PADANG, METRO–Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) yang selama pandemi Covid-19 ini melakukan pengujian spesimen swab terpaksa menggalang donasi untuk setiap pengambilan swab agar tetap bisa beroperasi.
Hal itu, disebabkan, laboratorium pimpinan Dokter Andani Eka Putra tersebut tidak lagi mendapatkan pendanaan dari Pemprov Sumbar. Sontak saja, melihat kondisi laboratorium yang berperan penting dalam penanganan Covid-19 yang sedang kesulitan dalam pendanaan, membuat berbagai pihak ikut berpartisipasi menggalang dana.

Grup Whatsapp (GWA) Kawal Covid-19 Sumatra Barat (Sumbar) salah satunya yang spontan membuka donasi untuk membantu laboratorium Unand itu. Mereka sedih dan terketuk hati setelah mengetahui, laboratorium yang dipimpin Dr Andani Eka Putra itu harus kesulitan dalam hal pendanaan.
Para inisiator dan anggota GWA yang sejak awal pandemi mengawal penanganan Covid-19 Sumbar itu, terdiri dari para akademisi, politisi, profesional, tokoh masyarakat, penyintas Covid-19, kepala daerah dan jurnalis.
“Seingat saya waktu talk show di Padang TV, jawaban dari pemprov, mereka tidak bisa menganggarkan karena terbentur aturan dari Kemenkes. Saya mau jawab bahwa Labor Unand itu tidak berada di bawah Kemenkes. Tapi sudahlah jika memang tidak ada niat, mari kita badoncek (kumpulkan donasi, red) saja,” ujar Yul Akhyari Sastra, salah seorang inisiator GWA Kawal Covid-19 Sumbar.
Padahal, terang dia, Laboratorium FK Unand setiap hari selalu memeriksa ribuan sampel swab yang dikirim oleh pemerintah daerah di kabupaten/kota. Hasil pemeriksaan sampel swab tersebut dibutuhkan untuk mengetahui masyarakat yang terpapar Covid-19 sehingga bisa langsung menjalani isolasi.
“Alhasil, mata rantai penularan Covid-19 di Sumbar bisa terputus. Namun, sejak tahun ini, dana bantuan dari Pemprov untuk laboratorium tidak ada lagi. Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Tapi sebagai bagian dari masyarakat, dirinya bersama rekan-rekan yang lain yang tergabung dalam Tim Kawal Covid-19 Sumbar tergerak untuk membantu Laboratorium FK Unand,” ujarnya.
Pihaknya pun hari ini membuka donasi untuk membantu biaya pemeriksaan swab di Laboratorium FK Unand. Sejak dibuka siang tadi hingga sore ini sudah terkumpul dana Rp60 juta. Dia pun mengajak masyarakat, perantau, dan diaspora Minang untuk membantu memberikan donasi.
“Kita ingin sampaikan ini adalah gerakan moril karena labor ini sangat vital bagi penanganan Covid-19 di Sumbar. Kita tidak bisa bayangkan kalau labor ini tutup, bagaimana penanganan Covid-19 di Sumbar,” jelas Yul.
Dikatakan Yul, bagi masyarakat yang ingin membantu, bisa mengirimkan uang lewat nomor rekening 111008888667 atas nama Sari Lenggogeni via Bank Mandiri. Bantuan yang terkumpul akan diberikan kepada pihak laboratorium. “Insyaalah bantuan yang terkumpul akan kita pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Bahkan, Yul juga akan berkoordinasi dengan beberapa mahasiswa untuk turun ke jalan mengumpulkan donasi yang akan diberikan ke laboratorium itu. “Kumpulkan koin bantuan untuk Laboratorium Unand,” imbuhnya.
Salah seorang member GWA Kawal Covid-19, Zikri Alhadi menyebutkan sebenarnya Laboratorium Unand di bawah Kemendikbud Ristek. Mekanisme pembiayaan, sebetulnya bisa saja dari pemda atau pihak lain yang mengacu pada regulasi yang ada.
Akademisi Unand Andri Rusta mengatakan, dalam kondisi darurat saat ini tidak ada gunanya lagi diskusi untuk membantu laboratorium itu. “Langsung saja penggalangan donasi lagi. Kasihan nakes dan dokter-dokter kita,” imbuhnya.
Gubernur Tak Larang Penggalangan Donasi
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah mengatakan, dirinya tidak bisa melarang orang yang mau menggalang donasi. Namun, terkait Pemprov Sumbar, Mahyeldi menegaskan, surat dari FK Unand memang sudah masuk Juli 2021 untuk permintaan bantuan anggaran.
“Ada Rp34 miliar tidak salah jumlah permintaannya. Diproses setelah dievaluasi oleh Inspektorat nantinya. Anggarannya sesuai permintaan. Kan sifatnya bantuan. Ya untuk tahun 2021. Sama seperti tahun 2020 lalu, direalisasikan tahun 2021 sehingga menjadi utang yang dilunasi,” ucapnya.
Mahyeldi juga menegaskan, prosesnya cepat atau lambat cairnya dana bantuan tersebut nanti tergantung anggarannya. Mahyeldi juga menjelaskan terkait anggaran bantuan sebesar Rp5 miliar untuk FK Unand yang dibahas oleh DPRD Sumbar, ternyata Rektor Unand dan termasuk dr Andani sendiri terlibat dalam pembahasan.
“Dokter Andani nya juga hadir waktu pembahasan kok. Semuanya melalui mekanisme. Semuanya ada rapat dan pembicaraan dengan pihak terkait,” ungkap Mahyeldi.
“Jadi mau mau minta ke sana kemari silahkan. Orang mau minta kok. Kepada kita juga minta kok. Selama ini kita juga beri bantuan juga. Semuanya kita bantu tidak ada yang tidak peduli. Tapi ada mekanisme. Kita bertemu Rektor Unand, Dekan Kedokteran Unand juga hadir. Semuanya ikut. Kita sampaikan semuanya. Kita ikut dalam pembahasan dan jadi kesepakatan bersama,” tegas Mahyeldi.
Mahyeldi mengingatkan juga, kalau ada yang menilai dirinya bekerja tidak peduli, tidak perhatian silahkan saja publik menilai. “Kita juga tidak tidak akan menyangkal. Banyak kepala daerah dan dinas yang berurusan hukum ketika terkait dana bencana. Tentu ini juga menjadi pembahasan dan jadi diskusi kita,” tegasnya.
“Kalau ada cara lebih cepat dan lebih baik tidak apa-apa kok. Seandainya apa yang dilakukan dibicarakan bersama, teman teman di pemerintah daerah kan juga manusia. Semuanya bertanggungjawab kok, OPD berhari-bermalam rapat. Kalau ada yang kurang-kurangnya sebagai manusia tentu ada kurangnya. Tentu yang kurang ini harus disempurnakan,” ujarnya.
Ketua DPD RI Berharap Laboratorium Unand Didukung
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, memberikan apresiasi kepada Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) yang tetap bekerja optimal meski dalam kondisi terbatas.
Laboratorium Unand terpaksa menggalang donasi untuk setiap pengambilan swab lantaran tidak adanya anggaran.
“Betuk kepedulian yang diperlihatkan Laboratorium Unand sangat luar biasa. Layak mendapat apresiasi. Meski dalam keterbatasan dana, semangat mereka tidak pernah kendor,” kata LaNyalla, Selasa (3/8/2021).
Senator asal Jawa Timur itu berharap keseriusan dan kerja keras laboratorium Unand bisa mendapatkan dukungan.
“Stakeholder terkait harus bisa melihat potensi yang dimiliki laboratorium Unand. Lab ini dapat dimaksimalkan untuk membantu mencegah penularan Covid-19,” terangnya.
Laboratorium Unand harus menggalang donasi untuk memenuhi biaya untuk barang-barang consumables. Seperti filter tip, tabung dan cup-cup.
“Mudah-mudahan ada kebijakan yang dapat meringankan beban lab. Sehingga kinerja mereka lebih maksimal,” ujar mantan Ketua Umum PSSI itu.
Sebelumnya, laboratorium Unand mendapat anggaran sebesar Rp20 miliar dari Pemprov. Lab ini juga mendapatkan anggaran dari DPRD sebesar Rp5 miliar. Namun, sejak Januari 2021 anggaran tersebut dihentikan.
“Mungkin ada fokus lain yang dilakukan pemprov. Kita bisa pahami kondisi tersebut. Namun, kita berharap ada kebijakan lain yang bisa membantu lab,” tuturnya. (fan)






