METRO PADANG

Usaha Lumpuh Total saat Pandemi, Rian Sulap Botol Kaca jadi Karya Seni, Omzet Hingga Jutaan Rupiah/Bulan

0
×

Usaha Lumpuh Total saat Pandemi, Rian Sulap Botol Kaca jadi Karya Seni, Omzet Hingga Jutaan Rupiah/Bulan

Sebarkan artikel ini
UKIRAN LAMPU KACA — Rian Afdol (28), tengah mengukir di botol kaca dengan menggunakan mesin drill mini. Hasil karya seninya ini banyak disukai dan dipesan yang dijual melalui media sosial (medsos).

GAGAL dalam usaha percetakan hingga menyebabkan hilangnya peker­jaan akibat pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangat Rian Afdol (28) untuk melanjutkan hidup. Dengan bakat mengukir yang dimilikinya, ia berhasil membuat lampu hias dari botol kaca bernilai jual tinggi.

Kini, hanya dengan bermodalkan mesin drill mini, lulusan jurusan Studi Perbandingan Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang tersebut berhasil menyulap limbah botol kaca menjadi lampu hias ukir yang memiliki nilai jual.

Selasa (21/12), POSMET­­RO berkesempatan datang ke salah satu ruangan yang berada di kawasan kampus UIN Imam Bonjol Padang, melihat langsung bagaimana Rian Afdol memadukan permainan tangan dan pikirannya untuk dituangkan ke botol kaca hingga menghasilkan ukiran yang sangat indah dilihat mata.

Saat baru memasuki ruangan tersebut, deru mesin drill mini beradu dengan botol kaca jelas terdengar. Terlihat motif yang diukir di botol kaca tersebut menyerupai bangunan Rumah Gadang.

Dikatakan Rian, berawal dari hilangnya pekerjaan di bidang percetakan akibat pandemi Covid-19, Rian kemudian menyibukkan diri untuk mengukir botol-botol kaca bekas yang dia temukan di sekitar lingkungan. Siapa sangka botol kaca ukir tersebut ketika dijual bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

“Jadi sekitar tahun 2020 lalu, saya bekerja di Jakarta di bidang percetakan. Karena sepi pembeli akibat Covid-19 saya putuskan untuk pulang kampung ke Padang dan mencoba peruntungan baru,” jelas Rian.

Awalnya Ia tidak berencana untuk membuat kerajinan botol kaca ukir melainkan mengukir dengan menggunakan media kayu, besi, dan alumunium.

“Ayah saya kebetulan bekerja sebagai tukang kayu, jadi sisa kayu itu banyak di rumah sehingga saya memilih mengukir motif di media kayu tersebut,” katanya.

Karena mengukir di media kayu, besi, dan aluminium sudah banyak dilakukan oleh orang maka dirinya mencoba untuk mencari sesuatu yang baru yang belum pernah atau jarang dibuat oleh orang lain sehingga munculah ide untuk memanfaatkan media botol kaca.

“Selain jarang ditemukan, bahan-bahan yang dibutuhkan juga sangat mudah ditemukan dan tidak menghabiskan biaya yang banyak. Botol-botol kaca itu didapatkan dari tempat sampah maupun yang ditemukan di sekitar tempat  tinggal,” katanya.

Rian mengungkapkan, proses pengukiran sendiri terbilang sangat mudah. Sebelumnya botol-botol kaca bekas itu dibersihkan. Kemudian diukir motif yang diinginkan di permukaan botol kaca dengan menggunakan alat drill mini.

“Untuk motif yang saya buat sendiri cenderung motif ukir Minang yang sedikit diubah dengan gaya baru. Namun saat ini, mulai saya kombinasikan motif Minang dengan beberapa motif ukir dari negara lain seperti India,” ungkapnya.

Setelah proses pengukiran selesai, selanjutnya dibuat wadah untuk memasang botol kaca ukir itu dengan lampu hias. Wadah tersebut menggunakan bahan dasar kayu yang juga sudah diukir atau dibuat sedemikian rupa.

“Biasanya, dalam satu hari saya bisa membuat sebanyak 2 botol kaca ukir. Bahkan ada beberapa karya yang dibuat menghabiskan waktu sampai berminggu-minggu karena tingkat kerumitan motif yang dibuat sangat tinggi,” imbuhnya.

Diakuinya, pada awal-awal pembuatan, Rian sempat mengalami kesulitan dalam mengukir di permukaan botol kaca bahkan sempat beberapa botol kaca pecah saat  diukir. Namun seiring berjalannya waktu, kesulitan itu bisa diatasi.

Ia menambahkan, motif yang diukir di permukaan botol kaca bisa dipesan oleh pembeli sesuai dengan keinginan mereka. Pastinya semakin rumit dan besar botol kaca ukir yang dibuat maka akan semakin mahal harganya.

“Harga satu botol kaca ukir ini berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu sesuai dengan bentuk motif atau kerumitannya dan ukuran botol kaca ukir tersebut,” tutur Rian.

Sementara itu untuk pemasaran kerajinan, saat ini Rian lebih memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan karya-karya seni yang ia buat. Pembeli sendiri tidak hanya berasal dari Provinsi Sumbar saja tapi beberapa daerah di luar Sumbar.

Dari mengukir limbah botol kaca tersebut, Rian bahkan berhasil mendapatkan penghasilan sampai jutaan rupiah per bulan. Penghasilan akan semakin bertambah jika ada momen tertentu seperti pernikahan, ulang tahun dan hari raya besar agama. ”Jadi selain bisa mendukung program pengolahan atau daur ulang sampah, dari kerajinan ini bisa menambah penghasilan untuk kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Ia berharap agar karya seni atau kerajinan botol kaca ukir ini bisa dikenal luas oleh masyarakat sehingga semakin banyak pesanan masuk sehingga akan terbuka lapangan pekerjaan dari kerajinan ter­sebut. (rom)