METRO PADANG

Andre Rosiade: CSR BUMN Wujudkan Pemberdayaan Umat, Penyaluran Berpihak pada Masyarakat

0
×

Andre Rosiade: CSR BUMN Wujudkan Pemberdayaan Umat, Penyaluran Berpihak pada Masyarakat

Sebarkan artikel ini
KEYNOTE SPEAKER— Anggota DPR RI Andre Rosiade saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan diskusi terkait dengan ”Peran BUMN untuk Pemberdayaan Umat” di Hotel Whiz Prime, Kota Padang, Kamis (16/12).

KHATIB, METRO–Saat ini, Kementerian BU­MN menjalin kolaborasi de­ngan semua pihak, tak terke­cuali organisasi keagamaan. Kolaborasi de/ngan organisasi-organisasi milik umat diyakini dapat mengakselerasi tum­buh­nya perekonomian.

Sebab, organisasi ini me­miliki dukungan ke­kua­tan pentahelix atau multi­sektor, yaitu kekuatan pe­me­rintah, kekuatan komu­nitas/ma­sya­ra­kat, kekua­tan akademisi, kekuatan dunia usaha dan kekuatan media.

Demikian disampaikan Anggota DPR RI Andre Rosiade saat menjadi keynote speaker dalam kegia­tan diskusi terkait dengan “Peran BUMN untuk Pem­berdayaan Umat” di Hotel Whiz Prime, Kamis (16/12).

Bicara pemberdayaan, jelas Andre, BUMN memi­liki kewajiban untuk me­nyisihkan sebagian laba usahanya dalam rangka mendukung pengemba­ngan dan pemberdayaan berbasis lingkungan sesuai dengan UU tentang BUMN (UU No 19/2003) dan UU tentang Perseroan Ter­batas bila bentuk BUMN-nya adalah persero.

Ia menekankan, program bantuan CSR atau dalam terminologi BUMN saat ini dikenal dengan sebutan TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Ling­kungan) merupakan komit­men Kementerian BUMN untuk membantu masya­rakat secara luas.

“Bahkan saat ini Ke­menterian BUMN juga su­dah merevisi kebijakan pe­nyaluran CSR agar se­makin berpihak kepada masya­rakat,” kata anggota Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan Ke­men­terian BU­MN ini secara virtual.

Ketua DPD Partai Ger­in­dra Sumbar ini menga­takan, secara garis besar, ada dua kebijakan CSR BUMN saat ini, antara lain: Pertama, untuk kembali merawat alam atau sustai­nability. Kedua, merawat manusianya de­ngan pe­ningkatan kapa­sitas mela­lui bantuan pen­didikan.

Kemudian, kata ketua harian DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM) ini, paling tidak saat ini terdapat tiga peran utama BUMN dalam pemberdayaan umat, an­tara lain: Pertama, mena­namkan akhlak. Pemba­ngunan serta pemulihan ekonomi harus diiringi de­ngan pembangunan manu­sianya.

Dalam perspektif Islam, pembangunan ekono­mi bersifat material dan spiritual, yang mencakup pula pembangunan sum­ber daya manusia (SDM), sosial dan kebudayaan. Dalam perkataan lain dam­pak pembangunan adalah menyeluruh, sebagaimana konsepsi Islam sebagai agama yang menyeluruh. Bukan hanya ekonomi yang bersifat material tetapi juga pembangunan nonmaterial yang bersifat spiritual, akhlak, sosial dan kebu­dayaan.

Ia menyebutkan, kua­litas SDM pelaku pemba­ngunan pun sangat menen­tukan ting­kat keberhasilan pemba­ngu­nan ekonomi umat. “Karena itu pemba­ngunan SDM sa­ngat diper­lukan. Di sinilah letak fungsi dan peran BU­MN sebagai tangan panjang negara harus mampu me­metakan semua potensi SDM dan sumber daya alam (SDA) untuk dikelola dengan mak­simal, guna men­cip­takan kesejahteraan,” pa­par Andre.

Kedua, sebut Andre, perekonomian umat. Yaitu dengan mengedukasi ma­syarakat tentang peran penting ekonomi umat da­lam ekonomi Nasional.

Baca Juga  Cuekin Petugas, 4 Lapak PKL di Proklamasi Ditertibkan, Gunakan Trotoar dan Badan Jalan

Sejarah kata Andre, mencatat hadirnya kota-kota di Indonesia menja­dikan masjid sebagai kom­ponen pembentuk perada­ban. Pada perkemba­ngan­nya masjid menjadi identi­tas kota. Umumnya masjid sudah menjadi tempat iba­dah dan ziarah. “Dam­pak­nya, di sekitar lokasi masjid menjadi pusat ekonomi umat,” ujar Andre.

Saat ini, Andre menye­butkan, jumlah pondok pe­santren (ponpes) di Indonesia pada Triwulan I-2021 sebanyak 31.385 ponpes dengan jumlah santri se­kitar 4,29 juta orang. Dari jumlah tersebut, 44,2 per­sen di antaranya memiliki potensi ekonomi.

Masjid dan pesantren memiliki potensi ekonomi yang sangat besar yang bermanfaat bagi umat dan masyarakat luas. Selama ini pesantren telah mampu mandiri dalam membiayai operasional pesantren, namun tetap memerlukan perhatian pemerintah me­lalui pemberdayaan eko­nomi.

Pemberdayaan eko­no­mi umat ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan, pendampingan, inkubasi, dan dukungan teknis serta akses per­modalan. Bisnis yang dija­lankan oleh pesantren per­lu menyesuaikan dengan potensi dan segmentasi pasar.

“Kewirausahaan ber­pe­ran penting dalam per­tumbuhan ekonomi nasio­nal, mulai dari menciptakan lapangan kerja baru, me­ningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa, mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial, serta terciptanya ekonomi umat yang kokoh,” tutur Andre.

Ketiga, membangun si­nergi. Yaitu dengan men­sosialisasikan sinergi anta­ra BUMN dengan sektor keagamaan. Dalam satu hadisnya, Nabi Muham­mad SAW menyatakan, bahwa mukmin yang satu dengan yang lainnya ba­gaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya.

Oleh sebab itu, kata An­dre, dalam konteks mem­bangun ekonomi umat yang kuat dan memberi manfaat bagi banyak orang, maka patut terus didorong agar perusahaan BUMN juga memberi manfaat bagi ma­syarakat, dalam bentuk pro­duk dan inisiatif yang dila­kukan perusahaan tersebut.

“Di berbagai daerah, di Jawa Tengah dan Jawa Ba­rat misalnya, saya melihat ber­bagai perusahaan BUMN bersinergi dengan berbagai lapisan di masyarakat. Salah satunya sinergi Pertashop yang dikelola Pertamina dengan ragam latar bela­kang masyarakat di dae­rah, desa, dan pondok pesantren,” terang Andre.

“Terdapat pula BRI Link yang dikelola BRI dan BSI yang berkomitmen mem­berikan dukungan produk dan jasa layanan perban­kan bagi UMKM di lingku­ngan/ekosistem pesan­tren, mulai dari agen Laku Pandai, modal kerja untuk usaha, termasuk jika ingin membuka Pertashop,” sam­­bung Andre.

Andre menegaskan, sebagai anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Ge­rindra, dirinya memiliki ko­mitmen kuat dalam pem­berdayaan umat. Sebagai contoh, berbagai program bantuan sarana dan bea­siswa pendidikan, pelatihan usaha, serta program pem­berdayaan umat telah kami salurkan ke sejumlah pe­santren dan masjid di Su­matera Barat. Bantuan sarana pendidikan, pela­tihan usaha, hingga program pemberdayaan itu terselenggara atas sinergi dengan BUMN.

Baca Juga  Bangunan di Kota Padang harus Ramah dan Bersahabat dengan Bencana

“Berbagai bantuan yang disalurkan itu merupakan bentuk dari kepedulian kami terhadap umat. Ke depan, saya mendorong agar kola­borasi antara BUMN dalam pemberdayaan umat terus dibangun dan diperkuat,” imbuh Andre.

Wartawan senior Two Efly yang menjadi nara­sumber dalam kegiatan diskusi ini, menegaskan, BUMN memiliki peran mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mendorong kehidupan yang lebih layak di lingkungan masyarakat sekitarnya.

Negara, kata wartawan ekonomi ini, memiliki dua tangan untuk membangun ekonomi di Indonesia. Per­tama, tangan kanan yakni dilak­sanakan oleh peme­rintah melalui APBN. Kedua, tangan kiri melalui BUMN.

Ia memberi contoh, APBN digunakan untuk belanja barang dan jasa yang menghasilkan multiplier efek secara ekonomi. Di sisi BUMN, kata dia, ekonomi digerakkan me­lalui dua bentuk Pertama, operasional perusahaan. Kedua, dari laba bersih perusahaan.

Ia mengatakan, Corporate Social Responsibility (CSR) diambilkan dari laba bersih setiap perusahaan. CSR tidak saja kewajiban semata dari BUMN, di da­lamnya ada kewajiban pe­rusahaan untuk bertang­gung jawab terhadap ling­kungan.

“Pada intinya kedua tangan inilah yang digu­nakan pemerintah dalam membangun ekonomi da­lam rangka memaksi­mal­kan economic turnover di Indonesia. Kedua tangan inilah yang menggerakkan roda ekonomi dan me­lakukan pemberdayaan ekonomi umat,” tutur pria yang akan menerbitkan buku kedua ini.

Two Efly mengatakan, CSR merupakan komitmen sebuah perusahaan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan mengkon­tribu­sikan sebagai sumber daya perusahaan untuk ma­sya­rakat di lingkungannya.

CSR, sangat penting karena ada beberapa man­faat yang bisa diraih seca­ra langsung baik oleh peru­sahaan atau pun masya­rakat. Selain itu CSR juga berperan nyata mengge­rak­kan ekonomi masyara­kat. “CSR tidak saja ber­fungsi sebatas pember­dayaan dalam konteks eko­n­o­mi, tapi juga jembatan hati antara masyarakat dan perusahaan yang ada di lingkungannya,” tutur dia.

Ia menyebutkan, ada empat macam model pe­laksanaan CRS yakni se­cara langsung, melalui yayasan atau organisasi sosial, menjalin kemitraan dan melalui konsorsium. “Ada empat jenis CSR yakni program lingkungan, prak­tik kerja, filantropi dan sukarelawan,” ujar dia. (r)