PAYAKUMBUH/50 KOTA

SDIT Mutiara Hati, Sekolah Perdana yang Ikut School of Randang

0
×

SDIT Mutiara Hati, Sekolah Perdana yang Ikut School of Randang

Sebarkan artikel ini
FOTO BERSAMA— Wakil Wali Kota Erwin Yunaz foto bersama siswa SDIT Mutiara Hati di sentra IKM Randang Payakumbuh.

PDG.KADUDUAK, METRO–Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Mutiara Hati Kota Payakumbuh menjadi sekolah pertama yang mengikuti Program school of randang yang digagas oleh Pemerintah Kota Payakumbuh di Sentra IKM Randang Kota Pa­yakumbuh, Kamis (17/3).

Dari keterangan Kepala SD Mutiara Hati Marnita Indra Dauly mengatakan siswanya tengah me­ngikuti ujian penilaian te­ngah semester genap dan praktek dalam seminggu ini, salahsatu materinya adalah praktek Seni Budaya Dan Prakarya (SBDP) memasak Randang. “Hari ini kami membawa 60 sis­wa kelas VI dan 5 guru pendamping. Siswa kami sangat antusias mengikuti praktek memasak di sentra IKM Randang Kota Payakumbuh, apalagi de­ngan peralatan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tentu ini men­jadi pengalaman baru bagi mereka,” katanya.

Seperti tahun lalu, kata Marnita, SDIT Mutiara Hati melakukan kerja sa­ma dengan salah satu Industri Randang yang ada di Kota Payakumbuh terkait dengan program ujian praktek dengan cara memasak Randang Ikan. “De­ngan adanya Program School of Randang, kami bersama para guru SDIT Mutiara Hati sangat se­nang dan insyaallah sehabis acara ini kami akan sampaikan kepada ketua yayasan untuk mengikut sertakan pelajar tingkat SMP,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Erwin Yunaz didampingi Kadisnakerin Yunida Fatwa mengatakan Kota Payakumbuh juga akan menjadi salah satu kota gastronomi, dan satu-satunya kandidat utama menjadi gastronomi du­nia dengan kuliner Randang.  Gastronomi atau tata boga adalah seni atau ilmu akan makanan yang baik (good eating). Menurut wikipedia, penjelasan yang lebih singkat menyebutkan gastronomi sebagai segala sesuatu yang berhubu­ngan dengan kenikmatan dari makan dan minuman.

Sumber lain menyebutkan gastronomi sebagai studi mengenai hu­bungan antara budaya dan makanan, di mana gastronomi mempelajari berbagai komponen budaya dengan makanan sebagai pusatnya (seni kuliner).  Hubungan budaya dan gastronomi terbentuk karena gastronomi adalah produk budidaya pada kegiatan pertanian sehingga pengejawantahan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusuri asal-usulnya dari lingkungan tempat bahan bakunya dihasilkan.

Baca Juga  Peduli Pencegahan Covid-19, Relawan 87 Sebar Ribuan Masker dan Vitamin

Menurut Erwin Yunaz, potensi ini ada di Payakumbuh. Dirinya menggambarkan, sebagai pe­ngambil kebijakan, peme­rintah atau kepala daerah harus mampu memikirkan dampak sebab dan akibatnya. Tujuan utama dari geliat City of Randang tak lain dan tak bukan untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. “Ba­yangkan saja untuk 1 tung­ku masak di Sentra IKM bisa memproduksi Randang berkapasitas 5 Kg. Maka bila ada 10 kelompok yang ikut dalam program school of Randang dalam sehari, maka Sentra IKM bisa menghasilkan 50 Kg randang. Bila dalam 1 Kg Randang butuh 4 butir kelapa, artinya ada 200 butir kelapa untuk sentra sehari dalam School Of Randang. Untuk 1 bulan, kurang lebih ada 6000 butir kelapa, ini baru untuk pemilik kelapa, belum lagi cabenya, dagingnya, dan lain-lain,” kata Erwin.

Makanya, kata Erwin Yunaz, Program School of Randang ini adalah program Pemerintah Kota Payakumbuh dalam rangka melestarikan budaya dan khas Minangkabau, yakni Randang. Erwin melihat semakin hari semakin banyak budaya-budaya baru yang datang dan mencoba merubah serta mempengaruhi tradisi dan karakter masyarakat, terutama dalam hal makanan khas.

“Contohnya Randang, dahulunya masakan ini menjadi favorit ataupun khasnya masyarakat, jaman waktu saya kecil se­tiap rumah di kampung itu tidak ada yang tidak bisa membuat randang, malahan setiap anak gadis Minang wajib dan harus bisa marandang,” ujar Erwin Yunaz.

Baca Juga  273 Jamaah Haji Kembali ke Limapuluh Kota, Satu Orang Belum Kembali

Erwin khawatir, tradisi marandang dari waktu ke waktu kebiasaan tersebut mulai memudar, untuk itu melalui program sekolah rendang atau School of Randang ini dirinya ingin kembali melestarikan tradisi mamasak randang seperti masa masa yang terdahulu. “Kita ingin ma­syarakat khususnya ge­nerasi muda Kota Payakumbuh bisa meneruskan tradisi marandang kembali. Program ini bebas untuk siapa saja, masyara­kat, organisasi, mahasiswa maupun pelajar S­MK, SMP dan SD, silahkan masukkan surat permohonan melalui Disna­ke­rin,” terang Erwin.

Atas nama Pemerintah Kota Payakumbuh, Wawako Erwin Yunaz memberikan apresiasi kepada Yayasan Mutiara hati melalui SDITnya yang telah ikut mendukung program pelestarian marandang bagi siswa/siswinya, Erwin berharap apa yang dilakukan oleh Mutiara hati ini bisa menjadi contoh bagi sekolah sekolah lainnya di Kota Payakumbuh.

Dari sisi Kepala Disnakerin Kota Payakumbuh Yunida Fatwa yang me­ngatakan program ini su­dah dipersiapkan sejak lama dan baru hari ini terlaksana, selama perjala­nan prosedur terus dileng­kapi dari administrasi sam­pai kelengkapan lainnya, tentunya rasa bahagia tersebut terasa hari ini. “Kami berharap kedepannya layanan ini bisa dimanfaatkan tak hanya oleh masyarakat Kota Pa­yakumbuh saja, mulai dari kelompok masyarakat, organisasi, wisatawan, mahasiswa maupun pelajar pun kami siap memfasilitasinya, silahkan bersurat dan sampaikan ke bidang sekretariat agar bisa diatur menurut jadwalnya,” kata Yunida. “Atas nama dinas tentu kami sangat bersyukur atas dukungan dan suport dari pimpinan, apalagi melalui program ini kedepannya ilmu memasak dan tradisi marandang akan selalu terjaga dan lestari sampai anak cucu kita,” pungkasnya. (uus)