BERITA UTAMA

Alquran Pedoman Hidup

0
×

Alquran Pedoman Hidup

Sebarkan artikel ini
Mahyeldi, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar).

Ramadhan adalah momentum untuk mela­kukan ibadah secara optimal, baik dalam bentuk amalan wajib ataupun amalan-amalan sunnah yang semuanya bermua­ra kepada nilai-nilai ke­taq­waan. Dan sudah men­jadi agenda ru­tin Pemerintah Provinsi Su­matra Barat, pada bu­lan Ramadhan mela­ku­kan kegiatan safari Ra­madhan (kunjungan ke masjid dan Musholla) di kota Kabupaten yang ada di Sumatra Barat.

Dalam rangka silatur­rahim dengan masyarakat, sekaligus juga untuk me­lihat secara langsung kela­pangan bagaimana per­kembangan kegiatan kea­gamaan di tengah-tengah masyarakat, khususnya interaksi masyarakat de­ngan Alquran.

Dari puluhan masjid dan mushalla yang dikun­jungi oleh tim safa­ri Ra­madhan, didapatkan lapo­ran yang mengembirakan. Jika tahun-tahun sebe­lum­nya, pembaca ayat su­ci Alquran berasal dari ang­gota rombongan safa­ri Ra­madhan, tapi untuk tiga tahun terakhir ini, tidak diperlukan lagi.

Karena pembaca ayat suci Alquran sudah ada dari masjid/mushalla yang dikunjungi. Lebih mengem­birakan lagi, yang memba­canya adalah anak-anak usia enam sampai sepuluh tahun dengan irama dan tajwid yang benar dan bah­kan dalam bentuk hafalan.

Adanya fenomena, anak-anak usia dini yang hafal Quran dengan tajwid dan makhraj yang benar adalah salah satu indikator meningkatnya kualitas ma­syarakat Sumatra Barat da­­lam interaksi dengan Al­qu­ran sebagai pedoman hi­dup. Hal ini berbanding lurus dengan semakin men­jamur dan tumbuh subur­nya ru­mah-rumah tahfidz di setiap kecamatan dan bahkan na­gari atau kelu­rahan.

Kekhawatiran kita  akan berkurangnya para imam yang fasih ba­ca­an Quran dalam shalat, insya allah sudah terjawab. Karena para pengha­fal Qu­r­an, terutama anak-anak sudah ada di setiap pelosok negeri. Apa yang dijanjikan Allah dalam fir­manNya: “Dia yang menu­run­kan Alquran dan Dia juga yang menjamin akan keterpeliharaannya” .

Telah terbukti di depan mata, bukan sekadar untuk kebutuhan MTQ, tetapi untuk imam-imam masjid dan mushalla, bacaan me­reka begitu syahdu dan menyejukkan hati. Jika se­la­ma ini dalam MTQ-MTQ yang diadakan ma­sya­ra­kat, cabang yang di­per­lom­ba­kan hanya dalam bidang tilawah,  maka se­jak tiga tahun terakhir ini, cabang tahfidz juga menja­di ca­bang favorit dan bah­kan sering terjadi peserta lom­ba tah­fidz melebihi cabang tilawah.

Kegembiraan dan ke­ba­hagian kita dengan tum­buh suuburnya rumah-ru­mah tahfid dan lahirnya para penghafal qur an harus kita imbangi dengan semangat pengamalan isi kandungan Alquran yang kita baca dan kita ha­fal. Karena sejatinya fungsi Alquran diturunkan bukan sekedar untuk dibaca dan dihafal. Tetapi yang lebih utama dari itu adalah men­jadikannya sebagai pedo­man hidup dengan menga­malkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari dalam setiap dimensi. Adapun membaca dan menghafalnya adalah lang­kah awal interaksi de­ngan Alquran untuk pada akhir­nya diamalkan, ka­rena fungsi  Alqur an  adalah sebagai petunjuk dan pe­doman hidup.

Allah berfirman, arti­nya : “Bulan Ramadan ada­lah (bulan) yang di dalam­nya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi ma­nusia dan penjelasan-pen­jelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemu­da­han bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”. (Q.S Al Baqarah :185).

Selanjutnya dalam su­rat Ali imran  ayat tujuh puluh sembilan Allah me­negaskan kita umat Nabi Muhammad dituntut men­jadi rabbaniyin, Allah berfir­man, Artinya: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepa­danya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendak­lah kamu menjadi pe­nyem­bah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hen­daklah kamu menjadi orang-orang rabbani, kare­na kamu selalu mengajar­kan Al Kitab dan disebab­kan kamu tetap mempe­lajari­nya. (Q.S Ali Imran : 79).”

Dr Yusuf al-Qardhawi dalam Al Khasaisul Al Am­mah Lil Islam mendefi­nisikan Rabbaniyyun ada­lah “kalimat dinisbahkan kepada Rabb. Insan Ra­b­ba­ni ialah seseorang yang mempunyai hubungan erat dengan Allah, alim tentang agama-Nya serta mengajarkannya.

Dengan mempedo­ma­ni dua ayat di atas, maka dapat kita tangkap pesan yang diinginkan Allah ke­pada kita, agar iteraksi kita dengan Alquran tidak se­batas membaca dan target khatam Quran di bu­lan Ramadhan (waalupun itu baik) dan mendapatkan pahala dari setiap huruf yang kita baca, sebagai­mana janji Rasul SAW. Te­tapi yang lebih utama dari itu adalaha bagaimana Al­quran menjadi pedoman hi­dup, ibarat kompas, men­jadi acuan dari setiap uca­pan dan  tindak tanduk kita sehari-hari. Kita mengi­­nginkan pribadi yang Qu­rani, bukan sekadar ha­fidz Quran, kita merin­du­kan rumah tangga Qurani, seba­gaimana kita juga me­rin­dukan pemimpin dan tokoh bangsa yang ucapan dan perbuatanya adalah cer­minan dari akhlak Qurani.

Kerinduan dan mimpi kita untuk menghadirkan generasi qur ani sudah maju dua atau tiga langkah dari tahun-tahun sebelum­nya, yaitu dari belajar mem­­baca, meperbaiki ba­caan dan menghafalnya. Maka tahap berikutnya mari kita lanjutkan dengan gera­kan tadabbur ayat atau mempelajari terjemahan dari ayat-ayat Alquran. Kita syiarkan di rumah kita, masjid dan musholla satu hari satu ayat minimal kita baca terjemahannya dan kita tadabburi, kita baca tafsirnya dan tahap beri­kutnya, jika ayat itu berisi perintah Allah, maka kita amalkan, atau jika lara­ngan maka kita tinggalkan.

Dengan demikian kita akan menjadi generasi Qurani yang menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, bukan sebagai se­nan­dung yang diperlom­bakan. Dan momentum peringatan nuuzul quran adalah momen untuk eva­luasi pengamalan ayat-ayat Alquran sebagai pe­doman hidup, bukan mo­men memperlombakan ba­­caan semata. (*)