METRO PADANG

Suami Menghilang, Biaya Hidup Ditanggung Nenek yang Bekerja sebagai Tukang Cuci, Ibu Bayi Kembar 3 Butuh Bantuan Dermawan di Kota Padang

0
×

Suami Menghilang, Biaya Hidup Ditanggung Nenek yang Bekerja sebagai Tukang Cuci, Ibu Bayi Kembar 3 Butuh Bantuan Dermawan di Kota Padang

Sebarkan artikel ini
RAWAT BAYI KEMBAR 3 — Suci Agrilen (34), menggendong satu dari tiga bayi kembarnya yang dilahirkan melalui SC di RS BMC, Tarandam, 21 November 2021 lalu. Sejak suami menghilang, ia kini menggantungkan hidup kepada sang ibu yang bekerja sebagai pencuci pakaian.

ALANGLAWEH, METRO–Kanza, Kiano dan Ke­nan adalah bayi kembar tiga yang lahir melalui ope­rasi bedah cesar yang tidak mudah. Bayi kembar dari pasangan Suci Agrilen (34) dan Refaldi (50) lahir de­ngan selamat di RS BMC, Tarandam, pada 2 November 2021 lalu.

Namun, sayangnya ke­tika bayi ini berusia 3 bulan 2 hari dan tengah lucu-lucunya, sang ayah meng­hilang begitu saja, tanpa ada kabar. Suci yang masih belum bisa bergerak ba­nyak karena melahirkan dengan operasi (SC) pun tak ada pekerjaan.

Kini Suci yang tinggal di rumah kontrakan di Alang­laweh No.7, Petak 5, Keca­matan Padang Selatan (be­lakang kantor Bulong, Alang­laweh-red) tersebut tinggal bersama ibunya, Ayang (56). Bersama ibu­nya itulah Suci dan ketiga bayi kembarnya menggan­tungkan hidup.

“Anak saya Suci baru melahirkan, sakit habis operasi belum hilang. Apa­lagi dia melahirkan bayi kembar 3, tentu tidak mu­dah bagi dia. Sekarang, suami juga pergi tak ada kabar. Sekarang, saya ha­rus kerja keras mencari uang untuk ketiga cucu saya ini,” sebut Ayang ketika dijumpai POS­MET­RO, Kamis (6/1).

Wanita tua yang sudah mulai keriput ini, mengaku harus membanting tulang demi si kembar dengan harapan mendapatkan hi­dup layak seperti anak-anak lainnya. “Sebagai ne­nek­nya, tentu saya ingin cucu-cucu saya ini tumbuh de­ngan sehat dan men­da­pat kasih sayang dari orang­tuanya seperti anak-anak lainnya. Kami butuh­kan adalah kesederhanaan saja. Hanya itu,” ucap Ayang ditemani Suci, kemarin.

Diceritakan Ayang, bah­wa Kanza, Kiano dan Kenan, kelahiran ketiga cucu kembarnya itu adalah nikmat yang besar dari Allah SWT. Tidak banyak ibu di dunia ini yang diperca­yakan oleh Allah menda­patkan bayi kembar. Bukan 2, tapi kembar 3.

“Karena itu saya tak pernah putus asa untuk menyediakan kebutuhan mereka. Bayangkan saja, satu hari si kembar meng­habiskan uang Rp400 ribu. Biaya pampers isi 26 habis dua hari dan susu  Babelac 800 gram habis dua hari.  Belum lagi untuk biaya perlengkapan bayi lainnya yang dibutuhkan,” tutur Ayang, yang bekerja seba­gai tukang cuci pakaian ini.

Sementara untuk  ibu si kembar tidak bisa berbuat apa apa karena operasi SC yang dialaminya masih be­lum sehat. Suci, ibu si kem­bar 3 ini hanya bisa mera­wat anak-anaknya dengan kesedihan yang mendalam.

“Untuk menutupi kebu­tu­han tiga cucu kembar saya ini, saya ke luar ru­mah subuh hari untuk men­cari rejeki demi si kembar. Men­cari rejeki dari rumah ke rumah orang sebagai tu­kang cuci dan menyetrika  pakaian. Yang ada dalam benaknya saya adalah si kembar harus sehat, tum­buh dan tak ku­ rang gizi seperti anak-anak lain,” ucap Ayang, lirih.

Ayang tak menapik ke­mungkinan jika ada para dermawan yang memban­tu, dia sangat berterima­kasih sekali. “Yah.., jika ada para dermawan yang ber­niat membantu untuk biaya sehari hari si kembar ini, saya sangat berterimaka­sih sekali,” ucap Ayang.

Sementara Suci, ibu dari bayi kembar 3 ini me­nga­takan, saat operasi SC di BMC, ia tidak mengeluar­kan biaya karena ditang­gung BPJS. Tapi untuk keter­sediaan uang di kantong biaya Kanza, Kiano dan Kenan tak ada.

Saat si kembar  lahir Kanza memiliki berat 1,9 kg panjang 44 cm, Kiano 1,8 kg panjang 43 cm dan Kenan 2,8 kg panjang 43 cm.

“Saya berharap ada­nya bantuan para derma­wan untuk ketiga si kem­bar ini..,” sebut Suci. (ped)