METRO SUMBAR

Barikade 98 Sumbar Desak Polri, Proses Hukum Perusuh Demo 11 April dan Penganiayaan Ade Armando

0
×

Barikade 98 Sumbar Desak Polri, Proses Hukum Perusuh Demo 11 April dan Penganiayaan Ade Armando

Sebarkan artikel ini
PROSES HUKUM—Ketua Barikade 98 Provinsi Sumbar, Musril bersama Sekretaris, Dibya Prayassita Somya Rosa dan Pengurus Barikade 98 Provinsi Sumbar.

PADANG, METRO–Kerusuhan dan tindak kekerasan terhadap Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando saat aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR RI di Jakarta, Senin (11/4) men­dapat perhatian Barisan Rakyat Kawal Demo­kra­si(Barikade) 98 Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Ketua Barikade 98 Pro­vinsi Sumbar, Musril men­desak Polri agar menang­kap dan memproses hukum pelaku kerusuhan dan tindak kekerasan terhadap Dosen FISIP UI tersebut. “Kami mengutuk keras perlakuan biadab terha­dap Ade Armando. Perlakuan ini jelas menunjukan betapa kebiadaban telah menjadi pertunjukan yang memuakkan,” tegas Musril yang didampingi Sekretaris Barikade 98 Sumbar, Dibya Prayassita Somya Rosa, Rabu (13/4) di Pa­dang.

Musril menilai tindak kekerasan dan pengania­yaan terhadap Ade Armando ini bukan insiden biasa. Tapi ini adalah sejenis ancaman bagi siapa saja yang berusaha merawat akal sehat di Indonesia.  “Kita berharap pihak apa­rat secepatnya menang­kap pelaku penganiayaan terhadap Ade Armando. Semoga Allah SWT melindungi bangsa ini dari semua pihak yang mau me­rusaknya,” tegasnya.

Sementara, Sekjen Per­gerakan Indonesia untuk Semua (PIS), Nong Darol Mahmada melaluin siaran pers mengungkapkan, kronologi penyerangan, pe­nge­royokan dan pemukulan terhadap Ade Armando berawal, saat Ade Armando didampingi dua o­rang cameramen (Indra Jaya Putra dan Bambang T) dan dua penulis (Belmondo Scorpio dan Rama) melakukan peliputan aksi demo di Gedung DPR RI.

Baca Juga  Gubernur Mahyeldi Lantik Pengurus PKKP Sumbar

Ade Armando dan tim datang melakukan peliputan atas nama Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS). Tujuannya untuk membuat konten youtube dan media sosial Gerakan PIS. Pada awalnya tidak ada masalah. Bahkan beberapa media massa mewawancarai Ade Armando. Tim menyepakati untuk menyudahi peliputan. Posisinya saat itu ada di de­pan pintu gerbang utama DPR.

Kemudian tim mundur dari posisi semula dan menjauh dari massa demontrasi. Saat mundur beberapa orang massa di situ terlihat mengawasi dan saling berbisik diantara mereka. Tiba-tiba saja datang seorang ibu-ibu tidak dikenal sambil memaki-maki. Makian ibu-ibu inilah yang merangsang massa untuk bertindak beringas. Mereka semua menge­pung Ade Armando dan tim.

Ade Armando dan tim kemudian mundur ke din­ding pagar DPR.. Kemudian didatangi massa yang mendorong-dorong Ade Armando. Kemudian tim liputan bergeser ke sebelah kiri depan Gedung DPR. Mereka hendak me­ninggalkan lokasi karena sudah tidak kondusif.

Baca Juga  KPU Lipat dan Sortir Kertas Suara DPD RI

Beberapa saat kemudian dihampiri beberapa o­rang tidak dikenal, mereka tiba-tiba langsung me­nye­rang. Sebelumnya mereka mengepung Ade dan tim. Sepertinya pengepungan dilakukan untuk menutup penyerangan dari pantau­an petugas.  Anggota tim liputan berusaha melindungi Ade Armando yang terus menerus diserang dan dipukuli tapi tim kemudian terjatuh dan terpental. Karena tidak mungkin bisa menolong, tim yang terpental mencari polisi untuk meminta pertolongan. Polisi kemudian datang dan memberikan pertolongan.

Setelah diamankan dan ditarik ke dalam gedung DPR oleh pihak kepolisian, Ade Armando mendapatkan penanganan dokter polisi pada pukul 16.10 WIB.  Kondisinya sadar, bisa berkomunikasi dan menghubungi keluarganya.  Ka­rena ada penyekatan massa, Ade Armando baru bisa dievakuasi dan sekitar jam 18.00 WIB sampai ke RS.

Saat ini kondisi Ade Armando masih terus dalam pantauan dokter. Dia menderita luka serius di bagian wajah, kepala dan sekujur badannya. Hasil pemeriksaan dokter menunjukan ada pendarahan dalam di bagian kepala. Ade Armando beberapa kali muntah dengan mengeluarkan da­rah. Kini tim kedokteran sedang berusaha mena­ngani Ade Armando. (fan)