KHATIB, METRO–Minyak goreng (migor) masih menjadi incaran para emak-emak. Saat ini di pasar-pasar tradisional di Kota Padang, mobil yang menjual minyak goreng Rp30 ribu ukuran 2 liter menjadi rebutan kaum ibu ini.
Pantauan POSMETRO di Pasar Belimbing, Kecamatan Kuranji, minyak goreng kemasan merek Sari Murni ukuran 2 liter dijual dengan harga Rp30 ribu. Itupun berebut membeli. “Ambo bali langsuang. Soalnyo beko takuik maha baliak. Apolagi urang ka puaso,” sebut Ami (45), ibu rumah tangga.
Sebelumnya, Ami mengaku membeli minyak goreng dengan harga Rp38 ribu ukuran dua liter. Bahkan ada juga yang menjual hingga Rp40 ribu. Perbedaan harga yang mencapai Rp10 ribu membuat ia memburu minyak goreng murah tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Padang, Andree Algamar mengimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu memborong minyak goreng dengan harga Rp14.000/liter di pasaran.
Dikatakan Andree, stok minyak goreng yang ada saat ini sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Jangan cemas stoknya ada cukup untuk 6 bulan ke depan,” ungkap Andre.
Andree menjelaskan, Pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp7,6 triliun yang akan digunakan untuk membiayai penyediaan minyak goreng kemasan bagi masyarakat. “Sebesar 250 juta liter per bulan atau 1,5 miliar liter selama enam bulan,” jelas Andre.
Meski demikian, hingga kini harga migor Rp14 ribu/liter belum merata dijual pedagang disejumlah pusat perbelanjaan dan juga swalayan, minimarket. Beberapa minimarket dan swalayan masih menjual minyak goreng dengan harga kisaran Rp18 ribu/liter.
Sebelumnya, kebijakan Pemerintah terkait implementasi minyak goreng satu harga Rp14.000,- per liter untuk semua jenis kemasan sudah dimulai 19 Januari 2022 lalu. Sejak dijual dengan harga murah terjadi kepanikan masyarakat dalam membeli minyak tersebut.
Untuk diketahui panic buying terjadi setelah pemerintah mensubsidi dan memberlakukan kebijakan minyak goreng satu harga di seluruh Indonesia Rp 14.000 per liter. Masyarakat mendatangi toko-toko kelontong dan waralaba untuk mendapatkan minyak goreng dengan harga murah.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Perdagangan, kebijakan ini tidak hanya dibuka beberapa hari atau minggu saja, melainkan 6 bulan lamanya. Namun, nyatanya panic buying tidak bisa dihindarkan di hari pertama pemberlakuannya. Banyak toko langsung kehabisan stok minyak goreng. Sebagian masyarakat tidak kebagian.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, fenomena tersebut sudah biasa terjadi. Di mana ada barang murah di ritel modern, masyarakat “kalap” membeli seolah besok barang tak ada lagi.
“Padahal arus suplai kan normal. Tapi masyarakat menyerbu seolah-olah besok nggak ada barang,” kata Oke saat berdialog di acara televisi swasta, dikutip Sabtu (22/1).
Dia menjelaskan, jika barang di ritel modern habis, bukan berarti ketersediaan minyak goreng yang di disediakan Pemerintah itu habis. Padahal, distribusi di ritel modern memang dibatasi untuk menjaga pemerataan kebutuhan minyak goreng pada masyarakat. “Ritel modern dua jam habis, terus masyarakat mengira minyak goreng nggak ada lagi. Karena jalur normal seperti itu di ritel modern. Walaupun kita tambah kapasitas, tapi jalur distribusi normal di ritel modern itu ya terbatas seperti itu,” terang Oke.
Ditegaskan, minyak goreng satu harga yang disediakan Pemerintah akan tersedia sampai enam bulan ke depan. Sehingga masyarakat tak perlu khawatir keesokan harinya tidak punya minyak goreng. “Subsidi ini kan sampai enam bulan. Tapi yang sekarang ini dipeributkan itu dalam satu minggu pertama. Saat ini pun, karena komunikasi yang transparan kepada masyarakat, masya rakat jadi tahu dan langsung berbondong-bondong ke ritel modern,” ujar Oke.
“Kesempatan memperoleh minyak goreng satu harga ini masih panjang, masih sangat terbuka untuk rumah tangga dan pelaku usaha kecil dan mikro (UKM),” tandasnya. (tin)





