”NIAT awal hanya untuk memakmurkan masjid dengan cara mengadakan pembelajaran tahfizh. Setidaknya pada dua waktu sholat masjid ramai dari jamaah. Ternyata upaya itu direspon masyarakat, sampai berdirinya Rumah Tahfizh Madani,” tutur Ustadz Lalu Zulkarnain.
EKY PRIMA ENDO—Kabupaten Sijunjung
Matahari perlahan mulai condong ke barat, awan merah di bagian barat menghiasi langit, melepas lembut redupnya cahaya matahari yang mulai terbenam. Dari kejauhan suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar dari pengeras suara Masjid Tahmid, Jorong Koto Baru, Nagari Tanjung Bonai Aur (TBA), Kecamatan Sumpur Kudus. Suara itu sebagai penanda bahwa waktu shalat segera masuk, lazim di masjid yang ada di nagari itu pada umumnya.
Masyarakat mulai meninggalkan aktivitasnya, hanya saja beberapa kendaraan yang masih lalu lalang mengisi jalanan. Sekelompok remaja perempuan memakai mukena berjalan menuju sumber suara dari masjid. Disusul anak-anak laki-laki yang berlarian sambil menyandang kain sarung dan berkopiah.
Selain bersiap untuk menunaikan shalat maghrib berjamaah para remaja itu juga membawa Al-Quran, karena selepas maghrib akan ada pembelajaran tahfizh di masjid. Belajar menghafal Al-Quran. Adzan berkumandang, shalat wajib pun kini sudah ditunaikan. Sekitar 50-an jamaah masjid yang didominasi remaja dan anak-anak itu mulai duduk secara teratur, barisan duduk laki-laki dan perempuan terpisah, bersiap untuk menghafal Al-Quran.
Usai memanjatkan doa pada Sang Ilahi setelah shalat berjamaah, suara di dalam masjid perlahan terdengar mendengung. Ternyata anak-anak tahfizh yang sedang memfasihkan hafalan ayat untuk disetorkan kepada guru, mereka menyebutnya ustadz dan ustadzah. Ustadz Lalu Zulkarnain, salah seorang guru sekaligus pencetus kegiatan tahfizh di Masjid Tahmid, memulai pembelajaran dengan memberi sedikit pengantar kepada muridnya. Kemudian, satu per satu murid mulai menyetorkan hafalan. Ustadz Lalu, begitu panggilannya, hanya menyimak bacaan dari murid.
Ada juga seorang ustadzah, bernama Sahminar (47) yang ikut mendidik anak-anak di rumah Tahfizh Madani untuk menjadi para penghafal Al-Quran. Belajar menghafal Al-Quran di Rumah Tahfizh Madani gratis. Siapa saja boleh ikut, tanpa paksaan dan banyak tuntutan. Belajar pun santai, setiap hari selepas shalat maghrib.
Yang jelas, sebelum memulai belajar tahfizh, niat yang pertama kali harus diluruskan. “Ada timbang terima dulu antara orang tua dan guru. Yang paling penting, antara si anak dengan orang tua dan gurunya tidak ada “hadas”. Artinya hati si anak harus diluruskan dulu, baik kepada orang tuanya ataupun kepada gurunya. Jangan sekali-kali ada perasaan dongkol, tak enak atau malah melawan kepada orang tua dan guru, karena itu salah satu kunci dalam menghafal Al-Quran,” ungkap Ustadz Lalu Zulkarnain.
Meskipun hanya belajar dalam waktu singkat, atau setelah shalat maghrib menjelang isya. Rumah Tahfizh Madani di Masjid Tahmid itu kini tetap eksis. Bahkan pada MTQN ke-39 Sumbar kemarin, kafilah Sijunjung untuk cabang tahfizh didominasi dari sana.
Alhasil, dua anak didiknya meraih juara dua pada cabang tahfizh 5 Juz atas nama Jihan Kesuma dan 10 Juz oleh Muhammad Farhan Maizar. Mengharumkan nama Sijunjung di ajang MTQ Sumbar. “Niat awal saya hanya untuk memakmurkan masjid dengan cara mengadakan pembelajaran tahfizh. Setidaknya pada dua waktu shalat (maghrib dan isya) masjid ramai jamaah. Ternyata upaya itu direspon masyarakat, sampai berdirinya Rumah Tahfizh Madani. Saya hanya modal kemauan, bahkan saya sendiri bukanlah hafizh. Tapi saya senang kalau anak-anak ramai ke masjid dan menghafal Al-Quran disini,” tutur Lalu Zulkarnain.
Dalam keseharian, Lalu Zulkarnain yang merupakan “urang sumando” di TBA, bekerja sebagai guru honorer di MTSN 6 Sijunjung. “Saya aslinya dari Lombok, NTB. Alhamdulillah jadi urang sumando di TBA sejak tahun 2007. Saya mengajar di MTSN 6 Sijunjung dengan mata pelajaran PPKN, karena basic akademis saya sarjana hukum,” ungkap mantan Ketua BPN Nagari TBA periode 2013-2018 itu.
Sebagai urang sumando, Lalu Zulkarnain juga terkenal aktif di tengah masyarakat. “Yang membuat kami semangat mengajar tahfizh itu karena masyarakat dan pemerintahan nagari mendukung. Kegiatan tahfizh di masjid ini sudah berlangsung sejak tahun 2010. Pihak nagari dan masyarakat juga memberi motivasi kepada anak-anak, seperti tahun 2018 kemarin, setiap anak yang hafal 1 Juz diberi satu emas. Alhamdulillah, ada 42 anak yang berhasil mendapatkannya,” jelas Lalu.
“Bagi saya mengajar tahfizh dibawa asyik dan tidak dijadikan beban. Sejauh ini tidak ada kendala. Semua dibawa nyaman dan dinikmati. Setiap hari ada sekitar 50 sampai 70 anak yang belajar disini. Umumnya berasal dari masyarakat disekitar Nagari TBA. Kita menerima semua jenjang, siapa yang mau silahkan datang,” sebut Lalu.
Meski sederhana Rumah Tahfiz Madani telah berhasil mencetak para penghafal Al-Quran, dengan berhasil meraih prestasi di berbagai ajang dan kompetisi tahfizh. “Kita hanya sederhana, dengan menerapkan metode Muthaba’ah, atau menghafal dengan cara membaca berulang-ulang. Setiap murid memiliki progresnya sendiri, kita tidak ada paksaan namun lebih kepada motivasi dan melatihnya. Ada yang paling cepat 1 Juz hafal dalam empat hari. Sekarang sudah ada yang 30 juz, 15, 10, 5 dan 1 juz. Jumlah hafalan tergantung kesungguhan dan progres murid masing-masing,” papar pria kelahiran 1978 itu.
Dijelaskan, hingga kini jika ditotal ada sebanyak 219 orang murid yang belajar tahfizh disana. “Itu beragam jenjang pendidikan. Umumnya anak-anak sekolah dan mahasiswa. Bagi yang sudah memiliki hafalan harus dijaga. Menjaga hafalan itu paling sulit, mulai dari pandangan, perilaku dan sebagainya. Harus rajin muraja’ah (mengulang hafalan) dan tetap fokus,” kata Lalu.
Menjadi penghafal Al-Quran bukanlah sembarangan, tidak semua orang yang bisa melakukannya. “Yang berat itu menjaganya. Dengan Al-Quran kita tidak boleh main-main. Meski sudah hafal sekian juz tapi kalau ada pantangan yang dilanggar bisa hilang semua. Bahkan satu ayat pun tidak ingat lagi,” ujar Ustadz Lalu.(*)






