METRO PESISIR

P2TP2A sebagai Pusat Layanan Kekerasan Perempuan di Padangpariaman

0
×

P2TP2A sebagai Pusat Layanan Kekerasan Perempuan di Padangpariaman

Sebarkan artikel ini
P2TP2A Pusat Layanan Kekerasan Perempuan
DISKUSI—Yusrita Suhatri Bur saat diskusi usai acara hang gelar kemarin.

PDG.PARIAMAN, METRO–Ketua TP PKK Padangpariaman Yusrita Suhatri Bur, kemarin memaparkan peran Pusat Pelayanan Terpadu dalam upaya Pem­berdayaan Perempu­an dan Anak ( P2TP2A ) di hadapan pengelola Unit Kesehatan Sekolah (UKKS)  dan kepala sekolah se Pa­dangpa­riaman. Yusrita Suhatri Bur yang juga  Ketua P2TP2A hadir sebagai pemateri pada kegiatan pertemuan penguatan implementasi pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

Pertemuan ini Kepala Dinas Kesehatan Kabupa­ten Padangpariaman  Yu­tiardy Rivai. Saat itu Yu­tiardy Riva’i menyampaikan untuk terlaksananya program ini, perlu duku­ngan berbagai pihak, terutama dari lintas sektor dan lintas program. Agar pe­layanan kesehatan pada anak usia sekolah dan remaja terselenggara de­ngan baik. Sementara dia­wal pemaparan materinya, Yusrita menjelaskan peran dari P2TP2A ini sebagai pusat layanan penanganan korban kekerasan perempuan dan anak yang mudah dijangkau, sederhana dan aman. Juga sebagai lem­baga advokasi untuk pemenuhan hak korban ke­kerasan terhadap perempuan dan anak. Kemudian, sebagai pusat penyelenggara KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) kepada masyarakat mengenai hak perempuan dan anak. “A­nak adalah seseorang yang berusia kurang dari 18 tahun. Pada masa ini, anak sangat butuh pengawasan, perhatian  dan perlindu­ngan dari orang tua,” jelas Yusrita Suhatri Bur.

Baca Juga  Peringati HUT Korpri ke-53 dan HKN ke-60, Pemkab Gelar Bazar UMKM dan Pasar Murah

Yusrita mengatakan, bahwa pada saat ini sangat banyak terjadi kasus-kasus kekerasan. Baik kekerasan fisik, seksual, psikis atau bullying. Yang sangat mem­prihatinkan, hal itu terjadi umumnya di ling­kungan sekolah dan ling­kungan di sekitar rumah “Untuk mencegah terjadi­nya hal ini, diperlukan perhatian penuh serta kerjasama dari orang tua dan guru-guru di sekolah, serta kepedulian masyarakat sekitar. Terutama memberikan perhatian khusus terhadap Pendidikan Agama, norma dan adat serta pendampingan full dari o­rang dalam pembelajaran anak-anak. Karena di zaman serba digital seka­rang, anak sangat mudah sekali terpengaruh dan memberikan dampak buruk terhadap perilaku anak.

Ketua P2TP2A berha­rap, kepada orangtua dan guru untuk dapat melakukan pengawasan pada a­nak anak dalam menggunakan Gadget atau sejenisnya. Dalam kesempatan itu, Yusrita juga menjelaskan upaya pencegahan stunting yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupa­ten Padangpariaman dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Padangpariaman. “Saat ini, pemerintah sedang menggalakkan upaya cegah Stunting dengan 8000 HPK, yaitu sejak usia nol Kehamilan hingga usia remaja dan calon pengantin (anak usia 21 Tahun). Dimana dilakukan upaya intervensi spesifik, yaitu pemberian tablet tambah darah pada remaja putri guna mencegah terjadinya anemia,” jelas Yusrita.

Baca Juga  Wako Pariaman Bangga Prestasi Satriwan dan Santriwati

Dia menambahkan, u­paya lain adalah dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala pada anak usia sekolah dan remaja, serta menciptakan sekolah sehat, lingkungan bersih dan sehat. Kemudian, menyediakan menu bergizi dikantin sekolah yang merupakan salah satu upaya pemenuhan hak anak.

Kemudian Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Ka­bupaten Padangpariaman Eva Trisna Murni mengatakan pertemuan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Padangpariaman, dengan peserta pertemuan terdiri dari pengelola program UKS dan Kepala Sekolah SD, SLTP dan SLTA se Kabupaten Padangpariaman.  Pada pertemuan itu, juga dibahas upaya pencegahan stunting dari hulu hingga ke hilirnya. Upaya yang dilakukan tidak lagi pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK), melainkan sejak mulai kehamilan hing­ga anak usia 2 (dua) tahun.  Diakhir sesi, Ketua P2TP2A lakukan diskusi dan tanya jawab dengan peserta pertemuan. Materi yang dibahas secara umum diikuti oleh kepala sekolah, beberapa permasalahan yang dihadapi di sekolahnya masing-masing. (efa)