PAYAKUMBUH, METRO–Rekonstruksi kasus pengeroyokan terhadap seorang siswa SMKN 2 Payakumbuh, berujung maut, Jumat (4/2), siang berlangsung dengan pengawalan ketat pihak kepolisian. Ratusan masyarakat sekitar lokasi “menonton” adegan demi adegan pada rekonstruksi yang diperagakan Lima orang tersangka.
Diketahui, pada adegan ke-15 dari 30 adegan rekonstruksi yang menyebabkan siswa SMKN 2 Payakumbuh bernama Habib Fahri (20) meninggal usai mendapatkan perawatan medis di RS Achmad Muhtar Bukittinggi, Selasa (1/2), sempat terjatuh karena tendangan dan pengeroyokan dilakukan lima orang tersangka, yang menyebabkan kepala korban terbentur ke-bagian motor yang dikenderai korban.
Diketahui, setelah korban jatuh pada adegan ke-19, salah seorang tersangka menginjak kepala korban. Dan pada adegan ke-20 salah seorang saksi yang tidak jauh dari tempat jatuhnya korban mulai mencoba melerai perkelahian yang tidak seimbang itu. Kemudian saksi membawa korban kedekat rumah dan korban sempat melap darah yang keluar dari bagian kepalanya.
Tidak lama berselang dalam keadaan sadar korban dibawa salah seorang guru SMKN 2 Payakumbuh ke sekolah dengan menggunakan motor. Kemudian korban dibawa ke RSUD Adnan Wd Payakumbuh sebelum di rujuk ke-RS Achmad Muchtar Bukittinggi untuk mendapatkan perawatan medis. Naas nyawanya tidak bisa diselamatkan.
Awalnya, pertengkaran dimulai pada adegan kedua saat korban Habib Fahri mengendarai sepeda motor bersama temannya dari arah sekolah. Pada saat itu salah satu tersangka memanggil korban.
Pada adegan ketiga, korban berhenti dan salah seorang tersangka menendang bahu korban yang membuat motor korban oleng. Setelah itu terjadi perkelahian antara keduanya. Di adegan ke-9, empat teman lainnya datang ke lokasi perkelahian dan di adegan ke-10 mulai terjadi pengeroyokan.
Kasat reskrim Polres Payakumbuh AKP Aknopilindo, mengatakan bahwa korban sempat dibawa ke sekolah kemudian korban dilarikan ke Rumah Sakit Adnaan WD sebelum dirujuk ke RSAM Bukittinggi. Kemudian Lima orang tersangka masing-masing AM (18) JA (17), BH (17), MA (16), dan RM (16) yang merupakan adik kelas dari korban, lari setelah kejadian peleraian oleh masyarakat.
“Kita melakukan rekontruksi dengan 30 adegan. Jumlah itu jauh melebihi dari perkiraan kita hanya 22 adegan. Dan memang korban sempat dibawa ke sekolah sebelum dibawa ke RSUD Adnan Wd Payakumbuh. Dan memang disalah satu adegan korban jatuh,” sebut Kasat.
Pengacara Lima orang tersangka Setia Budi, SH menyampaikan apresiasi kerja cepat Polres Payakumbuh melalui Kasatreskrim. “Ini kasus anak, dan memang harus cepat. Kita apresiasi kecepatan Satreskrim dan rekostruksi ini berjalan aman dan lancar,” sebutnya.
Dirinya mengaku prihatin dengan kejadian perkelahian yang berujung meninggalnya korban. Dia juga mempertanyakan terkait pengawasan dari Sekolah dan Dinas Pendidikan Sumbar. Mengingat, sebelumnya juga nyaris terjadi tauran antara SMKN 2 Payakumbuh dengan salah satu sekolah di Payakumbuh.
“Pengawasan dari Dinas Pendidikan Sumbar harusnya bisa mendeteksi kondisi ini. Karena sebelumnya juga nyaris terjadi tauran. Dan kita juga meminta Dinas Pendidikan Sumbar memberikan sosialisasi hukum kepada siswa,” harapnya.
Hal ini, disampaikannya, mengingat saat ini banyak tontonan baik di TV maupun di media You Tube tontonan sparing di ring. Setidaknya hal ini mempengaruhi mental dan prilaku anak. Maka, saatnya anak didik perlu diberikan pemahaman terhadap hukum. “Dinas pendidikan harus mensosialisasikan pemahaman hukum kepada anak didik,” sebutnya. (uus)






