METRO BISNIS

Sumbar Miliki Potensi Kopi Arabika Terbaik, Proses Pengelolaan Butuh Standarisasi

0
×

Sumbar Miliki Potensi Kopi Arabika Terbaik, Proses Pengelolaan Butuh Standarisasi

Sebarkan artikel ini
Audiensi Pengurus Asosiasi Kopi Minang dengan Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, Senin (7/6) di ruang kerja Wakil Gubernur Sumbar.

PADANG, METRO–Asosiasi Kopi Minang merupakan organisasi yang anggotanya terdiri dari petani, coffee shop hingga barista di Provinsi Sumbar, dengan jumlah keanggo­taabn mencapai 160 orang. Organisasi ini hadir dengan program dan kegiatannya fokus pada pengembangan brand kopi di Sumbar.

Ketua Asosiasi Kopi Minang, I Putu Mulya A­gung Wahyudi menga­ta­kan tujuan organisasi ini hadir, agar nama kopi dari Sumbar terangkat di ra­nah­nya sendiri.

“Kita ingin nama kopi Sumbar terangkat di ranah kita sendiri dulu, baru bi­cara nasional dan luar negeri. Sumbar penghasil kopi ternyata selama ini masyarakatnya masih meng­gunakan kopi dari luar, seperti kopi dari Medan, Sumatera Utara,” ungkap Putu, usai audiensi dengan Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar, Audy Joinaldy, Senin (7/6) di ruang kerja Wagub Sumbar.

Putu menambahkan, selama ini kendala dalam memasarkan kopi asal Sum­bar, lebih kepada konsistensi produk. Di Sumbar ada lima hingga enam titik daerah penghasil kopi. Namun, masing-masing daerah me­miliki kondisi tantangan geografis yang berbeda. Sehingga, dibutuhkan kon­sistensi dalam proses pa­nen sampai menghasilkan biji kopi mentah.

“Karena itu perlu dise­ra­gamkan standar proses­nya pengolahannya hingga panen menjadi biji kopi dengan  standar kopi yang baik. Seperti sentra peng­hasil kopi di Solok dengan kopi Solok Radjo, yang proses pengelolaannya mulai dari menanam hing­ga panen dan meng­hasil­kan biji kopi mentah yang sudah memenuhi standar yang baik” harapnya.

Putu mengungkapkan, kopi specialty terbaik yang dimiliki Sumbar saat ini adalah jenis arabika. Kopi jenis ini jumlahnya tidak banyak tapi kualitasnya terbaik. “Dengan jumlah sedikit tapi dijual dengan kopi kualitas yang sangat bagus. Kita hadir untuk mengelola dan mengajak petani serta edukasi ma­sya­rakat bahwasannya ini lo kopi terbaik di Sumbar. Bagaimana masyarakat Sumbar tahu dan menya­dari kita punya potensi kopi terbaik,” ujarnya.

Jadi Asosiasi Kopi Mi­nang, menurutnya, menga­wali program dan kegia­tannya untuk mengangkat brand kopi Minang, dengan melakukan standarisasi proses pengelolaannya. Sehingga hasilnya konsis­ten dan pada akhirnya me­miliki value atau nilai jual. Cara lainnya, mengangkat nilai produk dari sisi marketing. Seperti silahtu­rah­mi ke OPD di lingkungan Pemprov Sumbar dan Gu­bernur serta Wagub Sum­bar.

Pembina Asosiasi Kopi Minang, Fajaruddin me­nga­takan, hadirnya kopi specialty arabika ini sudah berjalan selama 10 tahun. “Kita ingin mendorong le­bih baik lagi, supaya kopi arabika ini masuk dalam standar specialty premium. Butuh luasan dan produksi yang bertambah, karena permintaan untuk kopi stan­dar specialty premium meningkat,” ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sum­bar itu juga berharap Aso­siasi Kopi Minang dapat menjadi mitra Pemprov Sumbar dan OPD terkait. “Kita ingin menyampaikan, inilah program dan ke­giatan kami. Kami ber­harap ada kegiatan dan program di Pemprov Sum­bar terkait dengan kopi ada keterlibatan Asosiasi Kopi Minang,” harapnya.

“Anggota Asosiasi Kopi Minang  bergerak tidak hanya di bidang kopi saja tapi juga komoditi lain. Bisa sayur, kol dan bawang dan lainnya. Kita akan ga­bu­ng­kan dengan program pa­riwisata. Sehingga terin­tegrasi seperti yang dila­kukan di Solok melalui Solok Radjo. Selain kopi di sana juga sudah mema­sarkan agro wisata. Jadi sudah ada yang mulai,” ungkapnya.(fan)