PADANG, METRO–Ridho Fermana Kusuma, anak muda asal Kota Padang Panjang berhasil membuat penemuan penangkap dan penguat sinyal untuk daerah yang tidak bersinyal (blankspot). Karya hasil temuannya diberi nama Langkitang Signal. Langkitang Signal juga berfungsi mempercepat internet, serta memperjauh jangkauan WiFi. Saat ini, alumni Institut Teknologi Telkom atau Telkom University itu, getol memasarkan Langkitang Signal di Kota Padang Panjang, hingga ke pelosok Sumbar, yang notabene banyak area blankspot-nya.
“Memang ada dosen dan mentor saya, Dr Ir Yuyu Wahyu MT yang sekarang dosen di President University Cikarang, mengajak ke LIPI sebagai peneliti, dan sebelum Lebaran 2021 kemarin, Pak Yuyu Wahyu menawari saya untuk memproduksi Langkitang Signal di Bandung. Namun saya dengan halus menolak, ingin tetap di Padangpanjang. Jika akan dikembangkan Langkitang Signal ini, saya inginnya di Padangpanjang. Semoga suatu saat terwujud,” ungkap Ridho saat bertandang ke Kantor Perwakilan POSMETRO Padang, Kamis sore (4/11).
Penemuan Ridho Fermana Kusuma memang sebuah karya yang penuh inovasi. Sebuah alat repeater super sensitif yang diberinya nama Langkitang Signal. Penemuan alumni SMAN 1 Padangpanjang ini, seperti kita memiliki tower BTS (Base Transceiver Station) sendiri. Alat ini ukurannya 10 cm x 2 cm x 1 cm, jadi bisa dibawa ke mana-mana, dan terpenting tanpa perlu listrik untuk menyalakannya.
Internet ngadat, sinyal lemot, atau bahkan tanpa sinyal sekali pun, teratasi dengan Langkitang Signal, tower BTS supermini karya Ridho ini. “Saya cukup banyak menyinggahi daerah-daerah blankspot di Sumatera Barat. Di pelosok Palupuah, Palambayan, dan Maninjau di Kabupaten Agam. Di sana, saya melakukan pengujian kekuatan Langkitang Signal bersama warga setempat yang saya temui, hasilnya sangat memuaskan. Sinyal 4G bisa ditangkap dari sebelumnya tidak ada sinyal,” ungkap Ridho.
Selain itu, permintaan terhadap Langkitang Signal juga datang dari Bayang Pessel, Talu Pasaman, Sungayang dan Sumanik Tanahdatar, Solok Selatan, Dharmasraya dan Kepulauan Mentawai. Bahkan Ridho sudah mengirim Langkitang Signal ke Aceh hingga Papua. “Alhamdulillah, hingga sekarang sudah 600 unit Langkitang Signal terjual,” ungkapnya.
Langkitang Signal buatan warga Kampung Teleng, Kelurahan Kampung Manggis, Kecamatan Padangpanjang Barat ini, merupakan gabungan dari dua risetnya tadi; PEMF (Potential Electro Motion Force) dan Multi Wires yang merupakan inovasi baru dalam dunia induksi elektromagnetik.
Lalu apa itu repeater? “Bahasa awamnya adalah sebuah perangkat elektronik penerima sinyal dan kemudian mentransmisikan kembali sinyal itu dengan daya lebih tinggi. Sinyal dari pantulan repeater ini yang membuat HP kita dari tidak punya sinyal, bisa dapat sinyal. Dari akses internet lambat menjadi cepat,” terangnya.
Repeater buatan Ridho, bekerja dengan baik pada jaringan GSM, HSDPA, 3G, 4G bahkan 5G untuk seluruh provider layanan jasa telekomunikasi baik dipakai indoor maupun outdoor. Dengan daya pancar hingga radius 50 meter.
Apakah temuan Ridho ini temuan baru? Repeater itu sendiri sudah lama ada guna membantu memperluas jangkauan penerimaan sinyal terutama untuk penggunaan WiFi. Teknologi repeater pabrikan ini biasanya berdimensi besar, tidak portabel, sensitifitas menerima sinyal di bawah 40 dB (desibel) dan membutuhkan energi listrik lebih dari 100 watt untuk operasinya. Harganya jutaan rupiah. Paling murah 700-an ribu rupiah di online shop.
Lalu repeater ciptaan Ridho? “Langkitang Signal ini berdimensi kecil (1 x 2 x 10 cm), tidak butuh tersambung ke listrik dan sensitifitasnya 7 x 70 dB. Harganya mulai Rp90.000. Bisa dikantongi dan dibawa ke mana saja,” terangnya.
Ridho memiliki latar belakang di bidang gelombang elektromagnetik. Ia pernah lima tahun mengabdikan diri sebagai peneliti LIPI 2009-2015, dan bekerja sama dengan industri pertahanan negara PT Pindad (Perindustrian Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat).
Dua temuannya sudah menjadi paten riset yang diakui LIPI. Pertama riset tentang inovasi metoda PEMF (Potential Electro Motion Force), dan kedua riset inovasi metoda kawat jamak (multi wires) dalam meningkatkan keleluasaan gerak elektron.
Pria lajang berusia 33 tahun ini sudah mengantongi berbagai penghargaan dari lembaga mancanegara seperti Afwerx Engage Space dari US Air Force dan US Space Force, dari ASME untuk Innovate for Impact Siemens Design Challenge, dari Africa50’s Innovation Challenge untuk karya PEMF-nya dan dari Global Infrastructure Hub atas prestasi Top 20 Finalist in the inaugural InfraChallenge.
Dengan prestasi segudang dan pengalaman kerja di tempat bonafid itu, yang jadi pertanyaan, mengapa dirinya mau bersusah payah menciptakan “barang terkesan receh” ini dan keluar dari zona nyaman yang telah dijalaninya? Ternyata alasan Edo simpel saja, sesimpel karya ciptanya tapi bermanfaat luar biasa.
“Awal mula saya menciptakan repeater pada pertengahan Juli 2020, lantaran melihat betapa susahnya proses belajar mengajar (PBM) di era pandemi Covid-19 yang harus daring (dalam jaringan/online-red). Dibutuhkan koneksi internet yang kuat. Yang terjadi malah sinyal susah, internet lemot, video conference nge-lag, video buffering dan berbagai keluhan lainnya yang membuat PBM tidak efektif sama sekali. Dari situlah lahir ide pembuatan Langkitang Signal ini. Membantu mengatasi semua masalah itu,” ceritanya.
Pemberian nama langkitang, tuturnya, merujuk pada filosofi proses konsumsi langkitang (sejenis siput kecil-Red) yang harus disedot untuk menikmati rasanya. “Langkitang Signal begitu juga, menyedot signal dari BTS-BTS dan memantulkannya kembali dengan daya lebih tinggi. Sehingga kita puas memanfaatkan jaringan internet dari HP ataupun WiFi yang disambungkan ke perangkat komputer,” ucapnya. Bagi ibu, bapak dan sanak saudara yang ingin memesan Langkitan Signal dapat berkabar via 085104404034, atau WA 085263188831. Untuk pemesanan luar Kota Padangpanjang, pesanan akan dikirim via jasa kurir.(fan)






