METRO PADANG

GMNI Sumbar Komitmen Kokohkan Rasa Nasionalisme serta  Harmonisasi Masyarakat di Ranah Minang

0
×

GMNI Sumbar Komitmen Kokohkan Rasa Nasionalisme serta  Harmonisasi Masyarakat di Ranah Minang

Sebarkan artikel ini
FOCUS GROUP DISCUSSION— GMNI Sumbar mengadakan Focus Group Discussion (FGD) ormas GMNI se Sumbar pada Rabu (23/3), Pernyataan GMNI Sumbar Berkomitmen Kokohkan Rasa Nasionalisme serta Harmonisasi Masyarakat di Ranah Minang.

GOR, METRO–Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Barat menyatakan sikap komit­men bersama dan siap menjadi garda terdepan  dalam mewu­jud­kan harkamtibmas, menjaga  per­satuan dan kesatuan bangsa, me­nang­kal intoleransi, radikalisme, serta kabar hoax di Ranah Minang.

Komitmen  tersebut merupakan bentuk kepe­dulian organisasi kepemudaan tersebut kepada Ranah Minang tercinta. Disamping itu GMNI Sumbar juga komitmen mendukung prioritas pembangunan nasional.

Komitmen tersebut disampaikan seluruh Anggota GMNI Sumbar pada Focus Group Discussion (FGD) ormas GMNI se Sum­­bar pada Rabu (23/3) di Pa­dang,  dengan tema me­ngo­kohkan na­sio­nalisme di Ranah Minang de­mi terwujudnya kamtibmas dan har­monisasi masya­ra­kat.

Kepada awak media Sekretaris DPD GMNI Sumbar Pandu Putra Utama mengatakan, tujuan dari dilaksanakannya FGD dilaksanakan , agar GMNI Sumbar dapat mengawal isu-isu negatif yang dapat memecah belah persatuan di Ranah Minang.

Sebagai organisasi ke­pe­mudaan yang cinta damai, GMNI tentu berupaya me­nang­kal serta mengolah kem­­bali  isu hoax, aksi ra­di­kalis­me, serta sikap intoleransi yang dikembangkan oleh segelintir oknum, agar tidak marak terjadi di Sumbar.

“GMNI merupakan organisasi yang masih merawat pemikiran tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Ma­laka, Sutan Syahrir dan lainnya. Kita tidak ingin perjuangan para tokoh nasional terdahulu menjadi sia-sia, akibat ulah oknum yang berupaya memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu GMNI berupaya mengawal isu intoleransi, radikalisme dan isu hoax ini dengan sebaik-baiknya, agar dapat dinetralisir,” kata Pandu.

Pandu mencontohkan, beberapa persoalan yang terjadi di Sumbar saat seperti  aksi intoleransi beberapa orang yang melakukan persekusi gereja di Dharmasraya, tentu hal tersebut dapat memecah belah persatuan bangsa dan kabar hoax lainya yang beredar seperti vak­sin haram, dan isu Pilpres 2019 yang masih dihembuskan yang tentu dapat mengganggu harmonisasi masyarakat.

Pandu pun tentu tak ingin isu-isu ini terus ber­kem­bang. Ia mengharapkan kader GMNI sebagai pelopor barisan nasionalis, hadir sebagai antitesis memecahkan permasalahan yang ada dan mencari solusi atas permasalahan itu, seraya menjaga ketertiban masyarakat.

“Kita harus hadir sebagai kader kader nasionalis yang berguna untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Supaya rasa nasionalisme bisa terjaga dari Sabang sampai Merauke, dengan harapan jalinan persatuan yang telah dibangun dengan kuat, tak mudah terpecah belah,” ujarnya.

Pandu juga beranggapan, pemikiran nasionalisme kemanusiaan yang dicetuskan oleh founding father Tanah Air Soekarno dalam bingkai ideologi Pan­­casila perlu diterapkan.

Apalagi tantangan pancasila kedepan adalah meng­­hadapi ideologi liberalisme sangatlah berat. Bahkan belakangan ini, liberalisme menggerus ideo­logi nasionalisme yang membuat bangsa Indonesia kehilangan kultur budaya sendiri.

Ideologi liberalisme telah membuat penggunaan teknologi menjadi tak terkendali. Apalagi di zaman 4.0 dan 5.0 yang sangat erat kaitannya dengan dunia digital, Banyak berita hoax beredar sehingga masya­ra­kat menjadi terprovokasi.

Di era globalisasi yang menganut kebebasan ini pun, sikap toleransi dalam keberagaman menjadi ter­abaikan. Seperti banyak kaum minoritas belum men­dapatkan hak nya dengan baik. Padahal dalam UU Dasar sudah menjamin bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berpikir

Di sisi lain, ia menegaskan memelihara keamanan dan ketertiban ma­syarakat (Kamtibmas) pun juga harus menjadi perhatian kader GMNI Sum­bar. Sebab kalau daerah kita rentan dengan gang­guan kamtibmas, dapat memperlambat pembangunan nasional.

“Menerapkan nasionalisme kemanusian atau sosio nasionalisme di setiap daerah berbeda tantangannya. Hal ini terjadi karena ideologi liberalis telah me­rusak tatanan budaya kita. Jangan pula kita sebagai kader GMNI yang menganut nasionalisme, pemantik awal mula perpecahan di masyarakat. Bisa dimulai dari pribadi kita terlebih dahulu dengan menjaga sikap bermedia sosial, da­lam lingkungan keluarga, dan lingkungan masya­ra­kat,” tandasnya. (hen)