METRO PADANG

Sandiaga Uno: Manfaatkan Potensi Lokal untuk Tingkatkan Ekonomi, Padang menjadi Kota Ekonomi Kreatif

1
×

Sandiaga Uno: Manfaatkan Potensi Lokal untuk Tingkatkan Ekonomi, Padang menjadi Kota Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini
WORKSHOP KEWIRAUSAHAAN— Menteri Parekraf/Kepala Baparekraf Sandiaga Uno bersama Wali Kota Padang, Hendri Septa saat membuka Workshop Kewirausahaan Inovasi Ekonomi Kreatif (WKIEK) di Padang, Minggu (29/8).

PADANG, METRO–Kementerian Pariwisata dan Eko­nomi Kreatif (Kemenparekraf) /Kepala Badan Pariwisata dan Eko­nomi Kreatif (Baparekraf) mengem­bangkan Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif). Hadirnya KaTa Kreatif ini untuk menggali dan meman­faatkan potensi lokal demi pe­ning­katan ekonomi masyarakat Sumbar.

Dengan pengem­ba­ngan KaTa Kreatif maka eko­nomi daerah akan se­gera bangkit dan kesejah­teraan masyarakat juga segera tercapai. Menteri Parekraf/Kepala Bapa­re­kraf Sandiaga Uno menga­takan, dalam Perpres No­mor 142 Tahun 2018 me­nge­nai Arah Kebijakan Ren­cana Induk Ekonomi Kreatif, sudah dijelaskan bagaimana mengem­bang­kan KaTa Kreatif.

Di mana tujuannya meng­gali, memanfaatkan, me­numbuhkembangkan, me­ngelola dan men­gkon­servasi kreativitas serta memanfaatkan ilmu pe­nge­tahuan dan teknologi, seni, dan budaya untuk mengembangkan potensi lokal.  “Akan kita tingkatkan kemasannya produknya, khususnya masalah packaging dan kualitasnya,” kata Sandiaga Uno saat membuka Workshop Kewi­ra­usahaan Inovasi Eko­nomi Kreatif (WKIEK) di Padang, Minggu (29/8).

Pria yang akrab disapa Sandi ini menegaskan, pe­ngem­bangan KaTa Kreatif dimulai dengan pemetaan dan mengusulkan subsek­tor ekonomi kreatif apa yang bisa dikembangkan di kota/kabupaten tersebut.

Bahkan akan ada ung­gulan produk kreatif me­lalui kegiatan uji petik ter­hadap 4 elemen Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PKM3I). Yaitu, meliputi 17 subsektor ekonomi kreatif; kreator/pelaku ekraf (ABCG-M); rantai nilai ekraf; dan keter­kaitan Backward-Forward Linkage.

Selanjutnya hasil uji petik tersebut diusulkan untuk ditetapkan menjadi KaTa Kreatif. Lebih lanjut dapat diteruskan untuk mendapat pengakuan in­ter­nasional sebagai Kota Krea­tif Dunia melalui Ko­mite Nasional Indonesia untuk UNESCO.

Baca Juga  Jawab Tantangan Pembangunan Kependudukan, Pemprov Sumbar Tinjau Kembali GDPK Masa 2019–2039

“Kita mendukung upa­ya menjadikan destinasi di Sumbar menjadi layak jual. Dia berharap akan ada perhatian lebih  untuk me­nun­jang pengem­ba­ngan pariwisata daerah,” tegas­nya.

Menurutnya, pengem­ba­ngan tersebut akan dika­wal atau diawasi langsung oleh Kemenparekraf/Bapa­re­kraf, dalam program PMK3I. Kemudian ditetap­kan menjadi KaTa Kreatif Indonesia sesuai dengan subsektor ekraf unggulan yang telah ditentukan pada program PMK3I.

Selanjutnya didampingi untuk berkolaborasi de­ngan KaTa Kreatif lainnya yang memiliki subsektor unggulan yang sama, me­la­lui program Jejaring KaTa Kreatif. “Se­hingga dengan ini kita juga bisa tingkatkan ekonomi daerah dari sum­ber eko­nomi kreatif dan pari­wi­sata,” tegasnya.

Dia menegaskan, saat ini sudah 63 kabupaten/kota yang telah mengikuti uji petik dengan subsektor unggulan kuliner, seni per­tunjukan, kriya, fesyen, apli­kasi dan permainan, mu­sik, seni rupa dan film,­animasi dan video.

Telah dilakukan pene­tapan 10 KaTa Kreatif Indonesia pada tahun 2019. Dalam rangkaian pengem­bangan KaTa Kreatif Indonesia ini, Kemenparekraf melaksanakan kegiatan workshop peningkatan ino­vasi dan kewirausahaan, sebagai bentuk fasilitasi pengembangan potensi ekonomi kreatif. Sebagai­mana yang dilaksanakan pada hari ini di Kota Pa­dang, yang memiliki po­tensi besar pada subsektor seni pertunjukan, kuliner, kriya, dan fesyen.

Kegiatan workshop ini, diharapkan dapat mening­kat­kan wawasan dan pe­mikiran kreatif peserta. Sehingga, dapat terus ber­karya dengan bekal materi kreativitas, permodelan bisnis, promosi digital dan pengelolaan keuangan ser­ta permodalan.

Sehingga target ekspor dengan peningkatan kuali­tas dan kuantitas produk, peluang dan permintaan pasar dan pelatihan pema­saran secara daring. Ke­men­parekraf terus ber­upaya untuk #Gercep, #Ge­ber, dan #Gaspol serta berkolabor-aktif dengan berbagai pemangku kepen­tingan terkait. Seperti, Ke­men­terian BUMN, Kemen­terian Perdagangan, Ke­men­terian Koperasi dan UKM, Kementerian Per­indus­trian serta Market Pla­ce.

Baca Juga  4.859 Pelamar Ikuti Seleksi Kompetensi PPPK, Pemko Padang Butuh 3.014 Formasi

Untuk itu, pengem­ba­ngan wisata di Sumbar tidak bisa dila­kukan sendiri. Melainkan per­lu adanya investor gu­na  mengem­bangkan ka­wa­san wisata ini. Sandi menga­takan, pihaknya ju­ga akan men­coba mengun­dang investor untuk mau menanam­kan modalnya dalam pengem­bangan ka­wasan wisata ini.

Sementara, Wali Kota Padang, Hendri Septa me­ngatakan, di Kota Padang saat ini ada 34 ribu UMKM. “UMKM tersebut banyak dari usaha rumahan. Sudah ada yang mendunia. Meski sekarang di masa pandemi Covid-19, UMKM kita ma­sih tetap survive,” ungkap­nya.

Pemko Padang menu­rut­nya, juga fokus pada pe­ngembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Eko­nomi kreatif yang berkem­bang di Kota Padang se­karang pada sub sektor kuliner. Bahkan sub sektor kuliner ini menjadi salah satu yang diperhitungkan.

Secara implisit, menu­rut­nya Kota Padang men­jadi kota ekonomi kreatif. Hal ini terlihat dari jumlah pelaku usaha ekonomi krea­tif di kota ini yang jum­lahnya mencapai 1.968 pe­la­ku usaha. Pelaku usaha ini tersebar di 11 keca­matan. Di mana, dari jum­lah pela­ku usaha ekonomi kreatif tersebut, sebanyak 62,1 persen bergerak di sub sektor kuliner, 13 per­sen sub sektor fesyen dan lainnya, yang mencakup 17 sub sektor tersebut. (fan)