BUKIT GADO-GADO, METRO–Yayasan Persatuan Guru Agama Indonesia (PGAI) akan mengusulkan H. Abdullah Ahmad menjadi pahlawan nasional. Pengusulan tersebut merujuk pada hasil perjuangannya mendirikan lembaga pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa.
“Kita harus upayakan menjadi pahlawan nasional. Semuanya kriterianya sudah terpenuhi. Penghargaan itu layak diperoleh beliau, karena berkat perjuangannya banyak anak bangsa mendapatkan pendidikan,” sebut Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Agama Indonesia (PGAI), Fauzi Bahar saat menggelar tabur bunga ke makan H. Abdullah Ahmad, Minggu (24/7) di kawasan Seberang Palinggam.
Dikatakannya, semua kriteria untuk menjadikan pendiri Yayasan PGAI Sumbar dan Yayasan Syarikat Oesaha (YSO) Adabiah tersebut pahlawan nasional sudah terpenuhi. Untuk itu, upaya tersebut tinggal mempersiapkan syarat-sayaratnya.
Menurutnya, bukti sejarah perjuangan H. Abdullah Ahmad masih dirasakan masyarakat hingga saat ini. Salah satunya Yayasan PGAI di Jalan Perintis Jati Padang. Di sana masih ada SMA, Panti Asuhan dan sejumlah lembaga pendidikan lainnya.
Disisi lain, YSO Adabiah juga sudah banyak memberikan manfaatkan bagi pendidikan masyarakat Sumbar. Hingga ini YSO Adabiah juga sudah memiliki lembaga pendidikan berbagai tingkatan.
“Sekarang nama jalan atas nama H. Abdullah Ahmad sudah ada, bukunya sudah ada. Jejak karyanya sangat nyata dan masih dirasakan saat ini. Untuk itu kita akan kumpulkan semua data-data beliau secara personal, kita seminarkan, segera kita usulkan menjadi pahlawan nasional,” kata Fauzi.
Menurutnya, mendirikan dua lembaga pendidikan Islam pada masa penjajahan adalah sebuah perjuangan besar. Apalagi saat Adabiah dan PGAI didirikan di tengah-tengah Kota Padang yang langsung menjadi perhatian pemerintah Belanda.
“Didirikan saat penjajahan, yang bukan Islam. Tapi beliau berhasil membesarkannya,” pungkasnya.
Rencana tersebut mendapatkan dukungan dari Anggota DPR RI, Guspardi Gaus. Guspardi yang merupakan alumni PGAI menilai sudah tepat H Abddullah Ahmad mendapatkan gelar pahlawan nasional.
“Perjuangannya dapat dilihat dengan kasat mata. Melakukan dari bawah, merintis lembaga pendidikan untuk rakyat,” kata Guspardi yang juga Dewan Pertimbangan PB PGAI Sumbar itu.
Katanya, jangan bayangkan mendirikan lembaga pendidikan Agama Islam saat ini. Namun, almarhum mendirikan lembaga pendidikan pada masa penjajahan Belanda.
Dukungan juga datang dari Mayjen TNI Dr. Syamsu Djalal. Dikatakannya, perjuangan H. Abdullah Ahmad harus dilanjutkan. “Marilah kita melanjutkan jihad dari beliau. Beliau berjihad, dalam keadaan terjajah. Berjuang untuk Agama Islam. Mari kita besarkan PGAI menjadi lembaga pendidikan yang lebih maju,” harapnya.
Selain itu, terkait perbedaan pendapat dalam internal PGAI menurutnya jangan terus berlanjut. Semuanya harus bersatu untuk membesarkan PGAI. “Saya besar di Panti Asuhan PGAI, untuk itu saya sangat peduli dengan PGAI. Perjuangan ini harus dilanjutkan,” katanya.
Dalam rangka 101 tahun PGAI Sumbar, sejumlah pengurus melakukan tabur bunga di makam KH Abdullah Achmad di Seberang Palinggam, Kota Padang.
Diketahui, Dr. H. Abdoellah Ahmad (lahir di Padang Panjang, 1878 meninggal di Kampung Jati, Padang, 2 November 1933 pada umur 55 tahun) adalah seorang ulama reformis yang turut membidani lahirnya perguruan Sumatra Thawalib di Sumatra Barat.
Ia merupakan anak dari Haji Ahmad, ulama Minangkabau yang juga seorang pedagang, dan seorang ibu yang berasal dari Bengkulu. Bersama Abdul Karim Amrullah, ia menjadi orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, di Kairo, Mesir.
Sebelum mendirikan PGAI, Abdulah Ahmad lebih dulu mendirikan YSO Adabiah. Dua lembaga tersebut sudah melahirkan sejumlah lembaga pendidikan lainnya. Seperti IAIN Imam Bonjol juga lahir dari PGAI. (tin)





