BERITA UTAMA

Banjir dan Longsor Kepung Sumbar, Arkadius: Bencana, Saatnya Introspeksi Diri

0
×

Banjir dan Longsor Kepung Sumbar, Arkadius: Bencana, Saatnya Introspeksi Diri

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Alun tantu karuah aia di muaro, asanyo dari hulu, antah kok ado gajah nan manyubarang, atau tabiang nanlah runtuah. Demikian kata kiasan disampaikan Wakil Ketua DPRD Sumbar Arkadius Datuak Intan Bano menyikapi persoalan bencana dan banjir yang menimpa sebagian wilayah Sumbar dan menelan korban jiwa.

Menurutnya, untuk melihat apa yang menjadi persoalan, kenapa bencana itu bisa terjadi, harus dilakukan kajian terlebih dahulu. Mungkin, faktor penyebabnya tidak hanya satu, akan tetapi ada faktor lain yang tidak disadari. Akan tetapi memiliki peran besar terjadinya bencana tersebut.

Untuk itu, lanjutnya, mari bersama-sama melakukan introspeksi diri, kenapa benacana ini terjadi. Untuk mengetahui penyebabnya, perlu dilakukan kajian secara agama dan juga secara ilmiah. Secara ilmiah, mungkin ada kerusakan pada bumi ini. Secara agama mungkin Allah sedang memberikan peringatan dalam bentuk bencana. “Karena itu saya memakai istilah itu. Semua yang menjadi faktor harus dikaji,” ungkapnya.

Pertama, secara agama, bencana gempa, tsunami, banjir dan longsor, adalah sannatullah. Sebuah ketentuan Allah yang pasti terjadi. Sudah dipastikan bahwa bencana longsor dan banjir yang melanda sebagian wilayah Sumbar kemarin itu merupakan ketentuan dari Allah.

Kedua, tentu kajian secara ilmiah. Ada kerusakan pada ekosistem bumi sehingga banjir dan longsor terjadi. Mungkin disebabkan bagian hulu sungai yang rusak, adanya praktik illegal loging, normalisasi sungai tidak dilaksanakan, atau penyempitan sungai.

Baca Juga  Petani Agam Tanam Ganja, Ya Ditangkaplah

Ketiga, mungkin sudah terlalu banyak umat manusia yang meninggalkan agama Allah. “Allah tidak akan menurunkan bencana di saat daerah itu masih ada orang yang bertaqwa beriman dan beristihgfar kepada Allah,” jelas Arkadius.

Menurutnya, ketiga faktor ini sebenarnya saling berkaitan. Sebab, Allah juga menyebutkan bahwa bumi ini diciptakan dengan seimbang. Namun manusia pulalah yang merusak keseimbangan itu.

Allah berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) [1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]

Karena adanya ketidakseimbangan atau adanya kerusakan di bumi, ditambah lagi hujan lebat yang terus menerus, membuat tanah dan sungai tidak lagi mampu menampung besarnya arus air yang datang dari hulu. Akibatnya sungai melimpah dan terjadilah banjir.

Memang, tidak cukup dipersoalan lingkungan dan kerusakan ekosistem saja yang dilihat, tetapi juga harus pahami bencana itu juga bagian dari ujian dan cobaan kepada manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Terkait dengan bencana yang terjadi di Lintau, Tanahdatar, Arkadius mengatakan pihaknya sudah melakukan peninjauan langsung dan membawa bantuan yang dibutuhkan masyarakat.

Secara kajian dari pihak terkait, penyebabnya banjir dan longsor tersebut adalah akibat hulu sungai yang sudah rusak. Besar kemungkinan diakibatkan illegal loging. Pada saat banjir, banyak ditemukan potongan kayu yang hanyut dan tersangkut di jembatan, sehingga menghambat aliran sungai dan akhirnya merembes keluar.

Baca Juga  Volume Paket J&T Express Tumbuh 32,5% di Kuartal Akhir 2024, Asia Tenggara Meningkat Lebih Dari 60%

”Kecepatan air ditambah banyaknya material yang dibawa dari hulu menghantam rumah dan merobohkan bangunan warga serta menyapu sebagian lahan pertanian masyarakat setempat,” katanya.

Pihaknya juga meminta kepada Dinas Kehutanan memastikan sejauh mana pengawasan yang dilakukan di hulu sungai. “Ini perlu dikaji terkait pengawasan illegal loging, sebab laporan dari masyarakat juga seperti itu,” tegasnya.

Alhamdulilah, BPBD di bawah kordinasi Pemkab Tanahdatar, Kabupaten/Kota tetangga, relawan, polisi dan Brimobda, semua terjun bersama-sama melakukan upaya menyelamatkan korban jiwa dan melakukan pembersihan.

Informasinya, dalam kejadian tersebut adanya sebanyak sembilan bangunan warga dan dua jembatan yang rusak serta enam korban. Satu korban masih dalam pencarian.

Pihaknya juga sudah mengingatkan Sekda Tanahdatar serta BPBD untuk mencarikan langkah strategis yang harus dilakukan untuk menyelamatkan warga yang berada di jalur merah. Mengingat kondisi cuaca masih buruk. Sebab, masih ada beberapa warga yang masih bertahan di lokasi jalur merah.

”Mengingat dua bulan ke depan kita masih dalam pembahasan APBD 2019. Saya juga meminta agar apa saja hal-hal yang menjadi perhatian, seperti perumahan, irigasi, jembatan dan lainnya untuk disampaikan sehingga bisa dicarikan solusinya. Jangan sampai anggaran untuk bencana yang terjadi saat ini menunggu APBD perubahan 2019 atau APBD 2020. Harus secepatnya,” tegasnya. (adv)