SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Bakaua Adat di Nagari Muaro Takuang, Ajang Kebersamaan Menyambut Ramadhan

0
×

Bakaua Adat di Nagari Muaro Takuang, Ajang Kebersamaan Menyambut Ramadhan

Sebarkan artikel ini
SIRIH CARANO—Bakaua Adat di Nagari Muaro Takuang. Bupati Sijunjung Benny Dwifa, Wabup Iraddatillah dan Bupati Dharmasraya, Sutan Riska disambut dengan suguhan sirih dalam carano.

SIJUNJUNG, METRO
Wujud syukur masyarakat Nagari Muaro Takuang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung disampaikan dalam kegiatan Bakaua Adat. Para tokoh berkumpul, masyarakat nagari bersuka ria memanjatkan doa kepada Yang Kuasa, memohon kesejahteraan di nagari. Ladang manjadi taranak bakambang, nagari aman masyarakat sejahtera. Itulah harapan pada kegiatan Bakaua Adat. Perekonomian meningkat, nagari aman serta memberikan kesejahteraan dalam kehidupan.

Bakaua sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Muaro Takuang. Kegiatan dilaksanakan apabila musim hujan telah tiba, persawahan digenangi air dan siap ditanami kembali. Biasanya didalam bulan Sya’ban, menjelang masuknya bulan suci Ramadhan.

Jika waktu Bakaua sudah tiba, orang-orang akan ramai di jalan. Hampir seperti perayaan hari lebaran. Masyarakat bergotong royong agar acara berjalan lancar dan khidmat. Nilai kebersamaan dan kekompakan yang tetap terjaga hingga kini.

Bakaua digelar satu kali dalam dua tahun, menjelang memasuki tahun ketiga. Momen dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan menjaga kebersamaan serta saling bermaafan menyambut bulan Ramadhan. Bakaua dipusatkan di Tampat yaitu, sebagai tempat sejarah dan makam para nenek moyang pendiri nagari Muaro Takuang, Minggu (21/3).

Pada acara tersebut masing-masing suku akan melakukan penyembelihan kerbau, kemudian dimasak bersama untuk dihidangkan pada saat acara makan bajamba dengan para tamu undangan. Bakaua tahun ini, sebanyak 7 ekor dari setiap suku-suku yang ada di Nagari Muaro Takuang disembelih.

Uniknya, pada kegiatan itu seluruh datuak (pemimpin suku) duduk bersama di makam keramat nenek moyang nagari Muaro Takuang untuk melakukan ziarah, doa bersama, bershalawat dan saling bermaafan. Masyarakat setempat menjadikan lokasi makam tersebut sebagai tempat pelaksanaan acara Bakaua Adat, sebagai bukti penghormatan dan penghargaan kepada nenek moyang terdahulu, pendiri nagari.

Kaum Bundo Kanduang (Ibu-ibu) berbaris dengan pakaian adat, sambil menjunjung Jamba (makanan) untuk hidangan tamu dan undangan, termasuk hidangan daging kerbau yang telah dimasak secara bersama sebelumnya. Selain itu, Setiap tamu yang hadir akan membawa oleh-oleh berupa Lamang Barambai (lemang ketan yang dihiasi bunga) sebagai buah tangan dibawa pulang.

“Setiap tamu undangan yang hadir akan diberikan Lamang Barambai, sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang. Itulah salah satu bedanya pelaksanaan Bakaua Adat di nagari Muaro Takuang ini dengan yang lainnya,” tutur Yuswir Arifin, Dt.Indo Marajo tokoh masyarakat setempat.

Bupati Sijunjung, Benny Dwifa bersama Wabup Iraddatillah Radi hadir pada acara Bakaua itu. Bahkan Bupati Dharmasraya, Sutan Riska juga menyempatkan diri untuk hadir. Para datuak, penghulu, ninik mamak dan tokoh masyarakat memakai baju adat. Diarak sepanjang nagari menuju Tampat, lokasi acara Bakaua.

Bupati Benny Dwifa mengungkapkan rasa bangga atas pelaksanaan Bakaua Adat yang telah menjadi budaya masyarakat di Nagari Muaro Takuang. “Banyak makna yang terkandung dalam pelaksanaan kegiatan Bakaua Adat yang merupakan alek nagari ini. Rasa kebersamaan, sifat gotong-royong terlihat pada masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Semoga nilai-nilai tersebut dapat dipertahankan dan diturunkan kepada anak cucu nantinya,” ujar Benny.

Sebelum makan bajamba, para tokoh adat, ninik mamak dan para tokoh masyarakat nagari akan berdoa dan bershalawat bersama di makam nenek moyang, Nagari Muaro Takuang. Disini semua tokoh itu di sumpah untuk selalu bersatu demi kepentingan masyarakat banyak, kemudian saling bermaafan. Setiap pimpinan suku akan mewakili anak, cucu dan kemenakannya.

Semua persoalan yang pernah terjadi selama ini akan selesai dan berdamai disini. Tidak ada dendam, dan memulai untuk menjalin rasa persatuan kembali. Memohon rahmat dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa, demi kesejahteraan masyarakat nagari. (ndo)