METRO SUMBAR

Hadiri Batagak Panghulu, Audy Ajak Tungku Tigo Sajarangan Perkuat Sinergi

0
×

Hadiri Batagak Panghulu, Audy Ajak Tungku Tigo Sajarangan Perkuat Sinergi

Sebarkan artikel ini
DISAMBUT—Wakil Gubernur Audy Joinaldy saat sampai di lokasi acara batagak panghulu disambut sejumlah pejabat dan panitia.

PASBAR, METRO–“Pincanglah biduak rang Tiku, badayuang sambia  manungkuik, Basilang kayu dalam tungku, baitu api  mangkonyo iduik. Bulek aia dek pambuluah. Bulek kato dek mufakat.  Bulek samo digolongkan. Pipih samo dila­yangkan”. Begitu ungkap Wakil Gubernur Audy Joinaldy mengutip pepatah Minang pada  Upacara Batagak Pangulu Andiko Ampek Koto Kinali, Dt. Sutan Bando Rajo di Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Kamis (5/1).

Pada kesempatan berjumpa de­ngan tokoh-tokoh adat maupun alim ulama dan cadiak pandai tersebut, Audy mengajak para datuak untuk semakin bersinergi membangun daerah. Menurutnya sinergitas tung­ku tigo sajarangan ditambah bundo kanduang dan generasi muda merupakan kunci dalam menggali potensi di nagari.

“Saya yakin setiap Nagari memiliki potensi masing-masing yang  bisa dikembangkan kedepan, tinggal bagaimana kita secara bersama-sama mengolah dan memanfaatkan menjadi nilai  tambah untuk kemajuan Nagari”, ujar Audy.

Baca Juga  Mahyeldi-Vasko akan Gerak Cepat Cetak Generasi Muda yang Tangguh dari Segala Aspek

Ia menjelaskan, datuak mempunyai tanggung jawab yang besar. Datuak wajib  hukumnya mengetahui dan mengerti serta memahami nilai-nilai  adat. Layaknya ulama yang juga harus paham akan nilai-nilai agama.

“Maka dari itu, momentum malewakan panghulu pada hari ini kita maknai  secara mendalam bagaimana peran penting seorang panghulu  yang diberi gelar Datuak. Sebagai­mana kita ketahui Datuak merupakan gelar adat tertinggi di Minangkabau”, lanjutnya.

Terakhir Audy juga mengajak agar  penghulu  terus meningkatkan pendidikannya dan ilmu  pengetahuannya dalam bidang kepemimpinan dan hukum adat,  terutama sekali yang berkaitan tentang sako dan pusako sebagai Hal penting yang dirasa dewasa ini. Mengingat sako dan pusako terkadang tak terelakan menjadi akar konflik di masyarakat.

Baca Juga  Lagi, Polres Pessel Salurkan Bansos Beras

Menyikapi kondisi demikian, me­nurut Audy para tokoh masyarakat dituntut untuk kembali menyelami pengetahuan terkait hal tersebut.

“Semua fenomena itu tentu tidak akan terus menerus terjadi jika  seluruh unsur lembaga-lembaga adat mulai dari Pemerintahan  Nagari, KAN, LKAAM Kabupaten/Kota serta para pemangku adat kembali bertegas-tegas menyikapi perubahan sosial yang terjadi  dengan menegakkan nilai-nilai adat. Karena itu semua komponen  harus bersinergi dengan memegang teguh filosofi “Adat Ba­sandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”, tutup Audy kembali mene­gaskan. (fan)