PASAMAN, METRO–Dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 60,4, maka Kabupaten Pasaman menjadi daerah nomor dua IPM terendah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kondisi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi Pemkab Pasaman di bawah kepemimpinan Bupati, H Benny Utama, SH, MM dan Sabar AS, S Ag. Kepala Bappeda Pasaman, Choiruddin Batubara mengatakan, IPM dipengaruhi tiga sektor, yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Untuk mengatasi IPM yang jauh tertinggal ini, Pemkab Pasaman menyiapkan 10 program unggulan yang tertuang dalam RPJMD Pasaman Tahun 2021-2026. Di mana RPJMD ini telah ditetapkan menjadi Perda Nomor 4 Tahun 2021.
Saat ini menurutnya, masyarakat Pasaman menyelesaikan sekolah rata-rata hanya di tingkat kelas 2 SMP. Dibandingkan dengan daerah lain di Sumbar, jenjang pendidikan ini di bawah rata-rata Sumbar dan nasional. “Penyebabnya, karena ketersediaan sarana dan prasarana jenjang pendidikan masih kurang memadai. Di kabupaten ini meski ada perguruan tinggi, namun belum menjadi rujukan,” ungkap Choiruddin, saat menerima rombongan Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Sumbar, Senin (6/12) di Kantor Bupati Pasaman.
Hadir dalam rombongan Diskominfotik Sumbar tersebut peserta bimbingan tekhnis (bimtek) jurnalistik yang terdiri dari para wartawan media cetak, elektorik dan televisi.
Begitu juga di sektor kesehatan. Di daerah ini, pembangunan dari sisi kesehatan masih tertinggal. Bahkan, Kabupaten Pasaman merupakan kabupaten yang memiliki angka stunting tertinggi sejak tahun 2018 bersama Kabupaten Solok Selatan (Solsel), Pasaman Barat (Pasbar) dan Solok Selatan (Solsel). Stunting di Pasaman bahkan baru diketahui tahun 2017. Berdasarkan hasil survey nasional tahun 2013. “Setelah empat tahun baru tahu. Angka prevalensinya cukup tinggi capai 40 persen. Kita lakukan intervensi dengan menggerakan seluruh dinas,” ungkapnya.
Dengan intervensi yang dilakukan berdampak prevalensi turun menjadi 19 persen pada tahun 2020 lalu. “Ditargetkan tahun 2024 nanti bisa turun jadi 14 persen. Sekarang hampir 50 persen nagari sudah ada anggaran untuk mengatasi stunting dengan menggerakan kader desa,” ungkapnya.
Di sektor ekonomi, diakui Choiruddin, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pasaman mengalami perlambatan. “Tahun 2020 pertumbuhan ekonomi minus 0,87 persen. Namun, lebih bagus dibandingkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumbar yang minus 1,19 persen,” ungkapnya.
Choiruddin juga mengungkapkan, Kabupaten Pasaman peringkat 14 daerah termiskin di Sumbar. Angka kemiskinan di daerah ini mencapai 7,16 persen pada tahun 2020. Begitu juga pengangguran terbuka. Di mana tahun 2020 angka pengangguran terbuka di daerah ini mencapai 5,04 persen.
Permasalahan yang ada tersebut menurut Choiruddin dirumuskan melalui RPJMD. Di mana berdasarkan RPJMD tersebut, ada lima masalah utama dalam melaksanakan pembangunan di daerah ini. Yakni, belum optimalnya pengamalan nilai adat dan agama, rendahnya kualitas SDM, belum optimalnya fasilitas infrastruktur. Selain itu, masih rendahnya pendapatan dan perekonomiam masyarakat dan belum optimalnya penyelenggaraan pemerintahan.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Pemkab Pasaman melalui kepemimpinan Bupati, H Benny Utama, SH, MM dan Sabar AS, S Ag mengusung visi “Terwujud Masyarakat Pasaman yang Lebih baik dan Bermartabat”. Untuk mewujudkan visi tersebut, ada enam misi yang diemban. Selain itu, visi dan misi tersebut juga dituangkan dalam 10 program prioritas pembangunan Pasbar selama lima tahun ke depan. “Pada tahun 2022 ini, 10 program unggulan ini mulai dilaksanakan nantinya,” ungkapnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Pasaman, W Hutabarat tidak memungkiri, dengan posisi berada paling ujung timur Provinsi Sumbar, kabupaten ini sangat sepi sekali dari pengunjung.
“Kita lihat kondisinya sepi. Itulah kondisi ini. Kepada teman-teman dari media, tolong bantu jual kabupaten ini. Bantu kami agar bisa ramai dan ekonomi menggeliat. Kabupaten ini terujung timur dan pintu masuk dari Utara. Bantu datangkan investor agar kabupaten ini bisa jadi kebanggaan,” harapnya.
Sebelumnya, Perwakilan dari Diskominfotik Provinsi Sumbar, M. Ridwan Afif mengatakan, kehadiran rombongannya bersama jurnalis, melaksanakan rangkaian kegiatan bimtek yang diikuti 90 jurnalis dan organisasi pers di Sumbar. Bimtek dilakukan dengan melakukan studi lapangan ke tiga kabupaten terpilih. Yakni Pasaman, Pasaman Barat (Pasbar) dan Solok Selatan (Solsel).
Pasaman jadi tujuan bimtek, berdasarkan hasil evaluasi Diskominfotik Sumbar. Di mana tahun 2020 lalu, penilaian terhadap kegiatan kehumasan di Kabupaten Pasaman cukup baik. Selain itu, hubungan dengan insan pers sangat sinergi sekali. Kondisi ini menurutnya langkah yang baik untuk melaksanakan roda pemerintahan. Ini yang perlu kita dalami.(fan)





