaran bagi santri perempuan dibuka sejak tahun 1985. Jumlah pendaftar yang semakin meningkat, mendorong Nurul Yaqin untuk membuka cabang di luar Pakandangan. Cabang pertama PPNY, didirikan di Ambung Kapur Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, pada tahun 1994.

“Syekh Ali Imran me­mimpin Nurul Yaqin se­men­­jak berdiri tahun 1960 sampai ia wafat pada ta­hun 2017. Tampuk Syaikhul Ma’had diserahkan kepada muridnya, Buya Zulhamdi Tuanku Kerajaan Nan Sa­leh selaku Khalifah El Imrani,” ungkapnya.

Sementara itu, Buya Zulhamdi Tuanku Kerajaan Nan Saliah menyampaikan makna silaturrahim antara Umara (Pemimpin Pemerintah) dan Ulama, dalam hal ini ulama yang berasal dari Pondok Pesantren Nurul Yaqin.

“Bahwa keduanya ha­rus seiring sejalan dalam membangun Nagari, seandainya ada yang berbeda padangan ketika masa Pil­kada lalu itu adalah hal yang lumrah dalam perpolitikan di negara kita,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan, ibarat dalam suatu pertan­dingan, pasti ada yang kalah dan menang. Namun setelah pertandingan usai, tidak ada lagi ulama Nurul Yaqin yang tidak mendukung pemenang Pil­kada Pa­dang­pariaman, yai­tu Suhatri Bur dan Rahmang. Untuk itu, kedepannya pesantren tentunya akan se­iring sejalan dengan Bupati Padangpariaman,” ungkap Khalifah El Imrani itu.

Diketahui, PPNY merupakan pesantren salaf yang hanya mengajarkan kitab-kitab kuning. Pendidikan di PPNY terbagi atas dua tingkat, yakni wustha (setingkat MTs) dan ulya (setingkat MA) dengan lama pendidikan keseluruhan ialah tujuh tahun. Nurul Yaqin juga memiliki ma’had aly (setingkat perguruan tinggi).

Nurul Yaqin merupakan salah satu pondok pesantren di Sumatra Barat, yang masih mempertahankan gelar tuanku. Gelar tuanku diberikan kepada santri laki-laki yang telah menyelesaikan pendidikannya di Nurul Yaqin. Setiap menjelang Ramadhan, Nurul Yaqin mengadakan biaik ga­dang (baiat besar) bagi san­tri yang akan berbaiat kepada tarekat Syattari­yah. (efa)