METRO PADANG

Tradisi Mambukak Kapalo Banda dan Ratik Tulak Bala di Pauh IX, Irwan Basir: Miliki Nilai Kebersamaan, Goro dan Silaturahmi

1
×

Tradisi Mambukak Kapalo Banda dan Ratik Tulak Bala di Pauh IX, Irwan Basir: Miliki Nilai Kebersamaan, Goro dan Silaturahmi

Sebarkan artikel ini

KURANJI, METRO–Ninik mamak Kanagarian Pauh IX, Kecamatan Kuranji, menggelar alek tradisional mambukak kapalo banda sekaligus ratik tulak bala. Kegiatan yang merupakan nilai- nilai kearifan lokal ini diawali dengan Mandabih Kabau (sembelih kerbau – red) di Tapian Suku Jam­bak Nan Batujuh Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji Kota Padang, Minggu (13/3).

Selain itu alek tradisi dihadiri ninik mamak bajinih di Sembilan Tapian Nagari Pauh IX Kuranji. Panitia Alek Mambukak Kapalo Banda Ratik Tulak Bala Syahrial Iyai Malin Marajo mengatakam, kegia­tan me­­ru­pakan warisan yang di­­warisi secara turun temu­run sejak du­lunya.

“Alek ini dilaksanakan apabila akan turun ke sa­wah lalu dilakukan alek mmabukak kapalo Banda sekaligus ratik tulak bala ini,” ujar Iyai.

Kegiatan ini juga dilatarbelakangi dengan hasil panen masyarakat yang agal tak sesuai dengan yang diharapkan karena serangan bala. Kegiatan ini diangkat secara gotong royong dari lima suku yang ada di Nagari Pauh IX, terutama dalam membeli kerbaunya.

Ia mengharapkan alek ini terus dilaksanakan pa­da masa mendatang, dilaksanakan masyarakat adat. “Mudah-mudahan kegiatan ini diridhoi Allah SWT, sehingga kelak hasil panen masyarakat kembali membaik. Dan bala atau bencana jauh dari kehidupan anak kemenakan,” katanya.

Selain itu  saat ini negeri ini tengah dilanda bencana non alam seperti virus Covid-19 ini, maka diharapkan bencana virus ini segera enyah dari negeri ini. Sehingga kehidupan kem­bai normal, padi manjadi jaguang maupih. Masyarakat hidup aman sentosa dan sejahtera.

Baca Juga  Canting Elektrik Dukung Workshop Batik

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pauh IX Ku­ranji Suardi Dt Rj Bujang mengatakan, kegiatan ini merupakan warisan ninik-ninik di nagari ini. Telah dilaksanakan secara turun temurun, terutama di saat panen masyarakat karena serangan bala berupa ha­ma. Namun, hanya saja baru kali ini pengurus KAN berkesempatan hadir da­lam kegiatan ini.

Ditambahkan Suardi, sebelumnya kegiatan yang sama seperti sejak ia masih remaja, telah pernah me­ngi­kutinya saat dilaksanakan di Gunung NagoPauh. Kemudian dalam alek mam­bukak kapalo banda dan ratik tulak bala ini ikut ninik mamak ikut berpartisipasi membantu secara finansial. Sebab, ia sebagai penghulu suku Caniago juga tak luput berpartisipasi membantu alek ini.

Ketua MPA KAN Pauh IX Kuranji Kota Padang Irwan Basir Dt Rajo Alam SH MM mengatakan, alek Mam­bukak Kapalo Banda dan Ratik Tulak Bala ini merupakan bagian dari nilai-nilai kearifan lokal. Selain itu alek ini juga merupakan bentuk kebersama­an dan silaturahmi di anak nagari. Dan alek ini penuh berisikan nilai-nilai gotong royong dari masyarakat hukum adat dari lima suku di Nagari Pauh IX.

“Alek ini juga bagian dari bentuk kebersamaan, hiduik surang basampik sam­pik -hidup basamo balapang lapang atau saciok bak ayam sadantiang bak basi. Sekaligus melestarikan nilai adat dan budaya yang adoh di Nagari Pauh IX terutama di Kuranji yang masih kental dengan kehidupan adat dan budaya,” ujar Irwan.

Baca Juga  Pemprov-Bapanas Salurkan 388 Ton Bantuan Beras ke Daerah Terdampak Bencana

Dikatakan Irwan, alek ini hendaknya dilestarikan, karena alek ini merupakan potensi nilai  kearifan lokal di Tapian Suku Jambak Nan Batujuh Nagari Pauh IX. “Mari dijaga pilar pilar dan sendi sandi serta jati diri sebagai masyarakat hkum adat. Sehingga bencana dan bala jauh dari Pauh IX ini. Sehingga anak kemenakan hidup dalam aman dan sejahtera,” lanjutnya.

Diharapkan Irwan,  dari sekarang hingga ke depan, diharapkan ninik mamak nan bajinih yang ada di Kanagarian Pauh IX saling memperkuat tapian dari sukunya masing-masing. Dan tapian masing-masing suku diharapkan segera melengkapi perangkat pemangku adatnya. Sehingga, jika anak kemanakan bermasalah bisa diselesaikan ninik mamak bajinihnya.

Selain itu, ninik mamak bajinih setiap tapian pahan Tupoksi-nya masing-masing  jangan masalah internal suku kita diseret-seret keluar. Dan ironinya, ma­salah suku diseret ke lembaga yang bukan wewe­nangnya mengurus ninik mamak yang baurek tunggang di nagarinya.

Sementara, lembaga tempat melayangkan surat menyangkut sukunya, hanya lembaga yang didirikan dari rahim politik, mulai dari provinsi hingga ke kecamatan. “Tidak ada urusannya mengurus ninik mamak bajinih yang baurek tunggang dan mambosek dari nagarinya masing-masing,” ujar Irwan.

Irwan menekankan, ni­nik mamak terutama ninik mamak bajinih jangan se­kali-kali marah menghantamkan kaki ke tanah. Marah menghantamkan ta­nah itu bukan pakaian ninik mamak, tapi pakaian dubalang. (boy)